KEKUATAN ALAM

KEKUATAN ALAM
Sang Tertinggi.


__ADS_3

Semakin lama, mata Malika semakin mengecil, akibat rasa lelah yang mulai mengalahkan ketakutannya. Ia lalu tertidur dengan cara bersandar duduk pada tembok rumah tersebut.


-


-


-


☆☆☆☆☆


Kini, waktu pun sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Burung-burung mulai berkicau menyambut sang surya yang perlahan menerangi hari. Malika yang sejak tadi sudah bangun, sekarang sedang berjalan tanpa arah, untuk melihat situasi saat ini.


Dan benar saja, kedua mayat itu sudah di temukan oleh para warga. Lagi-lagi, peristiwa tersebut harus menumbuhkan kehebohan di sepanjang Desa Avalon.


Kerumunan warga kini terlihat melingkari kedua mayat itu. Perlahan, Malika juga pun ikut masuk ke dalam kerumunan tersebut, sembari memasang wajah yang pura-pura.


Namun, Malika merasa aman kali ini, lantaran para wara menuduh kalau monsterlah yang menyebabkan hal tersebut. Pada akhirnya, kedua mayat itu langsung di bawa menuju tempat pemakaman.


"Selamat .. aku selamat .." batinnya yang kemudian menghembuskan nafas lega.


-


-


-


☆☆☆☆☆


Ketika waktu mulai berputar pada jam sembilan, lebih tepatnya di gerbang utama Desa, terlihatlah lima kereta kencana yang masuk secara berurutan, bersama beberapa pasukan berzirah yang menunggangi kuda.


"Mereka datang!" teriak salah seorang warga yang ikut membukakan pintu gerbang Desa.


Masing-masing dari kereta itu terlihat mewah. Pasukan berkudanya juga terlihat tangguh, bagaikan ksatria yang gagah berani. Benar-benar penjemputan yang mampu memeriahkan suasana seisi Desa.


Di sela-sela kereta-kereta yang masuk, kelima murid juga sudah tengah berbaris menunggu waktunya untuk berangkat. Gazzel, Senju dan Antonov juga terlihat berada di belakang barisan para murid.


Banyaknya warga yang ikut mengerumuni suasana, membuat posisi Malika jadi bisa tersamarkan dengan baik, ketika melihat Linanzha yang berbaris di kejauhan sana. Tak lama kemudian, Malika lalu bergegas dari situ, untuk pergi ke suatu tempat.


Perlahan, salah satu prajurit dari pasukan berkuda tadi pun turun dan melangkah ke arah para murid. Ia kemudian membuka helm besinya dan berkata,


"Sudah saatnya. Ayo."

__ADS_1


Satu persatu dari kelima murid lalu melangkah masuk ke dalam masing-masing kereta. Orangtua dari mereka kini hanya bisa memasang wajah yang terharu. Hanya Martislah yang terlihat di wakili oleh sang Paman.


Linanzha terus menoleh kesana-kemari, demi mencari keberadaan Malika. Namun hanya ada suara dari kedua orangtuanya, yang mengucapkan salam perpisahan dengan suara bergetar, akibat menahan tangis.


"Sampai jumpa, Linanzha! Jangan lupa kirim surat buat kami!" seru sang Ayah sembari melambaikan tangan.


Di detik-detik itu juga, Gazzel sedang terlihat berbicara dengan salah satu prajurit lainnya. Wajahnya juga tampak kesal saat menatap prajurit tersebut.


"Kami ingin bantuan dari kerajaan! Bagaimanapun juga, kami berhak di lindungi!" keluh Gazzel kepada prajurit itu.


Prajurit pun membalas, "Kami sudah berusaha. Tapi, masih banyak Desa lainnya yang membutuhkan perlindungan. Sudah ada banyak Desa yang di serang akhir-akhir ini. Beruntunglah Desa kalian, lantaran tidak bernasib seperti salah satu Desa di bagian barat."


"Beruntung? Beruntung?!" Gazzel memasang wajah murka dan menendang dada prajurit itu, hingga terundur dua langkah, "Tiga puluh enam warga tewas dan kau bilang beruntung?! Bagaimana mungkin Kerajaan tidak cepat tanggap kepada kami, yang sudah membayar pajak bulanan dengan harga tinggi!"


Suasana berubah menjadi runyam. Warga yang sedang menonton, kini mulai mendukung perkataan Gazzel. Mereka berkoar-koar dalam menyampaikan keresahan tanpa jeda.


Prajurit itu lalu maju ke arah Gazzel untuk melakukan kontak mata, dengan posisi wajah yang cukup dekat. Gazzel tak mau kalah dan ikut membalas tatapannya.


"Ada lebih dari 367 Desa yang bernaung di dalam kerajaan Labbrax, nona! Belum lagi ulah sekumpulan pemberontak yang tak habis jumlahnya seperti para monster! Kami sudah berusaha semaksimal mungkin dalam mengurangi jumlah korban! Kau pikir, kami tidak kesusahan, hah?!" jelas sang prajurit itu dengan geram.


