
"M-urid?" Malika sedikit tercengang melihat Gazzel.
"Dengarkan aku. Mungkin kau takkan percaya dengan apa yang akan ku katakan."
"A-pa itu, kak?"
Gazzel lalu memegang kiri dan kanan pundak Malika, agar membuatnya saling berhadapan muka. Dengan wajah yang meyakinkan, Gazzel pun berkata,
"Ibu Linanzha'lah yang pada malam itu ke rumahmu dan ingin membunuhmu, Malika."
"Hah?" wajah Malika menjadi syok dalam sekejab.
"Jangan bilang, kalau kau sudah pingsan dan tak sempat melihat Ibu Linanzha yang ikut bertarung kemarin."
Malika yang memang lupa, kini diingatkan kembali. Ia hanya mengingat bahwa kemarin, ia sempat terlepas dari cekikan sang monster, akibat melihat kobaran api. Ia tahu kobaran api itu pasti milik Linanzha.
Matanya sudah buram dan hampir pingsan, ketika terlepas dari cekikan tersebut. Hanya saja, ia terus berusaha untuk bangkit demi melontarkan serangan terakhir. Setelah itu, barulah ia terjatuh dan pingsan
"Benarkah itu?" Malika tak berkedip melihat Gazzel.
"Huffftt .. aku tak percaya kau sebodoh ini, Malika," Gazzel terlihat sedikit kesal saat mengatakan itu.
"A-ku, tak tahu harus berkata apalagi, kak. Ini .. ini benar-benar membuatku hancur," mata Malika terlihat sayup, akibat menahan kesedihan akan kebenaran itu.
"Jadilah muridku. Kau akan ku ajari tentang melindungi diri sendiri. Aku juga sangat penasaran mengenai kekuatanmu. Kau pasti belum bisa menguasainya secara optimal, kan?"
"D-ari mana kau tahu, kak?"
"Aliran Plexusmu harus terbuka terlebih dahulu. Kau yang belum pernah menjadi murid di sekolah bela diri, tentu saja tidak akan mengerti. Jika kau mau, aku akan mengajarinya. Kau setuju?" Gazzel tersenyum manis saat mengatakan itu.
Seketika, Malika langsung mengingat tentang apa yang pernah di katakan sosok kegelapan. Sebuah perang akan segera bergejolak di dunia manusia.
Ya, Malika ingin menjadi lebih kuat, agar mampu menjaga dirinya dan orang-orang terkasih. Akan tetapi, sosok kegelapan juga pernah mengatakan, kalau harga dari kekuatannya adalah berupa jiwa manusia.
Tentu saja pikiran Malika menjadi terbagi. Apakah Gazzel mampu membuat Malika bisa menggunakan kekuatannya secara optimal, atau hanya bisa terbuka dengan jiwa-jiwa yang di tumbalkan.
Sedangkan Gazzel, ia melihat potensi yang besar dalam diri Malika. Ia ingin cepat mengambil alih, sebelum masa depan yang jahat mempengaruhi Malika lebih dulu.
Ia juga takkan lupa, dengan apa yang pernah di katakan sang monster padanya waktu itu. Namun, Gazzel percaya kalau Malika bisa menjadi lebih baik, jika di didik dari sekarang.
"A-ku mau, kak .." lirih Malika yang kemudian memasang wajah serius menatap Gazzel.
"Bersiaplah. Jika kau memang serius, kita akan memulainya besok, setelah ke lima murid terbaik akan di jemput oleh pihak Akademi. Jangan sia-siakan kesempatan ini, Malika."
"Tidak akan ku sia-siakan kesempatan ini. Terima kasih, karena mau bersedia mengajariku, Guru."
Gazzel hanya tersenyum simpul mendengar itu. Setelah mereka berdua melakukan perbincangan yang panjang, Malika pun pamit dan berjalan meninggalkan Gazzel.
