KEKUATAN ALAM

KEKUATAN ALAM
Si Manusia Katak.


__ADS_3

Mendengar perkataan Gazzel dan Senju dari kejauhan, Valun pun akhirnya memanggil mereka berdua untuk tidak memedulikan kedua monster tadi.


Kini, Valun yang terlihat perlahan mengambil posisi duduk begitu saja di tanah, langsung memerintahkan Gazzel dan Senju, untuk menenangkan para warga yang sebagian besar masih terlihat kacau.


Bagaimana tidak kacau, kemenangan mereka itu tidak sebanding dengan apa yang di jejakkan Morca dan Alkila. Kehancuran yang memakan korban, membuat sebagian warga yang merasa kehilangan, menjadi setengah gila dalam menanggapi hal tersebut.


Menangis tersendu-sendu, bersujud sembari memukul tanah berulang kali, menatap kosong rumah yang hancur, lemas, marah, itulah macam-macam ekspresi berbagai warga saat ini.


-


-


-


☆☆☆☆☆


Sementara itu, di bagian barat Desa, Malika sudah berada dalam setengah perjalanan menuju rumah Martis. Namun, di sela-sela perjalanannya itu, ia melihat asap kebakaran sisa-sisa dari kejadian tadi.


"A-pa itu?" tanyanya kepada diri sendiri.


Tak lama kemudian, siapa yang menyangka, kalau Alkila dan Morca, ternyata melarikan diri menuju tembok barat, melewati jalur yang membuat mereka saling berpapasan dengan Malika.


"Hiii!" seru Malika yang memandang ke arah mereka berdua.


Ya, momen itu, langsung membuat Malika menarik tali tunggangannya dan berhenti tepat di depan mereka berdua. Alkila dan Morca juga terpaksa harus berhenti akibat terhalangi oleh Malika.


Saling tatap menatap pun tak terhindarkan. Mata Malika sungguh terbuka lebar, akibat melihat wujud Morca yang begitu besar. Tanduk yang berada di kepala Alkila juga tak luput dari pandangannya.


Malika hanya mampu bergumam, "M-m-monster .." dengan bibir yang bergetar akibat ketakutan.


"Wah .. wah .. wah .. siapa ini?" Morca menatap Malika dengan wajah yang mengerikan.

__ADS_1


Sedangkan Alkila yang kesakitan, hanya bisa melompat ke atas atap-atap rumah dan berkata, "Tidak ada waktu untuk itu, Morca! Mereka sedang mengejar kita!"


Morca lalu berlari ke arah Malika sembari membalas, "Ini tidak akan lama! Aku akan melampiaskan semuanya kepada serangga kecil ini!"


"S-ial! Sial!" teriak Malika yang ketakutan melihat Morca yang sedang berlari ke arahnya.


Dengan sigap, Malika pun melompat turun dari kudanya dan langsung memasang posisi bertarung. Ia mulai menarik tangannya dan berharap pukulan raksasanya bisa keluar sekali lagi.


Dengan tergagap-gagap, Malika pun berteriak, "B-lack! Eh .. Ball!" Black Ball!"


Malika lalu membuang pukulannya ke arah Morca dengan sepenuh jiwa dan raga. Akan tetapi, tidak terjadi apa-apa. Ya, hanya ada pukulan seorang manusia biasa yang mengarah ke depan memukul angin kosong.


"T-idak! Jangan lagi!" Malika terkejut, lantaran kekuatannya tidak keluar sama sekali.


Morca yang melihat itu dalam keadaan yang masih berlari, hanya merasa bingung dengan tingkah Malika. Di saat sudah sangat dekat, tanpa di sangka-sangka ..


"BUUAAAK!"


Martis begitu datang tepat waktu. Ia lalu kemudian melompat ke arah Malika dan memasang posisi bertarung. Sedangkan Malika, ia hanya menarik dan menghembus nafas akibat panik karena hal tadi.


