
Lagi-lagi, Malika hanya membuka mata seperti biasa. Ia kini sedikit memasang wajah marah, akibat sifat sang Kegelapan yang terlihat seperti sesuka hati. Perlahan, Malika kembali memejamkan matanya untuk tidur.
-
-
-
☆☆☆☆☆☆
Ketika waktu berada pada jam setengah empat pagi, sesuatu pun terjadi.
"Tolong!"
"Mereka adalah kelompok Pengerat!"
"Ambil semua yang berharga!"
"Jangan mendekat!"
Suara-suara keributan itu berasal dari luar rumah. Para warga seperti sedang bersahutan dengan orang-orang tak di kenal. Malika yang masih saja tertidur, langsung di tendang oleh Gazzel secara tiba-tiba.
"Malika?! Desa sedang diserang! Bangun!"
"Hah?" balas Malika dengan wajah yang kusut dan berminyak.
"Bangun!"
Mereka berdua lalu bergegas untuk keluar rumah. Malika yang tak sempat berpakaian, kini hanya mengenakan celana pendek tanpa atasan.
Ketika Gazzel membuka pintu keluar, sebilah pedang pun terayun menuju lehernya, dari seseorang yang tak di kenal. Hampir saja. Gazzel menghindar dan menendangnya, hingga membuat orang itu terlempar ke halaman rumah.
"BUAAK!"
Ketika mereka berdua memandang keluar, tampaklah sekumpulan orang asing yang tengah bertarung dengan warga. Bagaikan kerusuhan, warga dan orang-orang asing itu saling bercampur aduk menjadi satu. Kebakaran kecil juga sedang memakan tepi-tepi rumah yang berjejeran.
"Kurang ajar! Penjarah!" geram Gazzel yang mulai berlari ke arah orang-orang jahat itu.
"K-kakak?!" teriak Malika yang kaget dengan tingkah Gazzel.
Gazzel langsung melompat masuk ke dalam kerusuhan tersebut. Ia kini terlihat sedang menghajar para penjarah itu secara beruntun.
Sedangkan Malika, ia mulai mundur ke dalam rumah, akibat ada dua orang penjarah yang mencoba masuk. Masing-masing dari kedua orang itu juga memegang sebilah pedang.
"Bunuh dia!" ucap salah satu penjarah.
"Keluar kalian!" bentak Malika yang kini sedang menghindari serangan mereka berdua.
Kedua penjarah itu seperti orang gila ketika mengayunkan pedangnya. Namun mereka berdua tidak tahu, kalau Malika bukanlah anak biasa. Ya, Malika mulai memukul mundur mereka berdua dengan baik.
"BUAK PAK BUK! BUK! PAK BUK!"
Malika memukul dan menendang mereka secara bergantian. Mereka terlihat susah dalam menebas Malika yang lincah. keduanya pun mengambil jarak, lantaran takut terkena serangan Malika.
"Sial! Siapa bocah ingusan ini?!" keluh salah satu penjarah.
"Apa, hah? Maju! Maju kalian!" Malika masih saja memasang gaya bertarung.
__ADS_1
"Bunuh dia! Kurang ajar!"
Mereka berdua kembali melakukan penyerangan. Malika terlihat semakin bersemangat. Ia mulai melingkari pergerakan mereka berdua, dengan kecepatan yang tidak main-main.
Terlalu hebat. Malika sudah tidak seperti yang dulu lagi. Ia berhasil menghajar keduanya dengan serangan-serangan telak ke arah wajah, perut, hingga ke bagian telur salah satunya.
"Ohoorrrkk!" erangan salah satu penjarah, ketika telurnya di tendang oleh Malika.
Malika lalu menghajar yang satu lagi dengan bebas. Orang itu terkena serangan beruntun, hingga membuatnya melangkah mundur, ke arah pintu secara perlahan.
"BUK PAK BUK BUAK PAK BUK!"
Dan ..
"BUAAAK!" pukulan keras terakhir dari Malika yang mendarat tepat di wajahnya.
Orang itu langsung terlempar keluar rumah. Sedangkan yang satu lagi, ia sudah pingsan di dalam rumah Gazzel, akibat telurnya yang mungkin sudah pecah sejak tadi. Benar-benar memilukan.