Di sela-sela Malika yang tengah berjalan di bawah sinar terik matahari, Gazzel hanya menyimpulkan kedua tangannya ke belakang, sembari menatapnya yang semakin jauh.
Gazzel sungguh kasihan melihat Malika. Ia hanya tak menyangka, kalau ada anak yang terpuruk dalam situasi mencekam, tanpa adanya sosok kedua orangtua.
Namun di sisi lain, Gazzel sangat terpukau akan kekuatan Malika. Ia percaya, bahwa kekuatan Malika akan membawa kabar besar bagi dunia. Karena kegelapan, adalah kekuatan yang belum pernah masuk di dalam sejarah.
"Tuan? Kau pasti akan melakukan hal yang sama, bukan?" ucap Gazzel, sembari menatap birunya langit yang dihiasi deretan awan berbagai bentuk.
-
-
-
☆☆☆☆☆
Sementara itu di rumah Linanzha, jangan lupakan suasana canggung yang sedang melanda keluarga tersebut. Sejak peristiwa malam kemarin, sepasang pasutri itu tak mampu saling berbicara dengan leluasa.
Sang Ayah bahkan memilih tidur di sofa, akibat takut seranjang dengan sang Ibu. Linanzha yang sejak tadi sudah pulang, kini berusaha untuk meleraikan suasana.
Ia tahu kalau hubungan kedua orangtuanya sedang renggang. Linanzha kemudian memainkan suasana dengan berkata, kalau besok ia akan meninggalkan mereka, untuk masa pendidikan yang lama.
Linanzha pun sukses menjebak mereka dalam mempererat hubungan. Tak lama pula, sang Ibu dan sang Ayah menjadi seperti sedia kala. Mereka tahu, Linanzha tak boleh terbebani masalah keluarga, ketika memulai pendidikan nanti.
__ADS_1
-
-
-
☆☆☆☆☆
Kini, waktu sudah menunjukkan sore hari. Malika yang sejak tadi sudah mecopet beberapa dompet, sekarang sedang duduk dan menghitung hasilnya di ladang bunga matahari, bersama Linanzha.
"Haha! Ada dua keping emas! Aku kaya!" seru Malika dengan mata yang berbinar-binar akan keserakahannya sendiri.
"Ulahmu itu membuat orang-orang di Desa menjadi miskin, bodoh. Apa kau tidak kasihan kepada mereka?" Linanzha hanya menggelengkan kepalanya.
"Halah! Aku hanyalah si miskin yang mencuri dari orang miskin." Malika terlihat percaya diri saat mengatakan itu.
"Terserahlah .."
"Simpanlah ini, Lin," Malika memberikannya dua keping emas tadi.
"Eh? Tidak, Lika. Ak .." ucapan Linanzha yang terpotong oleh perkataan Malika.
"Terimalah. Aku tidak bisa memberikan apa-apa lagi selain ini. Ku mohon, ambilah untuk kebutuhan mendadakmu besok."
Linanzha tak bisa menolak. Walaupun itu dari hasil curian, tapi baginya, pemberian dari Malika adalah sebuah bentuk kasih seorang sahabat, yang saling peduli satu sama lain.
"Terima kasih, Lika," kata Linanzha yang kemudian menerima dua keping emas itu di telapak tangannya.
"Huufft .. tak kusangka, besok kau akan pergi," Malika sedikit tersenyum saat mengatakan itu.
"Ingatlah janjiku waktu itu. Aku akan berusaha menjadi yang terbaik dan membawamu ke kota, Lika."
"Aku tahu. Aku akan selalu menunggu hal itu, hehe .." balas Malika yang kemudian berbaring dan menatap langit.
Ketika Malika berbaring, Linanzha pun ikut berbaring, dengan cara menaruh kepalanya di bagian perut Malika, sebagai bantal kepala.
Dan jangan lupakan tentang Ibu Linanzha. Sejak tadi, Malika ingin bertanya tentang hal itu. Ia lalu sedikit menelan ludah dan berkata,
"Ibumu, sungguh hebat, ya."
