
Secepat kilat, Gazzel pun mendekat tanpa menimbulkan suara. Pergerakannya begitu elegan bagaikan seorang ninja, ketika mendekati rumah Malika. Ia lalu berguling ke arah semak dan berakhir dengan posisi berjongkok, agar kembali mengintip pergerakan sosok tadi.
Namun, Sosok itu sudah hilang dari pandangannya. Hal itu membuat Gazzel semakin waspada dengan keadaan sekitar. Ia takut kalau sosok tadi sudah melihatnya lebih dulu. Akan tetapi, kewaspadaannya pun buyar, ketika mendengar teriakan Malika dari dalam rumah.
"Aaarrrrrggh!"
Gazzel pun berlari menuju ke depan pintu rumah Malika dan menendangnya sekuat mungkin. Tendangan Gazzel, mampu melepas pintu itu dari engselnya. Bahkan, pintu tersebut terhempas cukup jauh, hingga menabrak sekitaran dinding di dalam rumah.
"BUUURK!"
"Hei, Nak?!" teriaknya yang sambil memasang gaya bertarung.
"Si-siapa kau .. arrrrgh!" teriak Malika dari sebuah ruangan yang tak jauh dari posisi Gazzel.
Gazzel lalu berlari ke arah ruangan itu secepat kilat. Ketika ia memasuki ruangan, terlihatlah bahwa sosok tersebut, sedang membabi buta dalam menyerang Malika dengan pedangnya.
Sontak saja, Gazzel pun menyerangnya dengan tendangan berputar dalam sekejab. Tendangan itu sukses mengenai dada sosok tersebut, hingga membuat sosok itu terundur cukup jauh.
"Berlindunglah di belakangku!" tegas Gazzel yang kini berdiri di depan Malika.
"B-ibi?" Malika kaget dengan kemunculan Gazzel.
"Sssst! Hei kau?! Apa yang kau inginkan dari anak ini?!" tanya Gazzel dengan nada yang kasar.
Sosok itu tidak menjawab dan malah maju untuk menyerang Gazzel. Bentrokan yang terjadi di dalam rumah gelap itu pun, tak terhindarkan. Mereka berdua kini saling beradu teknik beladiri. Ya, sosok itu mampu mengimbangi beladiri milik Gazzel.
__ADS_1
Malika yang melihat itu pun, hanya bisa mengambil langkah mundur untuk menjauh secepat mungkin. Pukulan dan tendangan Gazzel, kadang dapat di tangkis oleh sosok itu. Namun, sosok itu semakin kualahan, lantaran serangan dari Gazzel semakin kuat dan cepat.
Di saat sosok tersebut mendapatkan sebuah celah untuk menyerang balik, ia langsung menghunuskan pedangnya yang tiba-tiba saja di aliri sebuah elemen udara, untuk menuju ke dada Gazzel. Tapi, dengan cepat pun Gazzel mengeraskan seluruh tangannya dan membentuk sebuah huruf "X" agar melindungi diri.
"BLUUUSSSSSSHHH!"
Serangan itu, mampu menembakkan angin yang berbentuk seperti pedang tadi, dengan kecepatan tinggi. Bahkan, Gazzel pun terkapar menabrak dinding, hingga menembus keluar rumah.
Walau pun Gazzel sedikit terluka, ia masih berhasil mempertahankan dirinya. Kekuatan Gazzel adalah berupa elemen bumi tingkat dua, dimana ia mampu mengeraskan kulitnya layaknya batu. Dengan cepat, Gazzel pun berdiri dan kembali memasang gaya bertarung.
"Hei, Nak?! Dimana kau?!" teriak Gazzel sambil menoleh kesana-kemari dengan khawatir.
"Aku disini, Bi!" sahut Malika yang ternyata berada jauh di semak-semak.
Kini, serangan udara yang berbentuk pedang tadi pun kembali melesat cepat dengan jumlah yang banyak, dari arah lubang dinding menuju Gazzel. Namun, dengan Naluri seorang guru ahli beladiri, Gazzel mampu menghindari serangan itu secara teliti. Di saat melihat ada kesempatan untuk menyerang balik, Gazzel pun menghentakkan satu kakinya ke tanah dengan keras.
Hentakan kaki itu, mampu memicu sebongkah tanah yang sebesar mobil angkot, agar terangkat naik di udara dalam sekejab. Dan dengan cepat pula, Gazzel pun menendang tanah itu dengan gaya yang hebat.
Tanah yang sebesar mobil angkot itu pun, langsung melesat menuju lubang dinding tadi. Dan ..
"BUUUURRRRMMM!"
Rumah Malika yang memang sudah tua pun, rubuh total dalam satu serangan.
Malika yang sejak tadi hanya menonton dari balik semak, tidak memedulikan rumahnya sama sekali. Ia malah terkagum-kagum dengan gaya bertarung Gazzel. Wajar saja, Malika belum pernah melihat seseorang yang profesional seperti Gazzel. Dengan cepat, Gazzel lalu berlari mundur ke arah Malika.
__ADS_1
"Kau baik-baik saja?" tanya Gazzel yang sesekali melihat ke arah rumah.
"Si-siapa orang itu?" Kenapa .." ucap Malika yang terpotong oleh perkataan Gazzel.
"Aku juga tidak tahu! Kita harus pergi dari sini, sekarang!" Gazzel lalu menarik tangan Malika untuk pergi.
Mereka berdua pun, berlari sekencang mungkin menuju pusat desa, agar bisa langsung terhindar dari kegelapan.
"Yang terpenting, kita harus menemukan cahaya agar aman dari serangan dadakan! Dan juga agar wajah si penjahat itu bisa terlihat!" tegas Gazzel yang masih saja menarik Malika sambil berlari.
Di saat mereka sudah memasuki lampu-lampu jalan desa, serangan pedang itu pun kembali berterbangan menuju mereka, dari kejauhan. Hal itu mampu di rasakan Gazzel dalam sekejab. Ia lalu memegang erat tangan Malika dan melemparnya sekuat tenaga agar menjauh.
Setelah itu, Gazzel pun berputar menghadap serangan itu, untuk membaca arah mereka. Dan tentu saja, ia tetap mampu menghindarinya. Gazzel seperti menari-nari diantara angin-angin yang berbentuk pedang tersebut.
Terlihat jelas, bahwa sosok itu hanya berdiri di dalam kegelapan. Ia seperti takut untuk memunculkan dirinya dalam cahaya. Hal itu pun membuat Gazzel berkata,
"Apa kau menjaga identitasmu?! Kemarilah! Akan kuhajar kau di tempat terang, sehingga orang-orang bisa tahu siapa dirimu!"
Perlahan, Sosok itu pun mundur, mundur dan berputar untuk berlari ke arah sebaliknya. Ia berlari hingga semakin tenggelam di dalam kegelapan. Situasi pun, menjadi tenang seperti sedia kala.
"Hei, Nak? Apa kau terluka?" tanya Gazzel yang melihat Malika sedang dalam posisi tengkurap, akibat lemparannya tadi.
"Yah .. aku tak apa!" seru Malika yang sambil mengangkat satu tangan, agar memperlihatkan jempolnya.
-FOLLOW ME-
__ADS_1