Ketika Malika berlari keluar, Gazzel sudah terlihat berhasil dalam memukul balik sekumpulan penjarah tadi. Mereka semua sudah berkocar-kacir meninggalkan Gazzel.
"J-angan lari kau! Kami aka .. a .. hiii!" teriak salah satu penjarah dengan mata yang hampir copot, lantaran melihat Gazzel yang masih saja mengejar mereka.
"Kalian pikir bisa lolos begitu saja?! Haha! Hahahaha!" tawa Gazzel yang terdengar menyeramkan di telinga sekumpulan penjarah itu.
Para penjarah seperti di kejar oleh seekor singa. Mereka semua kini terlihat saling mendahului satu sama lain, demi menyelamatkan diri. Sedangkan Malika, ia mulai mengejar Gazzel dari belakang.
"Kakak! Arrgh!" Malika berlari sekuat tenaga mengejarnya.
Satu persatu dari mereka terkena beberapa bongkahan yang di lancarkan Gazzel. Bahkan, ada yang sampai terkena secara bersamaan, bagaikan kumpulan botol yang di lempar menggunakan bola raksasa.
Namun, Gazzel sedikit terkejut kini, lantaran melihat sekumpulan penjarah yang lain. Ternyata, jumlah mereka begitu banyak. Ada yang sudah berhasil membunuh warga, ada juga yang sudah memperkosa seorang wanita secara beramai-ramai, di salah satu gang yang tak jauh dari posisinya.
Gazzel lalu berlari ke arah gang, untuk menghajar mereka semua. Malika yang berada di tengah-tengah kerusuhan, kini terdiam sembari menatap salah satu orang yang terlihat memegang Crossbow (Senjata berbentuk panah dari abad pertengahan.)
Orang itu terlihat seperti pemimpin. Wajahnya tampak tenang dan di kelilingi oleh penjarah-penjarah yang lain. Ketika Malika terdiam, beberapa penjarah pun datang menyerangnya. Hal itu membuatnya kini menjadi perhatian penuh di mata pemimpin itu.
"Siapa anak telanjang itu? Apa dia orang gila di Desa ini .." batin si pemimpin penjarah tadi.
Seketika, si pemimpin itu menjadi sedikit terkejut, lantaran melihat Malika yang mampu mengimbangi beberapa anak buahnya, hingga menjatuhkan mereka satu per satu.
"Siapa orang gila ini .."
Gazzel yang berhasil menyelamatkan wanita malang tadi, kini mulai memainkan jurus batu-batu runcing yang naik ke permukaan tanah, menuju ke arah pemimpin penjarah tadi.
Si pemimpin itu menghindarinya dengan cara melompat ke satu atap rumah. Sedangkan para anak buahnya, mereka tertusuk, tersangkut dan terangkat naik mengikuti runcingan batu yang menjulang ke atas. Ya, mereka mati secara mengenaskan.
"Cih! Hati-hati, Malika! Dia bukan orang biasa! Dia adalah si Pengerat, pemimpin dari mereka semua!" seru Gazzel dari kejauhan.
Si Pengerat cukup kaget dengan Gazzel. Ia baru tahu kini, kalau ada seorang pengendali elemen di Desa Avalon. Ia pun menatap Gazzel dan berkata dari atas atap,
"Apa kau Polisi Desa ini? Ada berapa banyak Polisi Desa selain kau?"
"Ada lebih dari 200 orang! Berhati-hatilah kau, keparat!" balas Gazzel dengan geram.
Ya, Gazzel membohonginya, agar melihat reaksi apa yang akan di keluarkan si Pengerat. Malika kini juga mulai sedikit melangkah mundur ke arah Gazzel.
Si Pengerat lalu berkata, "Dimana mereka? Kau benar-benar pembohong yang buruk, nona! Kau terlihat cantik! Aku ingin kepalamu!"
__ADS_1
"Maka turunlah dan dapatkan sendiri, manusia kotor!" balas Gazzel yang kemudian menendang lima bongkahan tanah ke arahnya.
