
"Apalagi ini .. kenapa monster ini mengatakan hal yang aneh-aneh, hah? Kegelapan .. tolong aku .." Malika membatin panik, jakunnya terus bergerak menelan ludah.
Makunamu lalu mengintip lorong lainnya dan kembali menatap Malika, "Jangan menegurku jika berada di tengah-tengah mereka. Sampai jumpa," sembari memberikan senyuman perpisahan dan pergi begitu saja.
Di saat Makunamu semakin jauh, Malika pun mengintipnya, lalu kembali bersandar pada tembok dan menghelai nafas yang panjang.
"Huufft .. apa itu tadi? Apa yang dia maksudkan? A-a-apa dia ingin meniduriku? I-i-itukan, mengerikan .." gumamnya yang memasang tatapan kosong.
Seketika, sang Kegelapan mulai mengambil alih tubuhnya dan membatin, "Kau beruntung, Malika .. Sekarang, jangan hanya mencari-cari kesalahan tentang tindakannya yang terlihat manis di depanmu .. berusalah mencari tahu, apakah dia benar-benar menyukaimu, atau sedang mencurigai sesuatu .. Jarang ada kesempatan seperti ini .."
"T-tapi? Jika dia lebih setia pada Mexuca, bagaimana?" balas jiwa Malika.
"Buat dia puas .. jilat selangkangannya .. atau apapun yang biasa makhluk hidup seperti kalian lakukan .."
"Hah? Kalau bau bagaimana?! Dia kan .. monster!" Malika emosi saat mengatakan itu.
"Duniamu akan hancur jika kau tidak mendengarku, Malika .. tidak usah berdebat denganku .. lakukan saja .."
Dan Malika pun kembali seperti semula. Itu sungguh di luar kendali, lantaran Malika hanyalah anak yang masih berusia 16 tahun. Ia belum tahu apapun tentang cara menyenangkan seorang wanita, terlebih lagi monster wanita.
-
-
-
-
-
☆☆☆☆☆
Sementara itu di Kerajaan Labbrax, lebih tepatnya di perkotaan,
"Aku ingin mati .. aku .. Ayah .."
"Hahaha .. Raja kita bodoh! Hahaha!"
"Untuk .. apa .. berperang .."
Itulah kumpulan kata dari sebagian besar prajurit yang terkena Kabut milik Antares. Kabut itu menyebar dan membius lebih dari 300.000 prajurit di seluruh kota, termasuk para warga yang berada di dalam rumah sekalipun. Bagaikan kesurupan massal, malam itu terdengar sangat ribut akan suara-suara gila para prajurit yang saling bercampur aduk.
__ADS_1
Sebagian prajurit yang masih sadar, hanya kebingungan, mencoba memberikan pertolongan medis, berupa obat-obatan herbal dan semacamnya. Namun, percuma saja. Tak ada yang mujarab menyembuhkan hal aneh tersebut.
Sedangkan para Xenel, Lionel dan seluruh Kapten, mereka hanya bersarang di tiap-tiap bagian istana. Itu terlihat seperti pertahanan terakhir bagi kerajaan, jika suatu ketika semua prajurit akan mengalami penyakit yang sama.
-
-
-
-
-
☆☆☆☆☆
Sementara itu di ruangan singgasana kerajaan monster,
"Apa yang bocah itu lakukan sejak tadi?" Mexuca menatap Makunamu penuh selidik.
"Dia hanya berjalan-jalan dan hampir tersesat, Rajaku," balasnya menatap lantai, meraut senyum tak berdosa.
Tak lama kemudian, Malika pun kembali menjadi perhatian. Ia lalu di hadapkan oleh tiga orang manusia yang baru saja di tangkap, dalam keadaan terikat dan terduduk di lantai ruangan singgasana. ketiga tumbal tersebut, berupa dua pria dewasa dan satu bocah perempuan.
Ketiga manusia itu menangis meminta ampun. Mereka tak kuasa memandang makhluk-makhluk tak biasa. Suara tangisan si bocah perempuanlah yang paling mendominasi batin Malika. Ia tak sanggup mendengarkannya.
"Apa lagi yang kau tunggu? Cepat selesaikan. Ada satu hal yang harus kau lakukan setelah ini," ujar Mexuca santai, mengacuhkan ketiga manusia itu.
"Makhluk ini .. aku muak melihatnya .." Malika menatap tajam ke arah Mexuca.
"Apa-apaan tatapanmu itu?" Mexuca lalu mulai berdiri dan berjalan ke arahnya.
Malika hanya berusaha tegar, menunggu langkah Mexuca yang semakin dekat dan terlihat jelas mengepalkan kedua tangan. Mexuca lalu menatap tajam wajahnya dan berkata,
"Jangan merasa sombong hanya karena kau wadah kegelapan, bocah! Jika sudah ku perintahkan, maka lakukanlah!"