"Cih! Pantas saja semakin banyak pemberontak, lantaran orang-orang merasa, kalau kerajaan tidak bisa memberikan kemakmuran!" balas Gazzel dengan mamasang senyuman yang menantang.


"Kau!" prajurit itu lalu mencabut pedang dan menghunuskannya ke leher Gazzel.


Dan pada akhirnya, kelima kereta itu pun mulai berjalan dan meninggalkan gerbang Desa menuju dermaga. Jika melakukan perjalanan darat saja, maka membutuhkan waktu hingga lima hari menuju perkotaan. Mereka harus menggunakan kapal, agar bisa memotong empat hari perjalanan.


Ketika kereta-kereta itu sudah sedikit jauh dari Desa, suara teriakan yang memanggil nama Linanzha pun terdengar lantang dari arah bukit. Ya, Ternyata Malika sudah menunggu di tempat tersebut.


"Linanzha?! Kalahkan mereka! Bakar! Bakar semuanya yang ingin menghalangimu!"


Linanzha mendengar itu dan mengintip dari jendela kereta. Tak hanya Linanzha, semuanya juga ikut menoleh ke arah bukit. Linanzha lalu tersenyum dan melambaikan tangan, sembari menahan air mata yang perlahan turun membasahi pipinya.


"Jaga dirimu, Malika!" balas teriakannya yang masih saja melambaikan tangan.


Perlahan, kereta-kereta itu pun semakin jauh. Malika kemudian memalingkan wajahnya dan segera bergegas menuju Desa, untuk menemui Gazzel.


"Sekaranglah saatnya .."


-


-

__ADS_1


-


-


-


☆☆☆☆☆


Sementara itu, di suatu tempat yang jauh dari dunia manusia, ada sebuah istana yang terlihat suram di bawah langit tak biasa. Tanahnya begitu tandus dan di penuhi oleh monster-monster primitif berbagai bentuk.



Di dalam istana tersebut, lebih tepatnya di depan singgasana, Morca dan Alkila sedang terlihat berdiri, sembari menundukkan wajah di depan sang Tertinggi.


Ukuran sang Tertinggi terbilang biasa-biasa saja. Bahkan Morca terlihat lebih besar darinya. Ia kini sedang menatap mereka berdua, dengan wajah yang bisa membuat siapapun akan mati ketakutan.


Di sebelah kiri dan kanan sang Tertinggi, ada empat wanita monster yang sedang menggerayangi tubuhnya dengan manja. Benar-benar pelayanan yang terbaik.


"Oh Rajaku, yang maha pengasih dan maha mengampuni. Apakah yang harus hamba lakukan untukmu?" ucap Alkila yang masih saja menundukkan wajah.


"Seperti yang telah kau sampaikan kemarin, Alkila. Aku telah memutuskan bahwa Desa yang bernama Avalon itu, untuk tidak di ganggu," jawab sang Tertinggi.


"Lantas, kenapa Desa itu di biarkan saja, Rajaku? Bukankah, para serangga itu sudah membunuh salah satu dari panglima anda?" sambung Morca yang ikut memasuki percakapan.


"Kau menyebut si bau kencur itu adalah panglima? Hahaha .. dia bukanlah apa-apa, ketimbang yang lainnya. Dia hanyalah anak kemarin sore. Aku tidak rugi jika kehilangan si bodoh itu."


"Kalau begitu, kenapa anda membiarkan Desa itu begitu saja, Rajaku?" tanya Alkila kembali.


"Seperti yang kau bilang, bahwa ada anak yang bisa mengendalikan kegelapan di Desa tersebut. Biarkan Desanya tetap tentram, agar anak itu merasa aman dan tidak lari kemana-mana."


Sang Tertinggi lalu berdiri dari singgasananya dan melangkah ke arah mereka berdua. Kedua tangannya lalu memegang kepala Morca dan Alkila dengan lembut.


"Sudah saatnya kalian menjadi lebih kuat. Terimalah hadiah dariku."


Kedua telapak tangannya langsung memancarkan sinar merah hitam yang bercampur. Alkila dan Morca sedikit menahan sakit, akibat sang Tertinggi yang sedang menyalurkan sejumlah energi besar kepada mereka.


"Kalian adalah pengintai terbaikku. Aku ingin kalian lebih berhati-hati lagi dalam mengintai Desa lainnya. Jika kalian menemukan serangga yang kuat, beritahu aku terlebih dahulu."


"Baiklah Rajaku," balas Alkila dan Morca secara bersamaan.


"Kerajaan Labbrax, hah? Haha! Biarkan semua murid dari berbagai Desa untuk berkumpul dalam satu tempat. Setelah itu, siapkan seluruh pasukan, untuk memburu dan membunuh mereka semua!" tegas sang Tertinggi sekali lagi.

__ADS_1


"Baik, Rajaku!" balas mereka berdua.


-FOLLOW ME-


__ADS_2