"Benarkah?"
"Di pedang Ibuku, ada suatu kalimat yang bertuliskan Xenel. Itu adalah prajurit khusus yang di pimpin Raja secara langsung."
"Sial .. bagaiman ini .. apa Ibunya masih dendam padaku .. aku harus hati-hati dari sekarang .." batin Malika yang ketakutan dan lalu berkata, "Benarkah? Siapa saja yang tahu tentang itu?"
"Entahlah. Bahkan Ayahku sendiri juga tidak tahu. Tapi, aku penasaran dengan kekuatanmu, Lika. Apa itu kekuatan elemen?"
"Akan ku beritahu. Tapi, kau harus menjaga rahasia."
"Ya! Ya! Aku janji!" Linanzha kemudian mengambil posisi duduk dan mulai menatap Malika dengan serius.
Malika lalu menjelaskan semuanya. Ia menjelaskan kalau elemen kekuatannya adalah kegelapan. Namun, Malika tidak mengatakan kalau ia mempunyai garis keturunan monster.
Bukan hanya itu, ia juga tak mengatakan kalau ada sosok kegelapan yang bersemayam dalam dirinya, hingga tumbal jiwa manusia yang harus di korbankan.
Linanzha tentu tahu dengan semua elemen yang pernah ada di dunia. Mendengar adanya elemen kegelapan, tentu membuatnya terkejut, lantaran hal itu belum pernah ada dalam sejarah.
"Itu gila, Lika! Kau bisa menjadi murid terbaik dan akan masuk ke akademi Angelo, tanpa lagi melakukan ujian tahap pertama!" Linanzha membuka matanya selebar mungkin.
"Itu sudah terlambat. Tapi, Guru Gazzel ingin mengajariku. Tenang saja. Aku pasti akan menjaga Desa ini dengan kekuatanku. Hehe .."
"Tapi, cepat atau lambat, kau akan menjadi terkenal, Lika! Elemen kegelepan belum pernah ada sebelumnya, kau tahu?"
"Jagalah rahasia ini, sampai dunia sudah tahu siapa aku, Lin. Ku mohon. Aku belum siap dengan semua ini."
Linazha hanya mengangguk sembari tersenyum. Ia lalu menarik Malika untuk duduk dan memeluknya dengan erat. Malika jadi sulit bernapas akibat pelukan tersebut.
"Kau .. orang yang spesial, Lika," ucap Linanzha yang masih saja memeluk dengan erat.
"Hehe .. spesial karena kekuatanku, atau karena di hatimu .." lubang hidung Malika menjadi kempas-kempis, akibat merasa kalau momen tersebut, bisa saja mengubah persahabatan mereka, ke tahap selanjutnya.
__ADS_1
"Aku tak tahu. Tunggulah aku kembali. Kau akan menungguku, kan?"
Dahi mereka lalu saling menempel. Linanzha benar-benar membuat Malika merasa gugup setengah mati. Wajah cantik sahabatnya itu terlalu dekat dengan wajahnya.
"Ak .. ya .. aku akan menunggumu, Lin," balas Malika dengan wajah yang malu-malu.
"Cium aku, Lika. Aku ingin kau membuktikan perkataanmu."
"Hiiii .. cium .. c-ium .. betapa lamanya aku menunggu saat-saat seperti ini .. hii .. mampus .. aku akan mati karena bahagia setelah ini .." batin Malika bergejolak hebat.
"Kau tak ingin menciumku?" Linanzha kembali menggoda Malika.
"D-d-dimna? Kau ingin ku menciummu di bagian mana?"
"Di bagian manapun yang kau mau, Lika."
"Di bagian manapun? Arrgh .. serius? Aku .. ingin sekali mencium bibirnya .. t-tapi .. ketiaknya .. itu .. sungguh .. menggoda .. harum .. begitu harum walau dari kejauhan .."
