
Kini, ketika waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, Malika dan Gazzel sudah bergegas dalam menuntun seluruh warga, untuk menuju ke Desa Avalon. Pagi yang begitu cerah, ketika mereka berdua berjalan di antara 892 warga yang sedih akan peristiwa semalam. Jumlah mayat membuat keluarga korban harus menghayutkan perasaan itu, di dalam kepasrahaan air mata. Semua, pasti akan indah pada waktunya.
-
-
-
-
-
☆☆☆☆☆
Sementara itu, di Kerajaan Monster, sang Tertinggi kini sedang duduk melihat kedua pengintai terbaiknya yang masih menekuk satu lutut sejak tadi. Ia baru saja dapat laporan dari mereka berdua, tentang keberadaan Malika yang menghilang dari Desa.
"Kemana bocah itu? Apa dia ketakutan mendengar Desa lain yang hancur?" sang Tertinggi mengerutkan alis, sembari menghelai nafas berat berulang kali, akibat menutup kemarahannya yang serasa ingin meledak.
"Hamba rasa, tidak seperti itu, Rajaku. Ia tidak terlihat seperti anak yang penakut. Mungkin, ia sedang bepergian ke dalam hutan," jelas Alkila yang kemudian menelan ludah, lantaran takut berbicara salah kepada maha kuasanya.
Sang tertinggi lalu beranjak dari singgasananya, berjalan mengikuti arah karpet hitam yang panjang menuju Alkila dan Morca, sembari menjelaskan,
"Sejak aku kecil, Ayah pernah bercerita bahwa sosok Kegelapan, memiliki inti dari kekuatan elemen lainnya. Yaitu, menyerap Roh Suci yang lain, agar si pengendali bisa menguasai dua Roh dalam satu wadah. Itu adalah sebuah fenomena yang membuatku ingin sekali berteman dengan mereka, agar mendapatkan kekuatan besar dalam pihak kita."
"Tetapi, Rajaku .. bukankah .. Roh Kegelapan .. sudah mengkhianati kita sejak dulu?" sambung Morca, yang masih saja menundukkan wajah menahan gugupnya, ketika melontarkan pertanyaan berbahaya tadi.
"Pengendali pertama sudah menguncinya dengan jurus Gerbang Hati. Itulah yang ku tahu dari Ayah sebelum beliau wafat karena Videlis! Cih! Sentinel itu! Aku sangat membenci Roh elemen Api! Perang akan segera di mulai besok sore nanti. Aku tak ingin menunggu lama! Segera periksa lagi keberadaannya dan jangan kembali, sampai kalian berdua melihatnya!"
"B-baik, Rajaku!" jawab serentak mereka berdua dan pergi begitu saja dengan sedikit berkeringat.
__ADS_1
"Arrgh .. kemarilah sayang-sayangku," sang Tertinggi memanggil keempat selirnya, untuk melakukan pesta nakal di atas singgasana.
Satu persatu dari mereka mulai datang dengan tingkah yang kegenitan. Semakin lama, organ intim sang Tertinggi mulai di raba, di elus dan di keluarkan mereka dari sarangnya. Dan terlihatlah sebatang pipa paralon sepanjang sebelas inci, sedang berdiri tegak di depan tatapan para selir yang nakal. Mereka mulai mengerumuni pipa itu dan mencubit-cubitnya dengan lembut, secara bersamaan.
"Aaahh .. teruskan .." lirihnya menikmati setiap lentikkan jari lembut dan halus, yang bermain di sekitaran ujung, hingga melingkari seluruh permukaan kulit pipanya yang semakin mengeras dan memuncratkan cairan penerus secara sia-sia.
-
-
-
-
-
☆☆☆☆☆
Raja Labbrax beranggapan, kalau ramalan itu hanyalah suatu kerusuhan acak tanpa arah, dari serangan kumpulan monster yang mungkin hanya sekedar lapar dan mencari mangsa. Tetapi Raja Jalbar juga beranggapan, mungkin telah munculnya kekuatan baru dari jejak era ribuan tahun lalu.
Perjamuan itu pun usai, setelah Raja Jalbar sepakat untuk memberikan bantuan 600.000 parajuritnya, beserta dengan Tiga Xenel. Kini, prajurit Labbrax memiliki 2.100.000 prajurit yang mengitari berbagai sisi di perkotaan. Mulai dari Gerbang raksasa kota, hingga Akademi Angelo tempat para murid terbaik menimba ilmu.
-
-
-
-
__ADS_1
-
☆☆☆☆☆
Ketika waktu mulai gelap, Malika, Gazzel dan para warga terbuang mulai melihat Desa Avalon dari kejauhan. Penjaga Gerbang Avalon juga mulai membuka pintu ketika melihat mereka.
Semua berakhir dengan selamat dalam perjalanan seharian tadi. Hanya rasa lelah yang menyelimuti pergelangan kaki rombongan itu. Selanjutnya, timbulah rasa bersyukur, atas kehidupan yang lebih baik di Desa yang Baru.
Bagi mereka yang baru datang, akan di alihkan ke perumahan terbengkalai bagian barat. Itu akan menjadi rumah mereka untuk sementara waktu, seiring pembangunan yang akan terus berlanjut dari hari ke hari nanti.
Kepala Desa mulai mengalihkan semuanya dan memberikan sebagian akses air, perkebunan, hingga tempat perawatan bagi mereka yang sakit.
-
-
-
-
-
☆☆☆☆☆
Sementara itu, di kerajaan monster,
"Rajaku, anak itu baru saja tiba di Desa, dengan membawa banyak rombongan manusia entah dari mana," ungkap Alkila dengan wajah yang meyakinkan.
"Begitu, kah? Baiklah .. aku akan kesana dan kembali bersamanya. Jangan ada yang mengikutiku. Kalian akan mati, jika terlalu dekat dengan sang Kegelapan yang bisa saja mengontrol tubuhnya."
__ADS_1
-FOLLOW ME-