KEKUATAN ALAM

KEKUATAN ALAM
Tak Dapat Di Hindari.


__ADS_3

Malika membantah pertanyaan itu dengan tatapan yang menyiratkan rasa penasaran. Ucapan yang menyinggung tentang orangtuanya tadi, benar-benar mendominasi benaknya sekarang.


Sosok itu kini melipat kedua tangannya di depan Malika. Ia lalu menatap Malika dengan sedikit mengangkat dagu dan berkata,


"Aku bingung dengan ucapanmu tadi. Apa kau hanya berpura-pura bodoh? Dimana orangtuamu?"


Malika lalu menimpali pertanyaannya itu dengan geram, "Untuk apa kau menanyakan orangtuaku?!"


"Hehe .. aku hanya bertanya. Kenapa kau begitu marah?" sosok itu tersenyum dengan santainya.


"Cih!" ucap geram Malika yang mulai memasang gaya bertarung.


Melihat gaya Malika yang sudah tengah bersiap, sosok itu pun merasa tertantang. Ia hanya menyeringai dan mulai mempermainkan Malika dengan kecepatannya.


Ya, dalam sekali kedipan mata, sosok itu langsung melesat cepat dalam membelakangi posisi Malika. Ia lalu berbisik,


"Kau sangat beruntung .."


Malika yang mendengar bisikan itu, seketika membuang pukulan ke arah belakang karena kaget. Namun, sosok tadi malah menangkisnya dan mencekik Malika menggunakan satu tangan.


"Arr .. erh .." ucap Malika ketika menerima cekikkan tersebut.


Ia lalu mengangkat dan membanting Malika ke tanah sekuat tenaga. Efek bantingan tersebut, langsung membuat tanah menjadi hancur berantakan.


"BUUUURRRM!"


Rasa sakit dari bantingan itu, sungguh belum pernah di rasakan Malika selama hidupnya. Malika bahkan hampir berada di titik tak sadarkan diri, ketika punggungnya itu menghantam tanah.


"Ar .. arrhg .." rintihan Malika yang terdengar sangat lemah.


Sosok tadi pun mulai berjongkok di hadapan Malika yang sudah terlentang pasrah. Malika kini hanya mampu menatapnya dengan mata yang mulai buram.


"Mungkin, ekspresiku ini tak terlalu terkejut ketika melihatmu. Namun .. kau .. kau akan ku bawa menghadap yang tertinggi. Ini benar-benar berita besar," ungkap sosok itu.


Di sela-sela itu juga, tibalah sang Ibu yang kini sedang memperhatikan mereka semua, dari atas sebatang pohon yang cukup tinggi dan lebat akan dedaunan.


Kedatangan sang Ibu, tentu saja sedikit tercium oleh sosok tadi. Ia lalu memainkan matanya ke segala arah, demi mencari keberadaan sang Ibu.


"Satu ekor ikan besar lagi, hah?" batin sosok itu.


Dan jangan lupakan tentang sang Ayah. Sang Ayah yang baru tiba, hanya berlari begitu saja tanpa bersembunyi. Sang Ibu yang melihat itu, langsung terkejut hebat dan berbisik,


"Sial .. apa yang kau lakukan .."


Kini, posisi sang Ayah berada agak dekat dengan sosok tadi. Sosok itu pun mengira, kalau sang Ayahlah yang memiliki aura tersebut.


Pandangan sang Ayah sungguh terbagi ke segala arah. Ia melihat kebakaran, melihat Malika yang sudah terlentang dan anaknya yang sedang bertarung, bersama para Guru di kejauhan sana.


Sosok itu kemudian berkata dengan lantang, "Hei?! Apa kau mencari sesuatu?!" dengan nada yang meledek.


Sang Ayah menimbun ketakutannya akan rupa sosok tersebut. Ia lebih memilih mengkhawatirkan Linanzha yang sedang bertarung.


Di sisi lain, sang Ibu yang sejak tadi masih bersembunyi, kini mulai bersiap untuk melesat ke bawah, jika sosok itu menyerang suaminya.


"Jawab aku! Apa ini anakmu?!" kata sosok itu sembari mengangkat Malika menggunakan satu tangannya.


Malika sudah terlihat sekarat. Ia hanya bisa meronta kecil dan tak mampu bernafas dengan baik, akibat cekikkan yang semakin kuat.

__ADS_1


Sang Ayah hanya terdiam melihat itu. Namun, tidak dengan Linanzha yang sudah melihat kondisi Malika dari kejauhan sana.


"Bodoh .. Linanzha .. jangan .." Sang Ibu yang terkejut, ketika melihat tindakan Linanzha.


Sang Ayah dan sang Ibu kini tak tahu harus melakukan apalagi, di saat melihat Linanzha yang sedang berlari dengan wajah yang murka, ke arah sosok tadi.


