KEKUATAN ALAM

KEKUATAN ALAM
Xenel, Lionel Dan Penguasa Kegelapan.


__ADS_3

Linanzha benar-benar tak percaya dengan apa yang di bacanya. Xenel adalah nama bagi prajurit khusus yang di perintah langsung oleh Raja, tanpa ada lagi perantara lainnya.


Namun, Xenel bukanlah satuan satu-satunya yang di khususkan dalam kategori prajurit hebat. Xenel bagaikan tangan kanan bagi Kerajaan. Sedangkan tangan kiri, mereka di sebut sebagai Lionel.


Alasan mereka di bedakan, karena kekuatan dari yang mereka punya. Xenel adalah prajurit khusus yang mendominasi elemen alam. Sedangkan Lionel, mereka mendominasi elemen hewan.


Predikat Xenel hanya bisa di sandang oleh empat orang terpilih. Begitu juga dengan Lionel. Satu per satu dari mereka akan di berikan hak penuh, dalam memimpin 1000 prajurit masing-masing.


Linanzha tahu dengan semua cerita yang mengenai Xenel. Namun, ia masih tak percaya, kalau sang Ibu mampu menyandang predikat tersebut.


"I-ibu, seorang Xenel?" tanya Linanzha yang kemudian memegang pedang milik sang Ibu dengan sedikit gemetar.


"Menurutmu?" sang Ibu hanya melipat kedua tangan dan bersandar pada dinding.


"T-api, kenapa Ibu tidak berada di Kerajaan?"


"Itu cerita yang sangat panjang, sayang."


"Ayolah, Bu. Aku ingin mengetahuinya. Aku berjanji akan menjaga rahasia ini. Kumohon, Bu," Linanzha lalu menaruh pedang tadi dan memeluk sang Ibu dengan manja.


"Maafkan Ibu, sayangku. Ibu punya rahasia yang bahkan tak boleh kau ketahui," tolaknya dengan lembut, sembari membalas pelukan Linanzha.


-


-


-


☆☆☆☆☆


Sementara itu di rumah Martis, Malika yang sejak tadi sudah di obati, sekarang sedang beristirahat. Ia kini terlihat sedang tertidur di lantai, sembari menutup dirinya dengan selimut.


Ia begitu lelah. Sudah terlalu banyak konflik yang telah ia alami semalaman tadi. Semakin lama, Malika semakin tenggelam ke alam bawah sadar. Tenggelam, tenggelam dan ..

__ADS_1


-


☆☆☆☆☆


"Hi?" ucapnya yang terkejut, akibat melihat ruangan gelap yang hampa di sekelilingnya.


Ia perlahan mulai ingat dengan ruangan tersebut. Itu adalah ruangan yang pernah membuatnya ketakukan, akibat bertemu dengan sosok wajah raksasa yang mengerikan.


"Tidak salah lagi! T-empat ini .. a-apa aku sedang bermimpi?"


Ya, Malika mulai sadar kalau ia sedang bermimpi. Sontak saja, ia pun mulai mencubit tubuhnya agar memastikan hal itu.


"Aww! Kenapa aku merasakan sakit? Ini m-impi, atau bukan?"


Tiba-tiba, "Ini bukan alam mimpimu, Malika!" bentak suara yang terdengar berat dan mengerikan.


"Hiii!" Malika hampir serangan jantung mendengar bentakan suara itu.


Dan lagi-lagi, seperti saat pertama kali, timbulah sepasang mata dan mulut raksasa dari dalam kegelapan. Tak ada cahaya yang lebih terang, selain mulut dan mata sosok tersebut.



"Aku adalah salah satu dari sepuluh roh suci. Air, api, udara, bumi, tumbuhan, cahaya, suara, petir, hewan dan aku, sang kegelapan."


"K-egelapan? Ja-di .. aku .. kau .."


"Beruntunglah dirimu, karena bisa langsung berkontak batin denganku, serangga. Setangguh apapun ras kalian dalam menguasai kami, jika kami tidak berkehendak, maka itu hanyalah sia-sia.


"H-eh?" ucap singkat Malika.


Malika tak sanggup berkata-kata. Ia masih saja merasakan ketakutan yang semakin dalam. Namun, secara perlahan, tergeraklah hatinya untuk menanyakan sesuatu.


"T-api .. kenapa kau .. memilihku?"

__ADS_1


"Pertanyaan yang bagus. Apa kau ingin tahu?"


"Ya .. kumohon .."


"Aku adalah roh satu-satunya yang tak bisa masuk ke dalam tubuh manusia biasa. Manusia yang mampu mengendalikan kegelapan, adalah manusia yang mempunyai garis keturunan murni dari ras monster."


"Hah?! Apa maksudmu?! Aku bukan monster!" bantah Malika yang tiba-tiba saja memasang wajah emosi.


"Terimalah dirimu, Malika! Kau memang sudah terlahir seperti itu!"


Sungguh suatu kebenaran yang sangat aneh dan menghancurkan bagi Malika. Ia benar-benar tak percaya, bahwa ada darah monster yang mengalir di dalam tubuhnya.


"I-itu .. itu tidak mungkin .." Malika melirih dengan tatapan yang kosong.


Sosok itu kemudian berkata, "Kau terkejut? Tentu saja kau terkejut! Kau bahkan tidak memiliki ingatan jelas mengenai orangtuamu! Hanya ada Linanzha, Linanzha dan Linanzha! Cih, roh api sungguh menjijikkan!"


"Hi? Kau m-embaca pikiranku?"


"Semuanya. Bahkan di saat terakhir kali kau mengintipnya sedang buang air kecil. Kau dan aku, bagaikan kita. Aku sudah lama bersemayam di dalam tubuhmu, sejak kau masih berusia 11 tahun, Malika. Hanya saja, aku harus menunggu usiamu hingga menginjak 16 tahun, agar bisa saling berkontak batin."


"Hiiii?!" teriak Malika dengan memasang wajah yang benar-benar terjun ke dalam jurang malu tak berdasar.


"Itu tidaklah penting! Aku butuh jiwa, Malika! Bayarlah dengan jiwa korbanmu, atau korban dari korbanmu. Terlebih lagi, berikan sepasang jiwa yang saling mencintai! Itu adalah hal yang paling sakral, agar membuatmu menjadi kuat, secara drastis. Setuju?"


"Hah? A-pa maksudmu? Kau pikir, aku akan membunuh orang yang tak b-erdosa? A-ku tak mungkin .. melakukannya .." Malika sedikit menelan ludah, sembari masih dalam keadaan ketakutan.


Sosok itu kemudian berkata, "Cepat atau lambat, perang besar akan terjadi! Dan kau tidak akan punya pilihan selain menjadi kuat, demi menolong orang-orang yang kau anggap berharga!"


"Perang? Kau .. ingin membodohiku, agar mencari jiwa yang kau mau, kan?"


"Kita lihat saja nanti. Duniamu, akan kembali mengulang sejarah yang sama. Roh suci lainnya begitu sombong dalam memilih seseorang yang tepat. Hanya aku! Hanya akulah yang peduli dari dulu, hingga sekarang! Kau pikir, berkat siapa Videlis bisa terbunuh?"


"V-idelis? Yang membunuhnya .. adalah seorang pendekar yang tidak .. di ketahui, kan?"

__ADS_1


"Dia adalah pewarisku sebelum kau, Malika. Hanya kau dan dia yang mempunyai garis keturunan monster paling murni, dari yang lainnya."


-FOLLOW ME-


__ADS_2