
Setelah sekian lama ..
"Jangan pernah mencuri lagi, Malika. Sebab, kau nanti akan ku renggut sebagai Polisi Desa," ujar Valun, sembari memberi nasehat.
"Aku berjanji, kek," balas Malika yang sedikit tersenyum, sembari menggaruk-garuk kepala.
Akhirnya, mereka berdua pun berpamitan kepada Valun dan Gazzel, untuk segera pergi dari situ. Perlahan, suara langkah mereka berdua, semakin terdengar samar meninggalkan lorong-lorong sekolah.
"Tuan?" tegur Gazzel yang membuka keheningan.
"Ya .. kurasa anak itu juga dikaruniai kekuatan elemen," jawab Valun dengan singkat.
Gazzel juga sempat terpaku dengan perkatan Martis, tentang "kekuatan aneh" di saat membicarakan Malika tadi. Mereka berdua tahu kalau Martis tidak bodoh dalam mengenali sesuatu, juga tidak akan berani melapor, jika hal tersebut bukanlah sesuatu yang penting.
-
-
-
-
-
☆☆☆☆☆
Kini, lebih tepatnya pukul dua belas siang, Linanzha sedang mengobati hidung Malika, di ladang bunga matahari tadi. cerahnya langit yang diiringi deretan awan berbagai bentuk, membuat siapapun pasti merasakan damai. Namun tidak dengan Malika.
"Bisakah kau menjauh sedikit? Aroma parfum mu sangat menyengat, Lin," ujar Malika yang sesekali membuang muka, lantaran terlalu dekat dengan Linanzha yang kini, sedang mengobati hidungnya.
Linanzha hanya membalas, "Aku memakai banyak parfum, agar baumu yang seperti tikus, tidak tercium olehku," sembari menekan hidung Malika dengan keras.
"Ssh .. aaw! Apa yang kau lakukan?" kata Malika yang kesakitan.
"Terlalu manja!" Linanzha lalu menjulurkan lidah, sekaligus selesai dalam mengobati Malika.
Mereka berdua kemudian saling berbagi masalah. Linanzha bercerita tentang dirinya yang bertengkar dengan sang Ayah semalam. Sedangkan Malika, ia menceritakan semuanya secara detail. Ya, secara detail.
"Kau tidak membohongiku, kan?" tanya Linanzha yang terkejut hebat, ketika mendengar bahwa Malika bisa berteleportasi, saat melawan Martis.
"Aku bersumpah, Lin! Aku bahkan mengira, kalau pertemuanku dengan Martis itu, hanyalah mimpi!" jawab Malika yang serius, sembari melebarkan mata dan mengangkat kedua jarinya di udara.
__ADS_1
Linanhza terlihat gembira mendengar itu. Ia tahu kalau Malika takkan mungkin membohonginya. Tanpa berkata lagi, Linanzha langsung menampar pipi Malika dengan sedikit keras.
"PLAK!"
"Ouch! Apa yang kau lakukan?" Malika kaget atas tamparan itu.
"Mungkin, di saat kau sedang terdesak atau merasakan sakit, kekuatanmu akan keluar secara tiba-tiba," jelas Linanzha yang kemudian, berdiri di depan Malika yang sedang duduk, "Ayo, berlatih," lanjutnya sembari menongkak pinggang.
"A-apa? Hidungku bahkan belum sembuh! Aku tidak mau!" tepis Malika yang kemudian membuang muka ke arah lain.
"Ayolah, Lika! Dua hari lagi, aku sudah meninggalkan Desa untuk pendidikan selanjutnya! Aku ingin melihat kekuatanmu!" jelas Linanzha yang sedikit menarik-narik Malika untuk berdiri.
"T-api, bagaimana jika tidak berhasil, bodoh?" Malika sedikit melawan tarikan tersebut.
"Jangan berkata seperti itu! Kau harus yakin! Ingat! Yakin!" tegas Linanzha yang kemudian menarik paksa Malika agar berdiri.
Malika pun sedikit bersemangat akan hal itu. Mereka berdua lalu saling berhadapan, dalam posisi berdiri yang agak jauh.
Perlahan, Linanzha mulai memasang gaya bertarung. Sedangkan Malika, ia hanya berdiri sembari membunyikan lehernya, ke kiri dan ke kanan.
"Aku ingin melihat kekuatanmu, Lika! Jadi, mungkin aku akan sedikit keras kali ini!" kata Linanzha dengan raut wajah yang serius.
"Ya! Bersiap sajalah!" ucap Linanzha sekali lagi.
Angin mulai sedikit berhembus diantara mereka berdua. Tatapan Malika yang tajam, kini terbalas oleh Linanzha yang kemudian berlari secepat kilat, bagaikan ninja yang menaruh tangan di belakang.
