KEKUATAN ALAM

KEKUATAN ALAM
Bayangan.


__ADS_3

Akibat serangan Morca, kebakaran hebat kini terjadi. Asap hitam mengepul kemana-mana. Di setiap langkah Morca yang sombong, hanya menyisakan pemandangan kehancuran di pinggir-pinggir kakinya.


Morca lalu menghirup asap-asap kebakaran itu dan kemudian membuang nafas lega, "Aaah .." sembari menatap Gazel dan berteriak dari kejauhan, "Apa kau ingin menangis?!"


Gazzel hanya menimbun emosi dengan cara berdiam menatap Morca. Hatinya bercampur aduk antara murka dan sedih, lantaran melihat rumah-rumah yang hancur, berserta dengan orang-orang yang berada di dalamnya.


Senju yang sejak tadi hanya menonton dari atap-atap rumah, kini mulai berteriak, "Gazzel?! Sudah terlambat! Para warga tadi sudah terlihat datang kemari!"


Ya, tak berselang lama, tibalah kerumunan warga yang berkeliling tadi bersama Valun. Dan tentu saja, ada sebagian warga yang menggila, akibat melihat rumahnya yang juga ikut hancur.


Mereka yang melihat rumahnya ikut hancur, hanya mampu berteriak, "Anakku! Istriku! Tidak!" dengan nada yang begitu mencekam batin.


Jeritan dan tangisan mereka bagaikan orang gila. Ada sebagian yang berlari menuju rumahnya, hingga terseok-seok. Dan ada juga yang terduduk sembari membuka mata selebar mungkin, karena syok berat.


Alkila pun berkata, "Morca? Kita tidak mungkin membuka portal disini! Mereka akan menganggu kita!"


"Apa yang kau takutkan dari serangga?! Segera buka portal disini! Akan ku urus mereka!" balas Morca yang kemudian berlari kencang menuju kerumunan warga dengan buasnya.


Warga yang sejak tadi seperti siap untuk berperang, kini berkalang kabut akibat melihat Morca ke arah mereka. Namun, di sela-sela itu, hanya ada satu orang yang tetap berdiri. Ya, Valun.


Senju dan Gazzel yang melihat itu, langsung berteriak "Tuan?!" secara bersamaan.


Sedangkan Morca hanya berkata, "Apa kau sudah tak sanggup berlari lagi, serangga tua?!" sembari mengangkat satu tangannya untuk menyerang.


Melihat itu, Valun langsung memantapkan kuda-kudanya, sembari menarik nafas panjang dan berteriak, "Ingonyama Ibhonga!" dengan lantunan huruf "A" yang panjang.



Seketika, teriakan Valun mampu menciptakan gelombang suara yang keras, hingga melebihi 9000 desibel. Suaranya juga terdengar seperti terbagi menjadi dua karakter yang berbeda.

__ADS_1


Morca yang terkena serangan itu, langsung menutup telinga, akibat merasakan pusing, sekaligus kesakitan, pada gendang telinga dan sekujur tubuhnya.


"Arrrggghhh!" teriak Morca yang perlahan mulai menekuk satu lutut, sembari berusaha ingin menghindar.


Akan tetapi, Morca tak bisa bergerak. Ia seperti terkunci di tempat, sekaligus berkejang-kejang di saat yang bersamaan. Morca kemudian mulai memuntahkan sesuatu dari mulutnya. Tangan, kaki, hingga kepala manusia yang terlihat seperti sudah tidak jelas.


"Hueerrk! Arrgh! Serangga tua .. sialan!" teriak Morca yang kesakitan.


Elemen suara, adalah elemen yang di kuasai sang Guru besar. Itu adalah salah satu elemen langka dan mempunyai kelebihan khusus. Yakni, mendengarkan suara alam, agar bisa meramalkan sesuatu secara akurat.


-


-


-


-


-


Monster itu bahkan kesal jika kehilangan Malika dari pandangannya. Sejak tadi, si monster hanya mencium hawa keberadaan si wanita. Ia bahkan bisa menutup mata, sambil berjalan ke arah wanita itu dengan benar.


Namun, berbeda dengan Malika. Jangankan hawa keberadaan, aroma dari tubuh Malika pun tidak tercium sama sekali.


"Arrrrgh! Kena .. pa .. kau .. berbeda dari .. manusia!" kata si monster yang semakin murka, lantaran lagi-lagi kehilangan Malika.


Si monster lalu menyerang secara membabi buta. Suara pohon-pohon yang bertumbangan, kini membuat hutan sunyi itu menjadi sangat berisik.


Malika yang mendengar teriakan si monster tadi, juga ikut kebingungan. Ia sempat berpikir ..

__ADS_1


"Mungkinkah .. karena kekuatan ku? Jika benar .. bagaimana cara aku menggunakannya?"


"Jik .. jika kau tidak keluar .. mak .. maka aku akan membunuh wani .. ta itu!" ancam si monster.


Mendengar ancaman itu, tentu saja membuat Malika menjadi terjebak di antara dua pilihan. Keluar dan di bunuh, atau tetap bersembunyi dan melihat wanita itu terbunuh.


"Sial! Bagaimana caranya agar kekuatanku bisa keluar .. apa yang harus kulakukan? Apa tinggalkan saja wanita itu? Tidak .. tidak, Malika .. kau harus menyelamatkannya .. tapi .. aku akan mati .. aarrgh .."


Malika bahkan seperti membuat versi dirinya yang lain di dalam pikirannya sendiri, hanya untuk saling berdebat tentang keputusan yang harus diambil.


Si monster pun berkata dengan lantang, "Aku .. akan membelahnya .. men ..jadi dua!" sembari berlari kembali ke arah wanita tadi, dengan lidah yang kini menjulur panjang.


Malika yang mendengar itu, langsung menunjukkan dirinya dari balik pohon dan beteriak, "Woy?! Aku disini!"


Saat si monster berhenti berlari dan menoleh ke arah Malika, si monster langsung terpaku karena terkejut, akibat melihat Malika yang seperti berdiri dengan orang lain.


"Si .. siapa .. itu?" tanya si monster yang terdiam dan memiringkan kepalanya.


"Siapa apanya?! Kemari kau?! Kejar aku! Kejar!" teriak Malika yang kemudian membatin, "Ya Tuhan .. tolong aku .. tolong cabut ketakutanku .. tolong .." sembari menelan ludah.


"Apa .. itu .. kekuatanmu?" tanya kembali si monster.


Malika kebingungan dengan tingkah si monster, "Kekuatan?! Apanya yang kekuatan?" sambil melihat ke sekujur tubuhnya, untuk memeriksa apa yang aneh.


Semuanya kelihatan normal seperti biasa. Namun, di saat Malika menoleh ke sebelah kanannya ..


"Hiiiiiiiii!!!" teriaknya yang kaget, akibat melihat bayangan hitam yang juga ikut kaget melihat dirinya.


__ADS_1


-FOLLOW ME-


__ADS_2