"Lepaskan dia, sialan!" bentak Linanzha yang kemudian melompat dan mengarahkan satu Kakinya yang di penuhi kobaran api, ke wajah sosok itu.


Sosok itu sudah siap dalam menangkis serangan bocah seperti Linanzha. Akan tetapi, ia begitu meremehkan dan lengah dalam bersiaga akan serangan lainnya. Ya, serangan lainnya.


Bagaikan waktu yang sedang melambat, di detik-detik serangan Linanzha yang semakin dekat itu, tiba-tiba saja, tebasan angin dari sang Ibu pun menebas perut sosok tadi dengan akurat.


"PSIIIIIK!"


"Uhuurrgh!" rintihan sosok itu yang tak melihat kedatangan serangan sang Ibu.


Sang Ibu tiba-tiba saja sudah berada di belakang sosok tadi, sembari sedikit berjongkok, dalam mengakhiri rapalan jurusnya dengan bisikan lembut.


"Breath Of God ..."


Dan, "BUAAAAAK!"


Ya, Kaki api Linanzha pun masuk dengan telak, ke arah wajah sosok tadi. Benar-benar serangan ganda yang mematikan.


Sosok itu bahkan tak punya peluang untuk berteriak dalam merasakan sakit. Ia hanya melepaskan Malika dan terpental, akibat tendangan Linanzha.


Dan sadarlah mereka berdua akan kehadiran sang Ibu. Linanzha dan Ayahnya tak tahu kalau sang Ibu juga ikut menyerang. Kecepatan sang Ibu dalam menebas tadi, benar-benar tak kasat mata.


"S-a .. sayang?!" sang Ayah hanya melebarkan mata dengan wajah terkejut.


"I-bu?! Ibu?!" Linanzha juga mengekspresikan wajah seperti Ayahnya.


Sedangkan ketiga Guru dan Martis yang baru saja selesai dalam memberantas para keroco tadi, kini mulai mengalihkan pandangan ke arah sang Ibu. Dan di antara tatapan mereka berempat, hanya Gazzelah yang terlihat menyiratkan dendam.


Sosok tadi pun mulai berteriak kesakitan, sembari meronta-ronta di tanah. Ia mulai menekuk satu lutut dan menatap tajam ke arah sang Ibu.


"Kurang ajar .. arrgghh .. ternyata kau! Kau ingin mati?! Baiklah!"


Dalam posisi yang masih menekuk satu lutut, sosok itu langsung melesat ke arah sang Ibu dengan wajah yang mengerikan.


Bentrokan keras pun terjadi. Kini, mereka berdua bertarung dalam kecepatan yang saling berbenturan di atas permukaan tanah. Benar-benar hampir tak kasat mata. Hanya ada suara cakar dan pedang yang saling berbenturan.


"PRANG! CRINGG PRAANG SIIING!"


Sang Ayah hanya tak menyangka dengan apa yang di lihatnya. Begitu pula dengan Linanzha. Mereka berdua benar-benar terdiam melihat sang Ibu yang kadang tak terlihat.


Sedangkan ketiga Guru, mereka mulai membantu sang Ibu. Kecepatan mereka dalam mengimbangi pertarungan itu pun cukup hebat.


Gazzel memukul dan menendang beberapa bongkahan tanah ke arah sosok itu. Sosok itu pun ingin menghindarinya. Akan tetapi, dengan cepat pula, Senju membekukan kedua kakinya dengan semprotan uap es.


Akibatnya, ia terjebak dan terpaksa harus menghancurkan serangan Gazzel, dengan cara mencakar bongkahan demi bongkahan yang sedang melesat ke arahnya.


"BLUURRR! BUAARR! BRUUM!"


Valun yang melihat kesempatan, langsung melesat dan memukul ke arah dagu, hingga membuat kepala sosok itu terangkat naik dengan keras. Namun sialnya, kaki sosok itu terlepas dari bekuan jurus Senju.


Sosok itu langsung bersalto belakang dan menapak lagi, sekaligus memberikan dua serangan cakaran udara ke arah Valun.

__ADS_1


"SLIIINK! SLINNNK!"


Valun berguling dua kali dalam menghindari serangan tersebut. Di saat yang bersamaan, Ibu Linanzha tiba-tiba saja sudah berada di depannya dan memberikan serangan pedang.


Sosok itu kadang menghindar dan menangkis menggunakan cakarnya. Senju, Gazzel dan Valun pun mulai membantu Ibu Linanzha, dengan pukulan dan tendangan mereka. Empat melawan satu, itulah yang terlihat saat ini.


Pertarungan mereka memakan area yang cukup besar. Martis yang sedang menonton, langsung menjauh secepat mungkin, akibat takut dengan bongkahan-bongkahan tanah milik Gazzel yang melayang secara sembarangan.