Bagaikan tembakan meriam, bongkahan besar yang berjumlah lima buah itu, langsung menghantam satu per satu atap dengan suara yang bergemuruh.
"BUURM! BUURM! BUAAR!"
Si pengerat menghindari serangan itu dengan cara berlarian di atas atap-atap rumah. Dalam keadaan yang masih berlari pula, ia langsung menembakan anak panah dari Crossbownya ke arah Gazzel.
Malika berlari secepat mungkin menjauhi Gazzel. Padahal, Gazzel mampu menangkis serangan itu, dengan cara memakai bongkahan tanahnya sebagai tameng.
"Bodoh! Kau bisa bersembunyi di belakangku!" keluh Gazzel yang emosi melihat tingkah Malika.
"M-aaf .. aku hanya mengikuti naluriku, kak!" balas Malika yang juga sedang memikirkan sesuatu, "Ya .. aku harus mencobanya .."
Malika kini sedang membaca pergerakan si Pengerat yang terlihat bersembunyi di balik atap. Tiba-tiba, beberapa anak panah dari Crossbow pun melesat ke arahnya.
Berterima kasihlah kepada aliran Plexus Malika yang tengah mengalir, lantaran hal itu membuat gerakan refleksnya bekerja dengan baik.
"ZUP! ZUP! ZUP!" suara anak panah yang menempel di permukaan tanah.
Malika yang sejak tadi sudah menghindar, langsung mengarahkan tangannya ke arah si Pengerat dan berteriak,
"Drain Soul!"
Seketika, atap-atap rumah menjadi hancur dan tertarik ke arah Malika, dengan gaya gravitasi yang sangat kuat. Si Pengerat pun terkejut hebat, sekaligus ikut tertarik.
"Apa ini? Eaarh .. kurang .. ajar!" teriaknya yang terkejut.
Ia langsung berusaha menjauh dari jangkauan gaya tarik tersebut, dengan memasang wajah yang tak menduga-menduga akan kekuatan Malika.
"Hii!" Teriak Malika yang ketakutan, akibat melihat atap-atap rumah yang menuju ke arahnya.
Sebenarnya, Malika sudah berhasil menarik jatuh si Pengerat. Akan tetapi, karena melihat benda-benda lain yang juga ikut tertarik, ia pun membatalkan serangannya dan berlari menjauh, akibat takut tertimpa oleh berbagai hal yang di tariknya tadi.
"BURM! BRANG! BUARR!" suara berbagai benda padat besar yang berjatuhan.
"Astaga .." Gazzel hanya menggelengkan kepala melihat kebodohan Malika.
Si Pengerat selamat dan kembali melompat ke atap rumah. Ia kini menaruh perasaan was-was yang berlebihan terhadap Malika. Secara perlahan, si Pengerat pun mulai menunjukkan kekuatannya. Ya, ia berubah menjadi sesuatu.
"Kau memang di lahirkan untuk menjadi seseorang yang menjijikkan!" Gazzel menghinanya dengan nada yang geram.
"Ti .. tikus .. tikus?!" Malika kaget melihat perubahan si Pengerat.
Si Pengerat tak memedulikan perkataan Gazzel. Ia lebih terpaku melihat kekuatan Malika yang tak biasa.
"Kekuatan macam apa itu? Aku belum pernah melihat kekuatan yang bisa memanipulasi gravitasi," ucapnya yang penasaran.
"Hahaha!" tawa Malika yang tiba-tiba saja keluar begitu saja.
"Hah?! Apa yang kau tertawakan?!" si Pengerat bingung dengan tingkah Malika.
Sejak tadi, Malika sudah berusaha menahan tawanya. Ia baru kali ini melihat seseorang yang di anugrahi wujud seekor tikus. Wajah Martis juga sempat terngiang-ngiang di benaknya, lantaran wujud seekor katak, sama lucunya dengan perubahan si Pengerat.
"Hahaha .. maa .. uhh .. ahahha!" tawa Malika benar-benar lepas, bagaikan orang yang sedang tergelitik.
__ADS_1
"Kau pikir ini lucu?!" si Pengerat sangat tersinggung dengan tawa Malika.
-FOLLOW ME-