
Ketika mereka masih saling bertatapan, si Pengerat langsung memerintahkan para anak buahnya, untuk memanah mereka berdua dari kejauhan.
"Panah kedua orang itu!"
Puluhan anak panah pun melambung tinggi dan turun ke arah mereka berdua. Gazzel hanya mengeraskan kulitnya menjadi batu, sembari berdiri tegap menghadap serangan itu.
"TUK! TAK! PAK! TUK!" suara beberapa anak panah yang terpantul, akibat tak sanggup menembus tubuh Gazzel.
"Cih! Tukang pamer!" ejek si Pengerat yang masih saja berada di atas atap.
Sedangkan Malika, ia sudah bersembunyi di balik pohon, lantaran merasa belum mampu dalam menghindari puluhan anak panah tadi.
Si Pengerat lalu berkata, "Habisi semua warga! Ambil barang-barang berharga mereka dan jangan takut! Akan ku urus dua keparat ini!"
Si Pengerat lalu melompat ke bawah dengan cara bersalto depan, sembari menembakkan anak panahnya menuju Gazzel. Gazzel hanya berdiam diri dan berkata kepada Malika,
"Habisi mereka! Dia bagianku!"
"Baik, kak!"
Mereka berdua lalu berlari secara terpisah. Gazzel kembali meringankan tubuhnya, agar mampu memberikan kecepatan yang seimbang.
Si Pengerat benar-benar lincah ketika berlari menuju Gazzel. Kelebihan dari perubahannya, adalah kemampuan fisik dasar dari tikus pada umumnya. Ia bisa menyelam, berenang, memanjat dan meloncat.
Kelebihan itu mungkin menguntungkan ketika melawan manusia biasa, atau melarikan diri. Jika melawan sesama orang yang di anugrahi kekuatan alam, maka hanya Tuhanlah yang tahu.
Mereka berdua pun saling menyerang dalam jarak dekat. Tak ada yang berani mendekati duel kedua fisik yang berada di atas rata-rata itu. Para keroco lebih memilih mundur dan mengepung Malika yang sedang mengganggu teman-teman mereka di kejauhan sana.
Malika yang sejak tadi sudah menjatuhkan beberapa keroco, kini mulai terpojok, akibat serangan panah yang terus berdatangan. Ia lebih memilih menghindar sembari berpikir,
"Fokus .. Clone .. fokus .." batinnya yang kemudian berteriak, "Clone!"
__ADS_1
"PUW! PUW! PUW!"
Ya, tiga bayangan pun muncul dengan gaya yang berbeda-beda. Sekumpulan keroco tadi langsung menghentikan langkah mereka, akibat terkejut melihat hal itu.
"A-pa itu? Bayangan hitam?" ucap salah satu keroco di antara yang lainnya.
"Hajar mereka!" teriak Malika yang bersemangat.
Ketiga bayangan itu melesat cepat di banding Tuannya sendiri. Warna mereka yang hitam dan menyisakan sepasang mata putih kosong, membuat sebagian keroco menjadi takut untuk melangkah lebih jauh.
"Jangan takut!" seru salah satu keroco.
Dan terjadilah bentrokan di antara tiga bayangan, melawan lebih dari dua puluh keroco. Ketiga bayangan itu terlalu hebat. Ada yang bersalto di atas kepala para keroco, ada juga yang langsung masuk dan memberikan serangan secara membabi buta.
"Haha! Hajar! Hajar mereka sampai mati!" teriak Malika dengan wajah yang tergagum-kagum melihat itu.
Pertarungan itu seperti berat sebelah. Padahal, jumlah keroco sudah jelas lebih banyak. Tapi tetap saja, mereka semua mulai terlihat jatuh satu per satu di depan mata Malika.
"Black Ball!" teriaknya yang geram, sembari membuang pukulan ke arah depan.
"Hiii!"
"Apa-apaan itu?!"
"Sial!"
Teriak beberapa keroco yang kaget setengah mati, akibat melihat tinju raksasa hitam yang mengarah ke mereka semua, dalam kecepatan yang tinggi.
"BURRRMM!"
Belum juga para keroco itu sempat mendekat, serangan Malika sudah saja menghamburkan mereka kemana-mana. Malika sangat menikmatinya. Ia seperti sudah merasa di luar kepala dalam memanipulasi kegelapan.
__ADS_1
"Ini mu .. dah .. sssh .. uuhh .." ucapnya yang terhenti, akibat mulai merasakan panas di kedua bola matanya sendiri.
Hal itu menandakakan bahwa ada beberapa keroco yang sudah mati. Ya, tidak mungkin ada manusia biasa yang selamat dari tinju raksasa tadi.
Malika lalu hanya tersenyum sembari bergumam, "Hehe .. kau lapar, bukan?"
Di saat ia menoleh ke arah para bayangan, ternyata sebagian besar keroco sudah berkocar-kacir melarikan diri. Hanya ada dua keroco saja yang masih di hajar ketiga bayangan, hingga mengakibatkan kematian.
Malika kembali merasakan panas di bola matanya. Benar-benar hari memanen jiwa yang sarat akan kejahatan pada pagi itu. Seketika itu pula, Senju dan Antonov pun tiba dari kejauhan.
Antonov dan Senju mulai menghajar beberapa keroco yang tersisa. Kekuatan Antonov sama seperti Gazzel. Hanya saja, ia belum berada di tingkat dua. Ia belum bisa mengeraskan kulitnya seperti batu.
Di sisi lain, Gazzel masih saja bertarung dengan kekuatan penuh. Si Pengerat mungkin terlihat lincah bagaikan tikus, ketika menjaga jaraknya sembari menembakkan anak panah.
Akan tetapi, ia terlalu fokus mencari-cari celah, dalam keadaan yang masih menapak di tanah. Itu sudah jelas, kalau daratan adalah keunggulan bagi para pengendali bumi.
Batu-batu runcing mulai bermunculan di bawah kaki si Pengerat. Hal itu membuat semua jari kaki kanannya beterbangan, akibat tersayat oleh salah satu dari sekian banyaknya batu yang muncul.
"PSIIIIK!"
"Arrrrgghh!" teriaknya yang kesakitan dan berusaha menjauh dari Gazzel.
"Tak akan ku lepaskan .." gumam Gazzel, sembari memanipulasi tanah yang muncul dari arah kiri dan kanan si Pengerat.
Bagaikan dua telapak tangan yang sedang menepuk seekor nyamuk, dua bongkahan tanah yang tiba-tiba saja membentuk sebuah tembok besar, langsung menjepit si Pengerat yang terlambat untuk menghindar.
"BUAAR!" suara tepukan raksasa dari kedua tembok tadi.
Darah bermuncratan keluar, di saat kedua tembok itu saling bertabrakan satu sama lain. Si Pengerat tewas bagaikan seekor cicak yang terjedot pintu. Benar-benar pertarungan yang singkat.
"Cih! Apakah si Pengerat yang terkenal itu, selemah ini?" ucap Gazzel yang sedikit memasang senyuman sombong.
__ADS_1
-FOLLOW ME-