"B-baik .. baiklah .." balas Malika yang semakin melirih, akibat menahan ketakutannya menatap Mexuca.
Dengan terpaksa, Malika pun mengeluarkan Tentaclenya yang berjumlah empat ekor, untuk membunuh ketiga tumbal tadi. Semua Jendral langsung terpaku melihatnya. Bagaikan sesuatu yang memuaskan hasrat pribadi, empat ekor hitam itu membuat Makunamu seperti terangsang dan menggigit pelan jarinya sendiri.
Secara perlahan, tiga dari empat ekor mulai melilit erat leher mereka, mengangkatnya ke udara dan membiarkan mereka tergantung kehabisan nafas. Malika tak sanggup menatap bocah itu saat tercekik. Ia memalingkan wajah ke arah lain, serta memasukan kedua tangan ke dalam saku.
__ADS_1
"Begitulah cara kerjanya. Dengarkan perintahku, maka kau akan baik-baik saja," Mexuca lalu kembali menduduki singgasana.
Malika mulai merasakan panas di kedua bola mata. Ia kini hanya berusaha tegar menahan pilu, mendengar jeritan bocah tadi di dalam pikirannya. Setelah itu, ia lalu menaruh ketiga mayat ke lantai secara perlahan.
"Bocah? Siapa namamu?" tanya Mexuca tiba-tiba.
"Malika," jawabnya singkat.
"Malika? Tengah malam nanti, aku mau kau pergi ke duniamu, untuk memimpin Pasukan Aliansi Pemberontak di gunung Ababel. Morca dan Alkila akan mengantarmu, sekaligus memberitahukan bahwa kaulah utusanku. Tunjukkan kesetiaanmu, Malika!"
Malika hanya menahan wajah biasa, tetapi tidak dengan batinnya, "M-m-manusia dan monster, saling bekerja sama? Hei .. kegelapan .. bagaimana ini .. kita semakin jauh darinya .."
Tetapi, jauh di dalam tubuh Malika, sang Kegelapan sedang melihat dan memilah bermacam-macam aura yang kini sedang bersambungan satu sama lain. Aura Mexuca bercampur aduk dengan keturunannya sendiri.
Hanya saja, ada aura biru gelap yang begitu lemah, akibat tertimbun dalam aura Mexuca, bagaikan jarum dalam tumpukkan jerami. Namun, sang Kegelapan tahu, kalau kontrak darah itu tersimpan di salah satu bagian tubuh Mexuca.
Seketika, Malika pun di kontrol kembali. Sepasang mata hitam pekat mulai tercipta di bola matanya, menatap sang Tertinggi Mexuca dan berkata,
"Aku sangat senang, jika bisa memimpin pasukan serangga dan membuat mereka saling membunuh satu sama lain di peperangan nanti. Tetapi, Anak ini butuh bimbingan. Ia masih bocah dalam menjadi seorang pemimpin, Mexuca."
"Apa maumu? Katakan saja," balas Mexuca singkat.
"Aku ingin meminjam salah satu dari Jendralmu. Aku punya rencana lainnya, dalam memecahkan persatuan prajurit gabungan mereka."
"Bagaimana rencananya?"
"Dengan memanfaatkan kekuatan Makunamu yang bisa mengubah diri menjadi orang lain, ia bisa memecah belah antar prajurit dengan menyamar menjadi salah satu dari mereka. Tenang saja. Aku akan menjaganya. Lagipula, kau ingin melihat kinerja bagus para Jendralmu, bukan?"
Mexuca hanya tersenyum mendengar rencana sang Kegelapan. Entah sang Kegelapan yang terlalu cerdas, atau Mexuca yang memang terlalu bodoh, hingga tak bisa berpikir seperti demikian.
"Cukup mengesankan. Kapan kau akan melakukannya?" tanya Mexuca.
"Tengah malam ini. Jika kau berkenan," sang Kegelapan menundukkan wajah Malika, memberi hormat membesarkan kepala Mexuca.
Mexuca pun berkata, "Makunamu? Ikuti sang Kegelapan dan lancarkan rencananya. Ingat, jangan sampai gagal!"
Makunamu hanya menekuk satu lutut, menundukkan wajah dan meraut senyum tanpa dosa, "Hamba tidak akan mengecewakan anda, Rajaku."
Sedangkan Malika yang sejak tadi hanya mendengar dari dalam tubuh sendiri, langsung melempar tanya, "Bukankah, kita akan semakin jauh darinya, hah?"
"Tenanglah, Malika .. ia tidak akan menggunakannya sebelum melihat pasukannya berperang terlebih dahulu .. lagipula, Makunamu sudah berada di dekat kita .. kuserahkan bagian Makunamu padamu .. tanyakan padanya, seperti apa bentuk kontrak darah itu dan di bagian tubuh mana kontraknya terletak .. saatnya menjadi dewasa, Malika .."
__ADS_1
-FOLOW ME-