"Kau tidak apa-apa?" pandangan Martis masih menatap ke arah Morca.


"Kenapa kau bisa disini? T-api .. syukurlah! Aku hampir mati!"


Alkila sangat geram melihat itu. Tanpa memedulikan lukanya lagi, ia langsung melompat ke arah Malika dan Martis, sembari memutar-mutar kan kapaknya bagaikan baling-baling.


"Kurang ajar! Menjauhlah dari kami!"


Alkila lalu melempar kapaknya itu ke arah mereka berdua. Bagaikan baling-baling tajam, serangan itu membelah rumah-rumah terbengkalai, tiang lampu jalan dan bahkan kuda milik Martis pun ikut terbelah dengan sadis.


Ketika serangan itu hampir mendekati mereka berdua, Malika pun menghindarinya dengan cara tiarap, sembari memegang kepalanya, bagaikan orang yang takut dengan ledakan boom. Sedangkan Martis, ia menghindar dengan cara bersalto di atas putaran kapak tersebut.

__ADS_1


Kapak itu pun kembali ke tangan Alkila, ketika dirinya sudah mendarat di tanah. Alkila lalu menuju ke arah Martis dan melontarkan serangan-serangan angin yang tajam.


Namun, Martis cukup lincah. Ia mampu menghindari kecepatan serangan bertubi-tubi itu dengan baik. Di saat melihat kesempatan, dengan sigap, Martis langsung mengeluarkan jurus andalannya.


Ia mulai berdiri dengan kaki empat layaknya katak dan memuntahkan suatu cairan yang berbentuk seperti bola ke arah Alkila. tembakan muntahan dari mulutnya itu, melesat bagaikan tembakan meriam.


Alkila pun menghindar, dengan cara berguling jauh ke arah samping. Namun, bola muntahan itu bukannya terus melesat lurus, tapi malah meledak dan menciptakan muncratan asam yang menyebar kemana-mana.


"BLUAAAAR!"


Sedikit muncratan asam itu pun, tentu sedikit mengenai lengan, pinggang dan punggung Alkila. Begitu terkena, asam itu langsung melarutkan kulit Alkila. Begitu menyakitkan. Asam itu membuat kulit Alkila menguap hingga menyentuh daging.


"Eaaarrghh!" Alkila hanya mampu merintih kesakitan saat terkena hal itu.


Namun, Morca yang sedari tadi sudah mengunci pergerakan Martis dari kejauhan menggunakan tembakan dari telapak tangannya, langsung menembak dan ..


"SPLAAAAASSSH!"


Lagi-lagi, serangan dari Morca adalah serangan laser seperti saat pertama kali. Untungnya, Martis sudah menghindari serangan itu dengan spontan. Serangan itu pun, meledakkan rumah-rumah terbengkalai di sekitarnya, hingga memicu ledakan besar.


"BOOOOM!"


Angin yang di ciptakan ledakan itu benar-benar kencang. Malika yang sedari tadi hanya menonton pun sedikit terseret, hingga membuatnya berguling sekali di tanah. Dan tentu saja, ledakan itu langsung mengalihkan perhatian Gazzel, Valun, Senju dan para warga yang berada jauh di sisi lain Desa.


Ketika suasana angin mulai berhenti, lagi-lagi, Morca dan Alkila sudah menghilang. Ternyata, itu adalah ledakan pengalihan agar mereka berdua bisa melarikan diri. Martis terus menoleh kesana-kemari dengan waspada mencari mereka, tapi tak kunjung ketemu.


"Hei, Kau?! Apa kau baik-baik saja?!" tanya Martis yang melihat Malika dari kejauhan.


Malika pun berdiri dan membalas, "Wow! Ternyata, kau sungguh hebat! Kau bisa memuntahkan makananmu dan menjadikannya senjata! Itu hebat!"


"Anak ini .." geram Martis yang mengira ucapan Malika itu adalah ledekan.

__ADS_1


-FOLLOW ME-


__ADS_2