
"Tapi, di buku sejarah menyebutkan .. ka-kalau pendekar itu .. m-m-membunuhnya dengan hanya bermodalkan beladiri saja, kan?"
Sosok mengerikan itu lalu membalas dengan geram, "Kau pikir, tenaga dalam dari ras kalian bisa dengan mudahnya membunuh sosok yang di karuniai dua kekuatan alam sekaligus? Jangan bercanda!"
Habis sudah pikiran Malika dalam menanggapi hal itu. Mulai dari sejarah yang sebenarnya, hingga darah ras biadab yang kini tengah mengalir dalam tubuhnya.
"Tidak usah memasang wajah yang seolah-olah kau adalah wanita suci ternodai, Malika! Berhentilah seperti itu dan bersiaplah dari sekarang! Duniamu akan menjadi medan perang seperti saat pertama kali! Sampai jumpa lagi, serangga!"
"Heh? Tunggu .. ak .."
Dan ..
-
☆☆☆☆☆
Malika pun tiba-tiba saja membuka matanya. Kali ini, ia hanya terbangun seperti biasa. Hal tadi membuatnya kini sedikit kesulitan untuk tidur. Ia benar-benar merasa belum siap dengan apa yang akan terjadi suatu saat nanti.
-
-
-
-
-
☆☆☆☆☆
Kini, waktu sudah berganti pagi. Mentari sudah menyilaukan cakrawala yang rindu akan kehangatannya. Di sela-sela itu juga, terdengar suara dua gadis kecil kembar, yang sedang berlarian gembira di halaman rumah.
Perlahan, Malika mulai terbangun dari tidurnya. Setelah itu, ia kemudian mencari Martis. Martis kini terlihat sedang memasak, untuk sarapan sang Ibu dan kedua adiknya.
"Hei?" tegur Malika dengan tiba-tiba.
"Oh, hei? Tunggulah sebentar lagi. Aku sedang memasak sesuatu. Kau lapar bukan?" balasnya.
"Hehe .. Ya .. terima kasih .." Malika hanya menggaruk-garuk kepala sembari tersenyum.
Dua menit kemudian, sarapan pun siap untuk mereka semua. Sang Ibu yang tak bisa bergabung di meja makan, hanya bisa menikmatinya di atas ranjang, sembari di suap oleh anak pertamanya itu.
Sedangkan Malika, ia kini tengah bersarapan dengan kedua adik Martis. Mereka bertiga saling berbincang satu sama lain. Tak lama kemudian, setelah semuanya selesai, Malika pun memutuskan untuk pamit.
"Hei, apakah sebentar kau akan datang ke pemakaman?" tanya Martis yang tiba-tiba.
"Ya. Sampai jumpa di pemakaman. Terima kasih untuk semuanya, Tis."
"Tis?"
"Ya, itu nama panggilanmu." Malika lalu menjulurkan lidahnya.
"Kurang ajar .." Martis sedikit kesal dan menutup pintu begitu saja.
__ADS_1
Kini, Malika memutuskan untuk mandi di sebuah sungai yang tak jauh dari Desa Avalon. Hanya butuh waktu dua belas menit saja, dalam menempuh perjalanan tersebut.
Ketika sudah sampai, ia akan berendam dengan santainya, hingga berjam-jam. Hari yang panas itu menjadi segar, ketika ia berendam di tengah sapuan arus sungai yang mengalir lembut.
Tiba-tiba, ada beberapa rombongan wanita yang sedang ingin mencuci, sekaligus mandi di sungai tersebut. Hal itu membuat Malika kadang tak mampu melawan hawa nafsunya sendiri.
Malika hanyalah manusia biasa. Tentu saja ia akan berbuat nakal. Ia begitu penasaran akan tubuh wanita. Perlahan, ia mulai menyelam dan mengangkat sedikit kepalanya, agar bisa mengambil jarak yang pas dalam mengintip.
Namun sialnya, ada salah satu wanita yang melihat setengah kepala Malika di atas air. Sontak saja, ia langsung menjerit dan membuat semua wanita lainnya ikut ketakutan.
"Kyaaa! Ada pemerkosa!"
Malika lalu di hujani batu oleh mereka. Untungnya, mereka tak melihat wajah Malika dengan jelas. Malika langsung menyebrang ke sebelah sungai dan berlari ke arah hutan dengan masih bertelanjang bulat.
Ia lalu memakai bajunya di dalam hutan, kemudian memasuki Desa dengan cara memutari tembok bagian barat. Setelah masuk, ia pun kembali melakukan aksi mencopetnya, sembari menunggu waktu pemakaman yang akan di mulai sebentar lagi.
-
-
-
-
☆☆☆☆☆
Ketika waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang, semua warga pun sudah terlihat berkumpul, sambil menguburkan para korban di tempat pemakaman.
Di sisi lain, Gazzel dan Senju sedang menabur bunga, di atas makam milik sang Guru besar. Terlihat jelas, ada selembar foto Valun yang tertempel di depan batu nisan.
