
Apa mereka bisa di suruh-suruh?" tanya Gazzel sembari mencolek-colek salah satu dari bayangan itu.
Malika lalu membalas, "Akan ku coba. Hei? Eeh .. coba .. eh .. coba kalian berdua saling bermain air bersama."
Kedua bayangan itu lalu masuk ke sungai dan bermain air, bagaikan dua wanita lunglai yang saling menjahili satu sama lain.
"Eh?" Gazzel bingung dengan tingkah kedua bayangan yang terlihat feminim.
"Hei? Ku bilang bermain air! Bukan bertingkah seperti wanita!" teriak Malika yang emosi.
"Apa mereka hanya mengikuti sifatmu?"
"Hah?!" Malika yang tak terima dengan perkataan Gazzel, langsung menghajar kedua bayangannya sendiri.
-
-
-
-
-
☆☆☆☆☆
Kini, waktu sudah berada pada jam sebelas malam. Sejak dari jam dua belas siang, Malika sudah bersila di bawah air terjun, dengan mata yang terpejam. Tidak seperti hari-hari pertama. Kali ini, ia sudah mampu terlihat tenang, tanpa lagi merasa kedinginan.
__ADS_1
Energi Plexus Malika semakin mengalir lembut. Tak hanya itu, ia juga bisa merasakan kehadiran energi-energi lain yang lewat. Seperti perubahan suhu berupa hangat, dingin dan bahkan perasaan merinding.
Dan secara tak sengaja, Malika tiba-tiba saja membuka matanya. Akan tetapi, ia bukan berada di dunia fisik, melainkan di alam yang ia sendiri merasa bingung.
"Eh?" Malika kebingungan dengan apa yang di lihatnya saat ini.
Ia melihat langit yang biru, deretan awan berbagai bentuk dan ribuan bunga matahari yang terbentang luas. Hanya saja, lanskap tempat itu bukanlah ladang yang berada di Desa Avalon.
"Dimana ini? Tempat ini tidak terlihat seperti di Desa."
Ketika ia sedang menoleh kesana-kemari, terlihatlah seorang wanita yang sedang duduk di kejauhan sana. Benar-benar membingungkan. Ia bahkan tidak mengenal wanita itu sama sekali.
"Permisi?" tegurnya yang sembari melangkah ke arah wanita tadi.
Orang itu terlihat duduk membelakangi posisi Malika. Ia juga seperti sedang membaca sesuatu, di sebuah buku kecil berwarna putih yang cukup tebal.
Ketika semakin dekat, tampaklah wajah wanita itu yang terlihat sedikit lebih tua darinya. Malika lalu mengambil posisi berjongkok tepat di depan wanita itu. Akan tetapi, ia seperti tak melihat Malika sama sekali. Hanya Malikalah yang sejak tadi menegurnya terus menerus.
"Hei .. Hei?!" Malika mulai kesal, akibat tidak di respon sama sekali.
Orang itu hanya terus membaca sembari bergumam, "Clone, Twin Fist, Drain Soul, Tentacle, Silent Moon .."
Banyak yang tertulis di buku tersebut. Malika kemudian mulai mengintip isi di dalamnya. Ketika Malika menyentuh kepala wanita itu, ternyata tangannya malah menembus, bagaikan orang yang sedang menyentuh air.
"Hi? Apa-apaan ini? Kenapa kau seperti air, hah?! Jawab aku! Kenapa kau tidak bisa mendengarku?! Dimana aku?!"
Malika yang masih kebingungan, perlahan mulai mengingat tentang latihan bertapanya. Ya, ia kini hanya menatap kosong ke arah wanita itu, sembari menepuk jidat sekeras mungkin.
__ADS_1
"A-aku .. bukan .. bukankah aku sedang bertapa di bawah air terjun? K-k-kenapa aku bisa disini? Apa .. aku sudah .. mati kedinginan dan sedang berada di alam baka sekarang? Hah?! Aku sudah mati?!"
Malika tak bisa menahan kepanikan diri sendiri. Kedua tangannya memegang pipi sembari menjerit di depan wanita itu. Benar-benar orang awam yang tidak bisa tenang dalam menganalisa situasi.
Tiba-tiba, orang itu pun berkata, "Apa kau bisa mendengarkanku? Apa kau bisa melihatku?"
Seketika, Malika mulai terdiam dan melihatnya yang sedang berbicara seperti orang gila. Mau tak mau, Malika harus fokus dalam mendengarkan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Namaku Zeline. Aku gagal menghentikan peperangan ini. Mereka mengira, bahwa semuanya sudah baik-baik saja. Ini akan terus menurun dari generasi ke generasi. Entah setelahku, kau, dia atau yang lainnya. Aku akan menguburkan Kitab Kegelapan ini ke tempat asalnya, di dunia yang mereka sebut sebagai alam monster. Pergilah ke lembah Gahardian yang berada di dunia itu. Selamatkan mereka yang percaya akan kedamaian. Sesungguhnya, Kitab Kegelapan adalah ancaman bagi mereka yang mengutuk kehidupan. Kau akan menemukan rahasia di balik apa yang sedang terjadi. Dunia ini, akan menjadi tameng dalam menyelamatkan dunia lainnya. Jinakkan roh sucimu dengan kasih sayang. Berilah ia makan dari jiwa-jiwa yang jahat."
Seketika itu pula, mulut Malika terbuka lebar, dengan kedua bola mata yang tak kalah besar, akibat terkejut dengan apa yang di bicarakan wanita itu.
"K-k-kitab Kegelapan? S-siapa orang ini? Gagal? Apa maksudmu? Apa kau bisa mendengarkanku, hei! Ku mohon dengarkan aku!"
Belum juga Malika ingin beranjak, tiba-tiba saja, matanya sudah terbuka di bawah air terjun tempatnya bertapa tadi.
"Hah? Hah?! Hah?!" ucapnya dengan nada tinggi, sembari memasang wajah yang bodoh.
"Hei? Kenapa kau? Apa yang terjadi?!" teriak Gazzel yang kaget dari pinggiran sungai.
Malika hanya membatin, "Sial .. aku harus mendapatkan secarik kertas dan pensil. Apa tadi? lembah .. gura .. ga .. gahardian .. gahardian .. ya .. gahardian .."
Ia lalu segera ke tepi sungai menuju Gazzel. Namun, Malika lebih memilih untuk menyimpan rahasia itu sendiri. Ia dan Gazzel lalu hanya kembali berjalan pulang seperti biasanya.
"FOLLOW ME-
__ADS_1