KEKUATAN ALAM

KEKUATAN ALAM
Kejutan Para Penjarah.


__ADS_3

Mereka berdua kini tengah berkuda bersama. Gazzel memimpin di depan selama perjalanan tersebut. Desa yang mereka tuju sekarang, hanya akan memakan waktu selama lima jam saja.


Sesekali juga, mereka berdua berhenti untuk beristirahat, di salah satu pohon yang terlihat sejuk. Panasnya terik mentari, kadang membuat mereka berdua harus saling berebut air minum, lantaran Gazzel yang lupa membawa perbekalannya sendiri.


"Ayo! Hari semakin gelap!" ucap Gazzel yang mulai menaiki kudanya.


-


-


-


-


-


☆☆☆☆☆


Kini, lebih tepatnya jam setengah delapan malam, terlihatlah Desa selatan dari kejauhan. Kecepatan kuda mereka pun mulai melamban. Ya, Gazzel dan Malika ingin mengintainya terlebih dahulu, sembari melangkah kuda mereka secara perlahan.



"Malika?" tegur Gazzel.


"Ya, kak?"


"Ini bukanlah seperti di Desa. Jadi ku mohon, berpikirlah sebelum bertindak."


"Hah? Memangnya, apa salahku di Desa?"


"Menghancurkan rumah-rumah warga. Kau pikir itu tidak membahayakan, hah?"


"Hufft .." Malika membuang nafas berat.


Semakin lama, mereka berdua semakin dekat. Terlihat juga dua belas Polisi Desa yang mulai menampakkan diri, sembari mengarahkan panah kepada mereka.

__ADS_1


Salah satu Polisi Desa pun mendekat dan berkata, "Siapa kalian?"


"Namaku Gazzel," Jawabnya singkat.


Mereka tahu dengan penjemputan yang akan datang dari Desa Avalon. Kini, Gazzel dan Malika di tuntun untuk menemui Kepala Desa tersebut.


Ketika mereka berdua masuk di ruangan Kepala Desa yang terletak di lantai tiga, terlihatlah seorang wanita, beserta kedua anak kecil yang tak lain, adalah istri dan anak-anak dari Kepala Desa itu sendiri.


Kepala Desa pun berkata, "Selamat datang, nona Gazzel."


Gazzel tak menjawab dan mengambil posisi duduk begitu saja, sembari menaruh satu kakinya di atas meja yang menghadap Kepala Desa.


Malika hanya membuang muka ke arah lain, lantaran menahan tawa dengan sifat asli Gurunya sendiri.


"Benar-benar tidak sopan .." batinnya yang menahan tawa sekuat mungkin.


Kepala Desa hanya tersenyum kaku melihat itu dan berkata, "Ehh .. maaf .. apa cuma kalian saja yang di kerahkan?"


"Kau meragukan kami?" balas Gazzel singkat.


"Bukan begitu, nona Gazzel. Setidaknya, kalian juga harus ber .."


Belum juga Kepala Desa menyelesaikan ucapannya, sebuah ledakan besar sudah terdengar tak jauh dari sekitar situ. Istri Kepala Desa langsung menjerit dan memeluk kedua anaknya tadi.


"Ku mohon .. selamatkan kami?" ucap Kepala Desa dengan tubuh yang gemetar setengah mati.


Tanpa menunggu lama, Gazzel langsung berlari menuju jendela yang berada tepat di belakang Kepala Desa dan menembusnya untuk keluar.


"PRANG!" suara kaca yang terpecah belah, ketika Gazzel menembusnya.


"Hii?!" teriak Malika yang kemudian memilih menggunakan tangga untuk mengejar Gazzel.


Kini, Gazzel melihat sekumpulan penjarah yang saling memanah melawan para Polisi Desa. Ada juga yang nekat melakukan pertarungan jarak dekat, di antara anak-anak panah yang saling melayang kesana-kemari.


Bongkahan-bongkahan tanah miliknya pun mulai melayang bagaikan meriam. Satu persatu penjarah mulai terlempar ketika terkena serangan tersebut.

__ADS_1


"Kurang ajar! Kenapa ada pengendali bumi di Desa ini?!" keluh salah satu penjarah.


Sedangkan Malika yang sudah keluar, kini mulai berteriak "Tentacle!" sembari berlari mencari target. Ia ingin mencoba jurus terbarunya, sekaligus memberikan makan kepada sang Kegelapan.


Empat ekornya mulai keluar. Tak lupa juga ia berteriak, "Clone!" agar mendapat perlindungan dari bayangannya pada tiap sisi. Seketika itu pula, dua belas penjarah pun mulai terlihat berlari ke arahnya.


Bayangannya kini hanya berjumlah dua saja. Ia belum bisa mengatur jumlah bayangan yang di keluarkan sesuka hati. Para penjarah yang melihat itu, langsung terkaget-kaget dan berusaha untuk mundur.


"Kurang ajar! Apa lagi ini?!"


"Lari!"


"Bukankah kemarin, tidak ada orang-orang seperti mereka, hah?!"


Namun sialnya, Malika sudah saja menyapu beberapa dari mereka, dengan ekornya yang memanjang dari kejauhan. Ia kadang melilit salah satu penjarah, mengangkatnya dan membantingnya ke tanah. Dua bayangannya juga sejak tadi sudah menghajar satu persatu dari mereka.


"Mundur! Kita harus melepaskannya sekarang!" seru salah satu penjarah.


"Minta persetujuan ketua!" seru penjarah lainnya.


"Tidak ada waktu! Lepaskan saja!"


Para penjarah tidak mungkin maju melawan orang-orang tidak biasa seperti Malika dan Gazzel. Mereka kini lebih memilih mundur, untuk melakukan suatu rencana yang mereka inginkan.


"DUM! DUM! DUM!"


Suara itu terdengar seperti langkah kaki raksasa. Area semakin bergetar di sekitaran Desa tersebut. Gazzel dan Malika juga tak tahu dengan apa yang terjadi. Mereka berdua kini hanya menoleh kesana-kemari, akibat melihat para penjarah yang mulai menjauh.


"Ti .. dak .. mungkin .." lirih Gazzel yang mulai sedikit ketakutan, akibat melihat sesuatu di depan matanya.


"Hii! Apa-apaan ini?!" sambung Malika dengan mata yang hampir copot.



Kini, sesosok raksasa sedang memasuki Desa dengan teriakan yang memekakkan telinga. Malika dan Gazzel mulai menjerit histeris secara bersamaan, lantaran belum pernah melihat hal tersebut selama hidup mereka. Bahkan, kedua bayangan Malika juga saling berpelukan dan meledak secara bersamaan.

__ADS_1


Sedangkan para Polisi Desa, mereka mulai berhamburan ketakutan, sembari masih melancarkan serangan panah dari kejauhan.


-FOLLOW ME-


__ADS_2