
Kedatangan Malika yang berisik, membuat semua mata kini tertuju padanya. Gazzel dan Senju memasang ekspresi terkejut melihat kekuatan Malika. Sedangkan Valun, ia mulai memikirkan simbol yang pernah digambarnya waktu itu, ketika melihat hal yang sama.
Di sela-sela itu juga, para keroco monster mulai kembali melakukan penyerangan. Tak hanya itu. Jumlahnya juga semakin bertambah. Terlihat jelas, bahwa sekumpulan monster kini mulai berlari dari arah hutan, menuju area pertempuran.
Terlalu sulit. Sebagian warga yang masih bisa bertarung, kini mulai berlari ketakutan. Mereka berlari ke arah Malika dan Linanzha, untuk meminta perlindungan.
"K-ami serahkan padamu, nak! Tolong kami!" mohon salah seorang warga yang berkocar-kacir di antara warga lainnya.
Namun Linanzha lebih terpukau dengan kekuatan Malika tadi. Ia kemudian menatap Malika dan berkata,
"I-tu luar biasa, Lika! Tapi, kita tidak punya waktu untuk membahasnya sekarang! Bantu aku!"
"Sudah kubilang! Kekuatanku kadang keluar begitu saja!" balas Malika dengan wajah yang cemas.
"Berusahalah, bodoh! Fokus! Atau kita akan mati!"
Linanzha kemudian memasang kuda-kuda, sekaligus merapalkan nama suatu jurus dengan lantang.
"Dragon's Breath!"
Gazzel yang sempat mendengarkan rapalan jurus itu dari kejauhan, langsung menjadi terkejut hebat, lantaran tahu dengan daya hancur jurus tersebut. Dan ..
"WHOOOOSSSSSSH!"
Bagaikan badai api yang keluar dari mulut seekor naga raksasa, semprotan dahsyat itu sungguh besar dalam memakan area sekitar. Hal itu juga membuat kedua kaki Linanzha menjadi terseret mundur, akibat tak mampu menahan dorongan dari semprotan api tersebut.
Sekumpulan monster yang berdatangan tadi, langsung terbakar dan terhempas kemana-kemana. Bahkan, serangan itu masih saja terus lurus ke depan, hingga menghantam pepohonan. Kebakaran hutan pun terjadi dalam sekejab.
Akan tetapi, serangan dahsyat itu membuat suhu tubuh Linanzha semakin naik di atas normal. Ya, Linanzha merasakan panas yang berlebihan. Bahkan di saat ia membuang nafas lewat mulut, uap panas pun juga ikut keluar, bagaikan seseorang yang menghembuskan asap rokok.
"H-ei, Lin?" tegur Malika, sembari menahan posisi Linanzha yang sedikit goyah.
"Aku tidak apa-apa!" tepis Linanzha yang kemudian menjaga posisi berdirinya dan lanjut berkata, "Dimana kekuatanmu? Berusahalah!"
__ADS_1
Ketika beberapa monster yang baru saja tiba sedang mengarah ke mereka berdua, gumpalan asam yang seukuran dua kali bola basket pun menghantam kedatangan sekumpulan monster-monster itu.
"Hueerrkk!" erangan beberapa monster yang terkena bola asam tadi.
Monster-monster itu meleleh seperti keju yang di panaskan. Sungguh pemandangan yang begitu menjijikkan. Lelehan itu terjadi di depan mata Malika dan Linanzha.
Untungnya, cipratan dari ledakan zat asam itu tidak mengenai Malika dan Linanzha. Martis lalu melompat dan mendarat tepat di depan mereka berdua, dalam keadaan sudah berwujud menjadi katak.
"Kalian baik-baik saja?" tanya Martis yang perlahan berdiri dengan kedua kaki.
"Terima kasih, Martis," ungkap Linanzha yang sedikit terkejut melihat kedatangan Martis.
"Kebakaran apa ini? Apa kau yang melakukannya? Apa kau sudah gila?" Martis keheranan melihat kobaran api yang begitu besar di depannya.
Linanzha hanya membalas, "Jangan banyak bicara lagi! Kita harus selesaikan ini! Malika? Kumohon, fokuslah!"
"Tunjukkan kekuatanmu itu! Aku ingin melihatnya!" sambung Martis dengan antusias.