"Hiii.." batin Malika yang kaget, ketika melihat kecepatan Linanzha yang jauh di atas normal.
Mata Linanzha kini berbeda dari yang biasanya, ketika sedang berlari. Ia seperti melihat Malika sebagai seorang musuh. Sontak saja, Malika langsung membuang pukulan sekeras mungkin, di saat jarak mereka berdua sudah dekat.
Namun, Linanzha menghindarinya dengan cara menangkis, menahan dan mengunci tangan Malika di ketiaknya dalam sekejab, sembari membenturkan kepalanya, ke dada Malika sekeras mungkin.
"BUK!"
"Uhurrgh!" rintihan Malika yang kesakitan.
Tanpa ada jeda sedikit pun, Linanzha langsung memberi serangan ganda, berupa melepas tangan Malika terlebih dahulu, lalu membuang pukulan ke arah kiri dan kanan pipi Malika, hingga berakhir pada tendangan keras, yang melesat ke arah perut.
"BUK BUK BUAK!" suara keras pukulan dan tendangan Linanzha tadi.
"Urrrghhh .. urrgh .. arrrggh!" rintihan Malika yang menerima serangan ganda itu.
__ADS_1
Serangan kilat tersebut, mampu membuat Malika terlempar mundur dan terduduk, hingga membuatnya berguling jauh, ke arah belakang sebanyak empat kali.
Ia pun berhenti berguling, dalam keadaan posisi bokong yang naik di udara. Kini, Malika sedang menggeliat kesakitan memegang perutnya.
"Hii .. apa dia ingin membunuhku .." batin Malika yang tak kuasa menahan sakit.
"Bangunlah, Lika!" teriak Linanzha yang masih memasang gaya bertarung.
Malika kesulitan bernafas akibat tendangan itu. Posisinya yang sejak tadi masih menaikan bokong di udara, perlahan jatuh menyamping, sambil tetap masih menggeliat bagaikan ulat di atas air.
"Arhg .. ergh .." Malika pun berdiri dengan perlahan, sembari memegang perutnya.
"Aku suka menyakitimu .." lirih Linanzha dengan senyuman jahat, lantaran melihat Malika yang sudah berdiri.
Ucapan Linanzha itu tak terdengar oleh Malika, lantaran posisi mereka berdua sedikit jauh. Malika hanya melihat senyuman Linanzha yang kini, tak lagi terlihat manis.
Ya, Malika tahu dengan senyuman itu. Itu adalah senyuman dimana Linanzha, ingin sekali bertarung serius dengan siapapun, termasuk sahabatnya sendiri.
"Sepertinya, dia sedang lapar .." lirih Malika kepada diri sendiri, sembari meraut wajah tersenyum.
Tiba-tiba, Linanzha pun berlari dengan kecepatan yang sama seperti tadi. Namun, ketika sudah cukup dekat dengan Malika, ia langsung menghentikan langkahnya, hingga membuat kedua kakinya terseret maju bagaikan berseluncur, di atas rerumputan hijau.
Malika yang kini melihat Linanzha sedang berseluncur ke arahnya, langsung sedikit melangkah mundur dan melompat di udara, untuk memberikan tendangan berputar ke arah pipi Linanzha.
Tapi, siapa yang menyangka, kalau gadis cantik itu berhenti tepat di depan tendangan berputar tersebut, untuk menangkapnya, menariknya dan berteriak, "Aku bukan Martis, bodoh?!" sembari berputar sekali, untuk melempar Malika, hingga terkapar cukup jauh.
Ya, lagi-lagi Malika berguling tidak karuan saat mendarat ke tanah. Ia pun berhenti dalam posisi terbaring ke samping. Dengan cepat, Malika langsung berdiri dan berteriak, "Hiii! Dimana kekuatanku?!" dengan wajah yang penuh dengan rerumputan.
"Dasar lemah," ucap Linanzha yang sesekali bersenam di depan Malika.
"Aarrrgh! Kurang ajar!" balas Malika yang kesal, ketika melihat Linanzha seperti sedang mengejeknya, dalam keadaan bersenam.
Linanzha kemudian berkata, "Mungkin, dengan cara seperti ini, kekuatanmu akan keluar, Lika!" sembari meninju ke udara, hingga mengeluarkan satu semprotan api yang panjang dan melebar.
"Hiii! Kau sudah gila! Kau ingin membunuhku?!" mata Malika menunjukkan ketakutan, saat melihat semprotan api tadi.
Linanzha hanya membalas, "Haha! Bersiaplah!" dan kemudian berlari ke arah Malika, sembari berteriak, "Cannon Ball!"
"Eeeeeehhhh?!" Mata Malika hampir terlepas mendengar itu.
"FOLLOW ME-
__ADS_1