KEKUATAN ALAM

KEKUATAN ALAM
Menjatuhkan Raksasa.


__ADS_3

Itu benar-benar suatu keganjilan di pikiran Gazzel, maupun Malika. Mereka tak menyangka, kalau para manusia seperti para penjarah, bisa bekerja sama dengan ras yang berbeda.


"Sial! Apa-apaan ini?!" Gazzel sedikit gemetar melihat raksasa itu.


"Kita harus mundur, kak!" sambung Malika yang sejak tadi sudah ketakutan.


Para warga juga terlihat mulai berlarian dari rumah, untuk menuju keluar Desa sejauh mungkin. Tetapi, sebagian dari mereka, ada yang di tendang dan di injak oleh raksasa itu. Bahkan, ada juga yang di tangkap secara bersamaan dan di lahapnya dalam sekali telan.


"Tolong!"


"Ya Tuhan! Tolong kami!"


"Nenek! Dimana Nenekku!"


Warga-warga berlarian dengan mulut yang tak bisa diam. Deretan rumah mulai hancur satu persatu. Terlihat juga ada seorang bocah laki-laki berumur lima tahun, yang hanya menangis di depan kaki raksasa itu.


"Ayah .. huu .. huu .." tangis anak itu.


Melihat hal itu, langkah Malika tiba-tiba saja menjadi tertahan. Hatinya terpanggil untuk menyelamatkan bocah tersebut. Tanpa menunggu lama lagi, ia langsung melompat ke salah satu atap, sembari meneriaki Gazzel.


"Kakak?! bantu aku!"


Gazzel yang melihatnya di atas atap, seketika mulai paham akan rencana Malika. Keduanya kini mulai beradu kecepatan ke arah si raksasa, namun melewati jalur yang berbeda. Gazzel melesat di sepanjang jalan, sedangkan Malika di atap-atap perumahan.


"Sekarang, Malika!" teriak Gazzel yang hampir mendekati bocah laki-laki tersebut.


Disaat raksasa itu ingin menginjak bocah laki-laki tadi, terlihatlah Malika yang kini tengah melompat dari atap rumah dan berteriak, "Black Ball!" sembari membuang pukulannya ke arah wajah si raksasa dan ..

__ADS_1


"BUURRRM!"


Pukulan itu pun membuat si raksasa menjadi terundur tiga langkah. Gazzel lalu menyambar bocah tadi dan kembali menjauh dengan sempurna. Ketika ia menoleh ke atas, ternyata Malika sedang jatuh menembus salah satu atap rumah, akibat melakukan pendaratan darurat.


"BURMKRAK!" suara jebolnya atap, ketika Malika jatuh menembusnya.


Malika kini tertimpa atap-atap rumah, hingga membuatnya menjadi terkubur di dalamnya. Ia lalu berusaha untuk bangkit dari timpaan benda-benda padat itu.


"Eerh .. aargh .. punggungku .." lirihnya yang merasakan kesakitan.


Raksasa itu mulai kembali berteriak marah. Ia tidak tahu dengan siapa yang menyerangnya tadi. Perlahan, tatapan matanya mengarah ke salah seorang nenek. Anehnya, nenek itu tidak ketakutan dan hanya berjalan lamban, bagaikan tidak terjadi apa-apa.


Gazzel yang sedang menggendong anak tadi, kini sudah cukup jauh dan baru menyadari, kalau masih ada salah seorang warga di sana.


"Tidak! Arrghh!" teriaknya yang lalu berhenti dan melepaskan anak tadi dengan sedikit kasar.


Dengan cepat, kaki kanan si raksasa pun menjadi tertahan. Ketika si raksasa semakin meronta, maka Gazzel harus sekuat tenaga menjaga kunciannya, agar tanah tersebut tetap mengeras.


"Eeaarrgh!" teriak Gazzel yang kini bermandikan keringat, di saat berusaha menahan kunciannya.


Gazzel tidak bisa mengunci kedua kaki si raksasa secara bersamaan. Tahap pengendalian bumi miliknya masih berada di tingkat dua. Itu masih sangat jauh dari kata sempurna.


"Eergghh .. Malika .. di .. mana .. kau?! Arrrghh!" geramnya yang seperti sudah tak sanggup lagi menahan kuncian itu.


Sedangkan nenek yang tadi, ia masih saja berjalan lamban. Ia terlihat seperti putus asa untuk melarikan diri. Gazzel pun terlihat emosi dan ingin segera menampar nenek itu, jika mendapatkan kesempatan.


Si raksasa yang sejak tadi hanya meronta, kini mulai mencakar dan memukul tanah keras yang mengubur kaki kanannya itu. Wajah Gazzel yang cantik juga pun semakin terlihat jelek, akibat masih berusaha menahan kunciannya.

__ADS_1


"Aku .. tak sanggup lagi .." Otot-otot Gazzel seperti ingin meledak saat itu juga.


"Aarrrrrgh!" teriak Malika yang tiba-tiba saja sudah berlari, bersama ketiga bayangannya dari dalam rumah.


Satu bayangan langsung mendekap nenek itu untuk menjauh. Sedangkan yang dua lagi mendobrak kaki kiri raksasa yang tidak terkunci. Hal itu membuat kaki kirinya menjadi sedikit tergeser.


Ketika melihat kaki kiri raksasa yang sedikit goyah, Malika yang masih saja berlari, langsung menarik pukulan andalannya, menuju ke arah tumit kaki kiri tersebut.


"Black Ball!"


"BUUURRRM!"


Pukulan yang bercampur dengan aliran Plexus itu, membuat kaki kiri si raksasa sedikit terangkat naik ke udara, bagaikan seseorang yang sedang menendang pelan ke arah depan.


Ketika kaki kiri raksasa hampir menapak tanah, di saat yang bersamaan juga, Gazzel melepaskan kunciannya dan membangun lima tembok yang bersusun, di bagian belakang kaki kanan. Lima tembok itu langsung menabrak, sekaligus mendorong paksa kaki tersebut, agar membuat raksasa itu seperti sedang tergelincir.


Hal itu tentu saja membuat si raksasa ingin jatuh terduduk. Di saat bokong si raksasa hampir terduduk di tanah, Gazzel pun dengan sigap memunculkan batu-batu runcing besar. Ia benar-benar spontan dalam mengutak-atik satu bentuk, ke bentuk lainnya.


Dan ..


"Huaaarrrk!" teriak si raksasa yang kesakitan, akibat menduduki batu-batu runcing milik Gazzel.


Batu-batu runcing itu menembus ke dalam bokongnya, hingga empat sampai enam meter jauhnya. Ada juga yang patah akibat dudukan itu. Tetapi, kebanyakan batu-batu runcing itu menusuk dengan telak.


Malika yang terlalu menguras tenaga, kini sedang terombang-ambing bagaikan di atas kapal, ketika berlari untuk menjauh. Sesekali, ia melihat ke arah raksasa yang masih saja berteriak kesakitan.


"Hehe .. aku semakin .. kuat .." gumam batinnya, sembari memasang senyuman bibir yang sedikit berdarah.

__ADS_1


-FOLLOW ME-


__ADS_2