Martis keheranan mendengar Malika yang mengatakan itu. Baginya, Malika terlihat seperti seorang yang amatiran. Ia mengira, kalau Malika sudah menguasai kekuatan tersebut.
"Apa itu? Ku kira kau sudah menguasainya?"
"Diam bodoh! Kau mengangguku! Fokus! Fokus!"
Tak bisa di pungkiri. Malika memang masih belum bisa menguasai kekuatannya. Dengan terpaksa, Linanzha dan Martis harus berlari ke arah para Guru untuk membantu mereka. Sedangkan Malika yang masih berkomat-kamit menyebutkan "fokus," langsung di tinggalkan begitu saja.
Jumlah keroco monster kini mulai berkurang. Sebagian besarnya tadi, di akibatkan oleh serangan Linanzha. Efek dari api Linanzha itu pun, kini menjalar ke pepohonan dan menyebabkan kebakaran hutan besar-besaran.
Sedangkan Alkila, Morca dan sang pemimpin tadi, mereka hanya menonton. Si pemimpin tadi sempat terpaku dengan kekuatan Linanzha. Akan tetapi, Malika tetap menjadi yang utama dalam perhatiannya.
"Aku akan mengurus mereka semua. Kalian berdua, kembalilah menambah daya portal, hingga semua pasukan bisa keluar dengan aman."
"Siap, Tuan!" jawab Alkila dan Morca secara bersamaan.
__ADS_1
Si pemimpin itu mulai berjalan sombong ke arah mereka yang sedang bertarung melawan para keroco monster. Langkahnya yang lamban, membuat siapapun tahu, kalau sosok pemimpin itu sangat sombong.
-
-
-
☆☆☆☆☆
Sementara itu, di rumah Linanzha, sang Ayah meminta ijin untuk keluar mencari para warga. Sang Ibu sebenarnya tak rela dengan hal itu. Tapi entah kenapa, sang Ibu tak bisa melawan. Sang Ayah terlalu keras kepala. Pada akhirnya, sang Ayah pun pergi begitu saja.
Ketika sang Ibu melihat sang Ayah pergi begitu saja, ia pun menutup pintu keluar dan berencana untuk memeriksa Linanzha. Ketika ia menarik gagang pintu kamar anaknya itu, ternyata sudah terkunci.
"Linanzha? Linanzha?" panggilnya yang sembari memainkan gagang pintu secara paksa.
Naluri seorang Ibu sangat kuat. Ia tahu kalau ada yang aneh. Kelembutan sang Ibu pun mulai memudar, ketika pintu tersebut di tendang keras olehnya.
Pintu pun terbuka dengan keras, hingga membentur dinding. Dan tentu saja, tatapannya langsung berubah menjadi dingin, lantaran tak melihat sosok Linanzha di kamar tersebut.
Sang Ibu lalu memandangi jendela kamar Linanzha yang di balut sehelai gorden. Ketika sang Ibu membuka gorden itu, ternyata satu teralis besinya sudah hilang.
Kini, terkuak sudah lubang tikus yang selalu di lewati Linanzha. Sang Ibu hanya memperhatikan jendela itu dalam diam. Pikirannya di penuhi dengan sosok yang selalu mempengaruhi Linanzha. Siapa lagi kalau bukan Malika.
Sang Ibu kemudian berlari menuju suatu ruangan yang dimana, ada sebilah pedang yang di sembunyikannya. Pedang itu, adalah satu-satunya peninggalan masa lalu yang masih di simpannya sampai saat ini.
Ada ukiran huruf kecil yang membentuk sebuah kalimat di bagian mata pedang tersebut. Kalimat pada ukiran itu bertuliskan Xenel.
Sang Ibu kemudian mulai keluar dari kediamannya dan melompat ke atap-atap rumah warga, untuk mempercepat waktu, sekaligus mendapat pengelihatan yang luas dalam mencari jejak. Ya, Ibu Linanzha bukanlah seorang Ibu yang biasa pada umumnya.
Ketika sang Ibu sedang melompat dari satu atap ke atap lainnya, ia tak menyadari, kalau ada salah satu murid terbarik yang tak sengaja melihatnya. Murid itu pun mulai membuntutinya secara diam-diam.
-FOLLOW ME-
__ADS_1