Ya, sejak dulu, Malika benar-benar tergoda dengan ketiak Linanzha. Harumnya membuat Malika kadang berpikiran kotor.
Malika hanyalah lelaki yang baru saja beranjak dewasa. Tentu saja pikiran mesumnya akan meledak-ledak di usia seperti itu.
"B-olehkah .. ak .. aku mencium .. ke .. ketiakmu?"
"Haha .. apa? Kenapa kau ingin mencium bagian itu, Lika? Haha!" Linanzha meresponnya dengan tawa yang menggelitik.
"Hehe .. ak .. aku han .." ucapan Malika pun terpotong, akibat Linanzha yang tiba-tiba saja, ******* bibirnya dengan ciuman.
Ciuman itu, langsung membuat hati Malika terbang melayang tanpa batas. Benar-benar ciuman yang sudah di nantikannya selama bertahun-tahun.
"Ohhh .. seperti .. inikah .. rasanya .. bibirmu, Linanzha .. begitu manis .. oh Tuhan .. terima kasih .. terima kasih atas hari yang indah ini ..
Mereka berdua saling ******* bibir di bawah mentari yang perlahan, mulai meninggalkan cakrawala. Ya, sepasang sahabat itu, kini akan memulai kisah yang baru.
Mereka yang masih saja saling berciuman, kini hampir melangkah ke tahap yang berbahaya. Tangan Malika yang nakal, mulai perlahan menggerayangi tubuh Linanzha.
"L-ika .. sssh .." lirih Linanzha yang sedikit menolak hal itu.
Namun apa daya, Linanzha merasakan kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Malika kini mulai mengecup lehernya dengan lembut. Hal itu membuat Linanzha semakin tak berdaya.
"Sshhh .. Lika .."
"Lin .. Aku .. aku sangat mencintaimu .."
Buah dada milik Linanzha yang suci tak pernah tersentuh, kini sudah ternodai oleh remasan lembut kedua tangan Malika yang semakin menjadi-jadi.
"Aarrrghhhh ... buah dada sahabatku sendiri .. kini .. bisa sentuh .. sial .. aku tak bisa menghentikan tanganku .." batin Malika yang menjerit-jerit.
Mereka berdua benar-benar jatuh ke dalam jurang hawa nafsu. Wajah Linanzha yang kesusahan dalam menahan desahannya sendiri, semakin terlihat cantik pada pandangan mesum Malika, yang memang sudah di kuasai oleh iblis.
Namun, secara tiba-tiba, Malika langsung menghentikan perbuatannya itu. Ia pun mulai sadar dengan kebodohannya sendiri.
"M-aafkan, aku, Lin," ucapnya yang kemudian memeluk Linanzha dengan lembut.
"Hehe .. kau .. terlalu nakal, Lika," balas Linanzha yang kembali mencium bibir Malika.
Setelah berciuman, Mereka berdua lalu kembali saling menempelkan dahi. Kadang, Linanzha masih saja mencuri-curi ciuman ke arah bibir dan pipi Malika.
Sedangkan Malika, ia kini benar-benar bahagia, lantaran sudah mendapatkan hati Linanzha seutuhnya. Ia hanya terlihat pasrah mendapatkan hujan ciuman tersebut.
"Aku mencintaimu, Malika," ucap Linanzha yang menggoda, lantaran merapalkan nama Malika dengan sedikit menyiratkan desahan.
"Aku lebih mencintaimu, Lin," balas Malika yang kemudian mencium dahi Linanzha.
"Tunggulah aku. Kita .. akan .. melakukan ini .. ketika aku pulang nanti,"
"Aku akan selalu menunggumu, Lin,"
Dan mereka berdua pun kembali saling berciuman dengan mesra. Sungguh kisah cinta yang aneh. Ladang Bunga Matahari, kini menjadi saksi bisu, di antara kisah cinta mereka yang baru saja tumbuh.
__ADS_1
-FOLLOW ME-
Malika b*ngs*t!