Kadang kala, sosok itu terkena pukulan, hingga membuatnya terguling-guling di tanah. Akan tetapi, ia selalu bangkit dengan cepat dan melesat mengalahkan angin, dalam melancarkan serangan-serangan luar biasa.


Ketiga Guru dan Ibu Linanzha, cukup mahir dalam mengkoordinasi satu demi satu serangan ke arah sosok itu. Tapi jangan salah. Kebanyakan dari serangan mereka, dapat di hindari dan di tangkisnya dengan sigap.


Semakin lama, Valun semakin memperlihatkan staminanya yang sudah menipis. Ya, ia sudah sangat tua untuk melakukan pertarungan jangka panjang. Ia kini sedikit menjauh dan berdiam diri dalam mengambil nafas.


Melihat itu, sosok tadi pun menjadi seperti mendapat peluang besar. Ia hanya mencuri-curi pandangan ke arah Valun, sembari masih menangkis dan menyerang balik Gazzel, Senju dan sang Ibu secara bersamaan.


Dan tentu saja, ketika melihat celah yang pas, tanpa berlama-lama lagi, ia melesat dengan kecepatan yang di luar batas mereka semua, ke arah Valun. Bahkan, tanah yang di pijakinya ketika melakukan lesatan tadi, menjadi hancur dalam sekejab.


"Meresahkan!" ledeknya di saat-saat melesat menuju Valun.


Dan ..


"PSIIIIIKKK!"


Begitu cepat. Betapa lebarnya kedua mata Senju dan Gazzel, ketika melihat kepala Valun yang terpenggal, akibat cakaran dari sosok tadi. Tak hanya mereka berdua, semuanya juga mengekspresikan wajah yang sama.


Sosok itu pun berhenti tepat di belakang tubuh Valun yang perlahan tumbang. Kepala Valun yang masih berputar di udara, langsung di tangkapnya dengan santai. Ia lalu memainkan kepala Valun di depan mereka semua.


"Tua dan menyedihkan!" ledeknya yang kemudian melempar kepala Valun ke arah Gazzel dan Senju.


Kepala Valun hampir saja menghantam Senju. Senju dan Gazzel seakan tak percaya dengan semua itu. Mereka berdua benar-benar meledak dalam kemarahan masing-masing.


Di sela-sela itu pula, sang Ibu langsung memainkan jurus replikasi, berupa angin yang berbentuk seperti pedang miliknya. Angin-angin berbentuk pedang itu, berjumlah banyak dan melesat ke arah sosok tadi.


Serangan itu membuat sosok tersebut harus melompat dan berguling kesana-kemari dalam menghindar. Ketika ia masih sibuk menghindar, tanpa di sadarinya, ada sekumpulan batu-batu runcing yang menjulang naik ke atas permukaan tanah.


Batu-batu runcing milik Gazzel, membuat sosok tadi menjadi terganggu dan berakhir dengan terkena serangan angin milik sang Ibu.


"Arrrggh!" erangan sosok itu, ketika tiga angin berbentuk pedang milik sang Ibu menembus dada, bahu dan paha kirinya.


Ketika ia mulai tersungkur jatuh dan berusaha untuk berdiri, Senju mulai melemparnya dengan tombak es dari kejauhan. Tapi sayang, tombak es itu, mampu di hancurkan sosok tadi, hanya dengan sekali cakaran.


"PRAAANG!" suara tombak es senju yang terpecah belah, ketika bertabrakan dengan sepasang cakar yang terlihat berkilauan.


Pertarungan yang sangat sengit. Sosok itu mampu mengimbangi mereka semua sekaligus. Ia kini terlihat sedang menekuk satu lutut, sembari menatap mereka semua dalam mengantisipasi serangan selanjutnya.


"Dimana semua pasukanku?! Arrrghh .. Menyedihkan .." geram batinnya.


Ketika ia masih dalam posisi yang siaga, entah kenapa, ia malah terlihat bodoh. Ya, ia terlihat sangat bodoh bagaikan patung. sejak tadi, ia hanya memperhatikan Gazzel, Senju dan Sang Ibu yang berada di depan.


Tanpa ia sadari, kepalan tangan raksasa yang berwarna hitam, sedang melesat senyap dari arah sampingnya. Dan ..


"BUUUURRRRRRRRMM!"


Bagaikan korban tabrakan dari sebuah mini bus yang sedang melaju kencang, sosok itu benar-benar terpental tanpa lagi berteriak kesakitan, hingga menabrak beberapa pohon yang sedang di lahap si jago merah milik Linanzha.


"Aaaarrrgh! Kakek itu .. dia .. dia akan memberikanku pekerjaaan! Kurang ajar kau!" teriak Malika yang berjalan goyah bagaikan mayat hidup, akibat berusaha untuk bangkit dari kelelahannya sendiri.

__ADS_1


-FOLLOW ME-


__ADS_2