
Di saat Makunamu merasa kalau 'hal itu' sudah keras, ia lalu mulai berjongkok di depan Malika dan berbisik, "Ini tidak akan lama .."
"Apa .. apa yang .." jantung Malika berdegup kencang, lantaran melihat wajah Makunamu yang begitu dekat dengan 'miliknya' itu.
Secara perlahan, Makunamu pun menarik jatuh kain jahitan yang menutupi 'benda' tadi, hingga terlihat jelas tanpa ada yang menghalangi. Ia lalu mencium aromanya terlebih dahulu, dengan hirupan nafas yang terdengar sangat jelas. Kegilaannya, membuat Malika langsung gemetar, walaupun belum tersentuh sama sekali.
Makunamu lalu menatap Malika dan berkata, "Apa kau .. masih suci?"
"Ya .. ak .. aku .. belum pernah .. melakukanya .." Malika tak mampu mengatur nafasnya, ketika melihat 'miliknya' yang tengah berdiri, bagaikan microphone di depan wajah sang penyanyi berkulit biru itu.
"Pantas saja .." balas Makunamu, yang kemudian mulai mengecapkan lidahnya pada bagian 'ujung' terlebih dahulu. Microphone itu terangkat naik, di saat menerima satu jilatan.
Seketika, lensa mata Malika menjulang naik menyisakan warna putih, akibat merasakan sesuatu yang belum pernah ia alami. Makunamu hanya mengecap, mengecap dan mulai 'bernyanyi' secara lembut.
"Aaahhh .." ketegaran Malika pun runtuh, terkubur dalam gesekan bibir yang terasa nikmat, basah dan hangat.
Tak ada yang bisa Malika lakukan lagi, selain menahan gelisah, menatap kepala Makunamu yang sejak tadi hanya bermaju mundur. Si wanita biru mempermainkan 'microphonenya' seperti seorang penyanyi yang profesional. Sesekali, ia juga meludah di atas 'microphone' itu, lalu kembali lagi untuk 'bernyanyi.'
"Apa .. apa ini .. seperti ada .. yang .." batin Malika, memasang wajah yang pasrah merasakan keenakan, "Aaargh .. hah .. hah .." lanjutnya yang mendesah hebat, menandakan kalau kesuciannya, sudah bermuncratan di dalam mulut Makunamu.
"Hm .. hmhmhm .." tawa Makunamu dengan mulut yang tertutup, agar menjaga benih Malika untuk tidak tumpah kemana-mana.
Makunamu lalu menatap ke atas melihat Malika, menelan benih itu seutuhnya dan berkata, "Kau suka?" sembari menunjukkan senyuman yang mengharapkan kepuasaan dari seorang bocah 16 tahun.
__ADS_1
"Hufft .. hufft .. ya .." balas Malika yang melirih, lantaran tak kuat menahan getaran di kedua lututnya.
Ketika mereka berdua masih berada dalam posisi yang sama, terdengarlah langkah seorang prajurit yang bersenandung di dalam mabuk berat. Sontak saja, Makunamu langsung menarik Malika, untuk melakukan tiarap bersama di antara semak-semak.
"Kita akan melanjutkannya lagi .. Aku harus menyelesaikan misiku .." bisik Makunamu yang kemudian mendekati prajurit tadi secara perlahan.
Malika tak membalas. Ia hanya merapihkan celananya, sambil menatap si wanita biru yang mulai melumpuhkan prajurit tadi. Makunamu terlihat sangat terlatih. Prajurit itu bahkan tak punya peluang untuk mengeluarkan suara sedikitpun.
"Inikah .. yang .. di namakan Jendral Monster .." batin Malika terheran-heran.
Dan secara perlahan, terlihatlah wujud Makunamu yang mulai berubah menjadi rupa prajurit tadi. Ya, hanya wujud, tidak untuk perlengkapan zirahnya. Makunamu mulai menggunakan zirah prajurit tadi dan menoleh ke arah Malika.
"Beri aku waktu sepuluh menit," bisiknya yang lalu melangkah pelan menuju salah satu tenda.
"Ya .. hati-hati .." balas Malika yang masih saja menatap keheranan ke arah Makunamu.
Dan benar saja, kericuhan kini mulai terdengar samar di sekitaran tenda para prajurit. Apa yang sedang terjadi, tidak di ketahui Malika sama sekali. Ia hanya mendengar dan bersenyumbi di balik semak sejak tadi.
"Apa yang kau lakukan?"
"Dasar bodoh!"
"Kalianlah yang bodoh!"
__ADS_1
Itulah suara-suara saling sahut antar prajurit gabungan. Mereka pun saling menghina dan menyerang satu sama lain. Di tambah lagi dengan efek alkohol, membuat aliansi mereka semakin tak terkontrol di antara pihak masing-masing.
-
-
-
☆☆☆☆☆
Dua belas menit telah berlalu. Makunamu akhirnya tiba, sekaligus mengubah dirinya seperti semula di depan Malika. Mereka berdua kini hanya terdiam, sembari mendengar kericuhan dari balik semak.
Sudah Malika duga, kalau misi itu akan terlihat sukses dengan cara yang mengerikan. Bagaimana tidak mengerikan, para prajurit itu benar-benar terpecah belah dan saling bunuh satu sama lain.
"Bodoh .. ku harap ada orang yang dapat menghentikan pertikaian mereka .. ini akan membahayakan nyawa Linanzha dan Martis .. Bagaimana ini .." batinnya yang masih saja melihat ke arah tenda.
Makunamu lalu berkata, "Kita harus pergi dari sini, Malika."
Seketika, Malika mengingat apa yang pernah di sampaikan Kegelapan. Ya, ia harus mendapatkan informasi mengenai kontrak darah, sebelum posisi mereka saling berjauhan.
"Setelah ini, kita kemana?" tanya Malika yang tiba-tiba.
"Bukankah, Kegelapan memintaku untuk membantumu memimpin serangga? Kita akan ke gua sekarang, kan?" balas Makunamu tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah .. masih ada waktu .." batin Malika yang singkat dan mulai berkata, "Baiklah, ayo pergi."
-FOLLOW ME-