Acara pemakaman massal itu, berlangsung hingga dua jam lamanya. Di detik-detik waktu yang sedang berjalan, ketika sebagian orang mulai perlahan meninggalkan area pemakaman, secara tak sengaja, Gazzel dan Ibu Linanzha saling melakukan kontak mata.
Gazzel takkan mungkin akan melupakan kejadian yang dimana, Malika pernah ingin di bunuh oleh orang tak di kenal. Melihat semua kekuatan sang Ibu, Gazzel tahu, dialah orangnya.
Perlahan, Gazzel pun mendekat ke arah sang Ibu untuk sedikit berbincang-bincang. Mereka berdua kini saling membalas tatapan dingin.
"Sebenarnya, siapa kau?" tanya Gazzel yang tak lagi berbasa-basi.
"Aku hanyalah mantan Guru dari Desa yang jauh dari sini," balas sang Ibu yang kemudian menatap ke arah lain.
Gazzel takkan percaya begitu saja. Mengingat sang Ibu yang terlihat mahir memainkan jurus replikasi dan kecepatan dalam pertarungan semalam, itu akan menjadi misteri tersendiri bagi Gazzel.
"Kenapa kau ingin membunuh teman anakmu sendiri?"
"Hmph .. aku tak ingin anakku gagal menjadi seseorang."
"Tapi, kau tidak berhak mengambil nyawa orang lain begitu saja."
"Urus saja dirimu sendiri. Kau bahkan bukan temanku."
"Jika itu terulang lagi, kau akan mendapatkan apa yang telah kau tanam, mengerti?" ancam Gazzel dengan mata yang tajam.
"Kau mengancamku?" sang Ibu pun ikut memasang tatapan yang sama.
__ADS_1
"Oh, hei .. Nyonya Zpin, Gazzel," sambung Senju yang baru saja datang karena melihat mereka.
Sang Ibu lalu pergi begitu saja tanpa menyapa balik Senju. Sedangkan Gazzel, ia mulai melangkah bersama Senju ke sekolah.
-
-
-
☆☆☆☆☆
Sementara itu, Malika yang sejak tadi sudah meninggalkan area pemakaman, kini tengah berjalan mengelilingi Desa, untuk kembali melakukan kegiatan sehari-harinya. Tiba-tiba,
"Lika?" tegur Linanzha yang secara kebetulan juga melihatnya.
Mereka berdua pun akhirnya saling melangkah bersama ke arah gang sempit, untuk terhindar dari pandangan kedua orangtua Linanzha, maupun orang-orang yang mengenalinya.
Seiring langkah mereka berdua, Linanzha pun menghentikan langkahnya dan memeluk Malika. Sontak saja Malika sedikit terkejut, dengan tingkah sahabatnya tersebut.
"Hehe .. apa kau mengingat tentang hari esok?" tanya Malika sembari tersenyum.
"Ya, Lika. Jika surat rekomendasiku di terima, aku akan memulai pendidikan, tanpa lagi mengikuti ujian tahap pertama," balas Linanzha yang perlahan melepaskan pelukannya.
Mereka berdua lalu mengarah dan duduk di atas tempat pembuangan sampah besar, untuk saling kembali berbincang-bincang.
"Tapi, seingatku, Kakek Valun pernah berkata tentang dua surat rekomendasi. Siapa lagi selain kau, Lin?"
"Lizarno. Dia adalah murid paling kuat di antara semuanya."
"Benarkah itu? Apa kekuatannya?"
"Dia di anugrahi wujud hewan prasejarah. Itu sangat langka, Lika. Hanya segelintir orang yang beruntung mendapatkan itu."
"H-ewan prasejarah?"
"Ya, tidak seperti diriku yang di anugrahi kekuatan pasaran. Jika di luar sana nanti ada pengendali api yang lebih kuat dariku, aku pasti hanya akan menjadi prajurit biasa," Linanzha terlihat sedih ketika mengatakan itu.
"Tapi, aku belum pernah melihat pengendali api yang masih berusia 16 tahun, namun sudah bisa membakar seisi hutan sepertimu, Lin," balas Malika yang sedikit memasang senyuman.
"Hehe .. kau hanya ingin membesarkan kepalaku, kan?"
"Aku serius, Lin. Kau pasti bisa menjadi pengendali api terhebat. Aku selalu percaya akan hal itu."
"Kau selalu saja membuatku tergoda, Lika."
"T-ergoda akan hal apa?" pikiran Malika sedikit melenceng.
"Akan kata-katamu yang selalu terlihat jujur. Terima kasih sudah selalu ada untukku. Aku seperti takut untuk meninggalkanmu."
"Hehe .. a .. aku juga .. tak .." ucapan Malika pun terpotong, akibat Linanzha yang tiba-tiba saja mencium pipinya.
-FOLLOW ME-
__ADS_1