
Kini, waktu sudah berada tepat pada pukul dua belas malam. Morca dan Alkila juga sudah membuka portal, dalam misi menuju gunung Ababel. Sedangkan Malika dan Makunamu, mereka berdua hanya tak saling berbicara sejak tadi.
"Hati-hati. Portalku belum sesempurna Yang Mulia. Kita bisa saja tembus di tempat-tempat berbahaya yang berdekatan dengan gunung Ababel," jelas Alkila.
"Berbahaya? Apa maksudnya .." batin Malika sedikit cemas mendengar itu.
Ketika satu persatu memasuki portal, semuanya pun berubah menjadi hal yang berbahaya. Bukannya menembus langsung di sekitaran pegunungan Ababel, mereka semua malah terjun bebas dari langit yang berada tepat di atas gunung tersebut.
"Hiii! Apa kalian berdua bodoh, hah?!" teriak emosi Malika yang bercampur dengan ketakutan.
Morca kini berpegangan pada kedua kaki Alkila. Tubuhnya memanglah sangat besar. Tetapi, Alkila akan memperlambat momentun jatuhnya mereka berdua, dengan cara memutar kapaknya bagaikan baling-baling. Sedangkan Malika, ia kini di ambil alih oleh Kegelapan dan mendekap tubuh Makunamu, agar melakukan teleportasi dalam jarak dua meter sekali, secara bertahap.
Malika terlihat berpindah-pindah tempat di antara langit-langit malam, dengan meninggalkan jejak asap berwarna hitam di bawah sinar rembulan. Ia semakin jauh meninggalkan posisi Alkila dan Morca. Di sela-sela itu juga, batin sang Kegelapan dan jiwanya sedang melakukan perbincangan.
"Bisakah kau mengajarkanku caranya berteleportasi?" tanyanya tiba-tiba.
"Kau hanya perlu menekan semua aliran Plexus pada bagian jari-jari kaki. Tetapi, menggunakan teleportasi sangat menguras aliran Plexus manusiamu, Malika. Gunakanlah di saat-saat genting .."
"Tapi, aku pernah melakukannya, ketika melarikan diri dari Martis. Kau pasti tahu kejadiannya, kan?"
"Tapi setelah itu, kau merasa kelelahan, kan?"
"Ya .. itulah maksudku. Kenapa aku tidak menggunakan Aliran Plexusmu saja?"
"Di saat mengendalikan tubuhmu, aku bisa mensirkulasikan setengah Plexusku, dengan cara memakai umur tumbal sebagai bahan bakar. Jika kau sudah tidak ku kendalikan, maka kau harus memakai seluruh aliran Plexsusmu, hanya untuk mengendalikan secuil kekuatanku. Plexusmu dan Plexusku, sama sekali belum menyatu, bodoh .."
"Aku kan hanya bertanya, sialan!"
Di sela-sela mereka berdua yang sedang saling menghina, Makunamu hanya terdiam, sembari menyembunyikan senyumannya di dalam pelukan Malika. Semakin lama juga, mereka berdua semakin menuju ke dataran hutan rimba yang mengelilingin gunung Ababel.
-
__ADS_1
-
-
☆☆☆☆☆
Lima menit kemudian, mendaratlah Malika bersama Makunamu di tengah hutan belantara. Tak lupa kemudian dengan Morca yang mendaratkan kedua kakinya, hingga memicu tanah sedikit bergetar, bersama Alkila yang hendak duduk di atas pundaknya.
"Lewat sini," ucap Alkila yang kemudian mempimpin perjalanan bersama Morca.
Sedangkan Makunamu, ia mulai memberikan senyuman dan tatapan intim kepada Malika. Malika tak bisa mempertahankan tatapannya. Celananya sudah mengembung, akibat pikirannya yang mulai kemana-mana.
-
-
-
☆☆☆☆☆
"M-M-Morca! Morca dan Alkila datang!" seru salah satu orang di sekitar situ.
Mata demi mata tak lepas memandangi kedatangan mereka berempat. Tak hanya itu saja. Ternyata, ada beberapa bangunan yang terbuat langsung dari bebatuan gua itu. Dari bangunan itu juga, bermunculanlah lebih banyak orang-orang, untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Tak lama kemudian, munculah sesosok pria yang bernama Leon, pemimpin tertinggi di pasukan Aliansi Pemberontak. Ia kemudian berjalan pelan mendekati Morca dan Alkila.
"Apa yang terjadi, Morca? Apakah ada perubahan rencana?" tanyanya, sembari mengupil dengan santai.
"Ya. Raja Mexuca ingin anak inilah yang memimpin pasukan Aliansi Pemberontak. Tapi tenanglah. Strategi dari Raja tetap sama dan takkan di ubah. Hanya saja, kau harus berada di bawah komando anak ini, ketika menyerang bagian selatan nanti, Leon," jelas Morca.
__ADS_1
"Apa? Siapa anak ini?"
"Dia adalah wadah dari Kegelapan. Roh Suci Kegelapanlah yang akan memutar otak dalam memimpin kalian."
Orang-orang mulai heboh mendengar itu. Berbagai kata-kata tak jelas saling bersahutan satu sama lain. Sedangkan Leon, ia mulai mengerutkan alis dan melihat Malika dengan tatapan meremehkan.
"Apa ini? Seenaknya saja kalian datang dan tiba-tiba menggantikan posisiku dengan bocah tak jelas ini! Kekuatanku sudah bercampur dengan energi Yang Mulia Mexuca! Apa lagi yang kurang?"
"Kau ingin bertarung dengannya?" tawar Morca santai.
Leon kembali tertawa, menatap dekat wajah Malika dan berkata geram, "Kau ingin melawanku?" sembari menunjukkan perubahan tubuhnya yang perlahan membesar, membesar dan membesar.
Malika hanya memasukan tangannya ke dalam saku, serta menaikkan kepalanya menatap perubahan Leon yang semakin lama, semakin menutupi seluruh cahaya di sekujur tubuhnya.
Leon, memiliki wujud perubahan Srigala yang terlihat aneh, akibat ada corak retakan larva yang menyala-nyala di sekujur tubuhnya. Ukurannya juga dua kali lipat dari pemilik wujud hewan biasa.
Ketika sudah mencapai perubahan maksimal, Leon masih saja menatap Malika dengan wajah Srigalanya. Ia ingin sekali mengintimidasi pendatang baru yang mencoba menggeser posisinya, sebagai yang terkuat di dalam Aliansi pemberontak.
"Sekarang, kau sudah tahu siap .." ucap Leon yang terhenti.
Belum juga Leon menyelesaikan kata-katanya, ia sudah terlempar mundur dan menghantam dinding gua, akibat di tendang oleh Malika.
"BUUURRRM!"
"Uwaaaah!" seruan seluruh prajurit pemberontak dengan mata yang hampir copot, di saat melihat Leon yang terhempas bagaikan mainan anak-anak.
Ternyata, Malika sudah di kuasai oleh sang Kegelapan sejak tadi. Hanya saja, mata hitamnya tidak terlihat, lantaran cahaya yang di tutupi tubuh Leon tadi, menyamarkan kedua matanya.
"Hewan, hewan dan hewan. Kalian hanyalah peliharaan di Taman Sembilan Roh Suci. Tidak pantas membentak majikan sendiri," ujar sang Kegelapan lewat raga Malika.
__ADS_1
Morca dan Alkila mulai mundur perlahan menjauhi Malika. Sedangkan Makunamu, ia semakin bergairah saat melihat hal itu.
-FOLLOW ME-