
"Biarkan saja mereka sebentar, Gazzel. Ada yang ingin ku bicarakan lagi padamu," kata Valun dengan serius.
"Apa itu, Tuan?" Gazzel menoleh pelan ke arah Valun.
Valun kemudian membuka laci kecil dari mejanya dan mengambil secarik kertas, "Lihatlah .." sembari menunjukkan gambar simbol semalam.
Akhirnya, Valun pun menceritakan semuanya secara rinci kepada Gazzel. Ya, wajah Gazzel kini menjadi terkejut, akibat mendengar tiap kata yang terucap dari bibir sang Guru besar.
"R-amalan Desa?! Bagaimana bisa ramalan Desa menunjukkan simbol elemen?" tanya Gazzel yang kebingungan.
"Dan lebih menariknya lagi, simbol itu tidak terdaftar di buku sejarah," Valun kembali membuat Gazzel semakin terkejut.
"Eh?!" Gazzel menatap Valun dengan mulut yang kini sedikit terbuka, sekaligus mengucurkan sebulir keringat di pipinya.
Valun kemudian melangkah ke arah jendela, "Jika saja di dekat sini, ada orang yang di anugrahi elemen seperti milikku, ia pasti sudah meramalkan hal yang sama," jelasnya sambil menatap awan.
"Lantas, simbol elemen apa ini, Tuan?" tanya Gazzel yang semakin penasaran.
"Sayangnya, aku juga tidak tahu. Elemen itu mungkin akan di miliki oleh salah seorang murid di sekolah ini, atau calon murid yang akan segera mendaftar," jawab Valun yang kemudian menyimpulkan kedua tangannya ke belakang.
__ADS_1
Pipi Gazzel masih saja mengucurkan keringat. Kabar unik itu, lebih mendominasi pikirannya sekarang, ketimbang masalah yang lain. Ia seperti tak percaya kalau cepat atau lambat, akan melihat hal yang terdengar seperti sebuah keajaiban itu, dengan mata kepalanya sendiri.
Setelah sekian lama berbincang-bincang, Valun pun menyuruh Gazzel membangunkan Malika dan Linanzha, untuk memberitahukan alasannya memanggil Malika.
Alasannya Valun ingin berbicara dengan Malika, adalah untuk berterima kasih, lantaran Malika sudah membuat Linanzha, mempunyai peluang untuk menjadi Calon Sentinel yang terekomendasi. Namun, karena Linanzha sudah turut hadir disitu, ia pun terpaksa memberitahukannya secara langsung.
"B-enarkah itu, Guru?!" Mata Linanzha terbuka lebar, akibat terkejut mendengarnya.
"Tentu saja. Setelah aku mengirimkan surat ini ke Akademi Angelo, pihak mereka akan datang untuk melihat bukti, sekaligus memberikan perlindungan lebih bagi Desa Avalon," jelas Valun sembari tersenyum memperlihatkan amplop yang sudah tertutup rapat.
"Tapi, kenapa harus berterima kasih padaku, Kek?" tanya Malika yang bingung.
Kini, Linanzha tak perlu lagi takut kehabisan tempat, saat mendaftar di Akademi yang bernama Angelo. Ia hanya akan langsung terdaftar sebagai calon murid dan mengikuti ujian tahap pertama.
Linanzha terlihat bahagia. Senyumannya semakin manis saat sesekali menoleh Valun dan Malika. Itu adalah kabar yang paling membahagiakan, lantaran kuncinya menuju sukses, semakin terlihat.
Sedangkan Malika kini hanya membantin kesal, "Apa-apaan kakek tua ini .. kenapa memanggilku hanya untuk memberikan kabar tentang Linanzha? Kau mengganggu hari-hariku, tua bangka .." sembari memasang senyuman kaku.
"Siapa namamu, anak muda?" tanya Valun yang tiba-tiba.
__ADS_1
"Malika, Kek," jawabnya dengan singkat.
"Malika? Gazzel sudah menceritakan semuanya. Aku tahu, kau pasti sedang kesulitan saat ini. Sebagai rasa terima kasihku, bagaimana jika ku beri kau pekerjaan?" Valun tersenyum saat menawarkan hal itu.
"Yang benar saja, Kek!" jawab Malika yang tiba-tiba saja memasang wajah senang.
"Ya. Setelah aku berbicara tentang permasalahan ini kepada Kepala Desa nanti, aku yakin, dia akan sepakat untuk kembali membuat regu Polisi Desa. Maukah kau menjadi salah satu dari Polisi Desa?" tawar Valun kembali.
"P-olisi Desa? Tentu saja aku mau, Kek! Tapi, kenapa harus aku? Bukankah, Polisi Desa itu, harus tahu ilmu bela diri?"
Tiba-tiba, tanpa di sangka-sangka, salah seorang murid terbaik, masuk ke ruangan Valun begitu saja, dengan wajah yang tidak sabaran untuk memberikan sebuah kabar. Ya, ia adalah Martis.
"Selamat pagi, Guru? Guru, Ini gawat!" kata Martis yang tanpa lagi berbasa-basi.
"Martis?! Biasakah kau sopan sedikit?! Tidakkah kau melihat kalau Tuan Valun sedang berbicara?!" bentak Gazzel.
"Maafkan aku, Guru Gazzel! T-api .. pagi tadi, aku ta .. a .." ucap Martis yang terpotong, akibat terkejut melihat Malika yang juga sedang melihatnya.
Betapa kagetnya Malika ketika melihat Martis, "Hiii .. aku terkepung .." dengan mata yang hampir copot.
__ADS_1
-FOLLOW ME-