KEKUATAN ALAM

KEKUATAN ALAM
Linanzha.


__ADS_3

Pada suatu pagi, di sebuah desa yang bernama Avalon, terlihatlah seorang pemuda yang tengah berlari di kerumunan aktivitas warga.



"Maaf! Permisi! Permisi!" serunya yang sedang terburu-buru dan sengaja menyerempet salah seorang kakek.


"BUKHF!"


"Hei! Apa-apaan kau?!" tegur kakek itu dengan posisi tubuh yang hampir jatuh.


Tak berselang lama, kakek itu pun tersadar akan sesuatu.


"Eh .. eh! Dompetku! Dompetku!" teriak si kakek sambil meraba-raba seluruh tubuhnya.


"Hehe .." tawa kecil pemuda tadi yang sudah berlari semakin jauh.


Pemuda itu bernama Malika. Malika hanyalah pemuda berumur 16 tahun, sekaligus bandit kecil yang tinggal tanpa orangtua. Malika memang sedang ingin pergi ke suatu tempat. Namun, dengan sudah adanya sedikit rejeki, ia pun memilih singgah terlebih dahulu, di salah satu pedagang makanan jalanan.


"Kuharap ini belum terlambat," gumamnya sambil merogoh uang dari dompet curian tadi, "tolong satu porsi sate dombanya, Pak!" lanjutnya sambil menyodorkan beberapa lembar uang.


Pertukaran di antara sate domba dan uang berjalan secepat kilat. Malika kemudian kembali berlari, tanpa menunggu kembaliannya.


"Hei! kembaliannya, nak!" teriak si penjual yang kebingungan melihat Malika.


Apa yang sebenarnya Malika tuju? Perjalanannya itu, masih jauh dari kata sampai.


☆☆☆☆☆


Sementara itu, di pusat Desa Avalon, ada sebuah sekolah beladiri yang sedang menggelar acara kelulusan. Terlihat jelas, 300 murid kini tengah berbaris di lapangan, untuk menghadap beberapa Guru di depan mereka.


Acara tersebut begitu meriah. Sampai-sampai, para warga dan juga orangtua murid, ikut mengerumuni pagar sekolah, demi menontonnya. Ya, selama acara sedang berlangsung, tidak boleh ada orang luar yang masuk ke sekolah. Perlahan, seorang Guru besar yang bernama Valun, berjalan ke arah para murid.


Ia lalu berkata,


"Dari 300 murid ini, hanya akan ada lima murid saja yang berhak menerima medali kelulusan! Bagi yang terpanggil namanya, selamat atas kerja keras kalian selama tiga tahun ini!"


Tak berselang lama, tibalah Malika di depan sekolah. Ia lalu menerobos sekumpulan warga begitu saja, tanpa memedulikan keadaan sekitar dalam bersopan santun.


"Permisi! Ma-af .. permisi!" serunya yang sesekali menabrak beberapa warga.


Mereka yang tak terima dengan ulah Malika, kadang memarahi, hingga memakinya tanpa pandang bulu. Tidak ada yang ingin terganggu selama acara ini sedang berlangsung. Begitu juga dengan Malika yang tidak mungkin akan melewatkannya.


Situasi lalu kembali menjadi kondusif dalam sekejab. Lima murid yang akan menerima medali kelulusan, berpotensi akan menjadi Sentinel. Itulah mengapa, para warga tidak mau melewatkan acara tersebut.


Bagi warga, Melihat Sentinel yang lahir di Desa kecil mereka, adalah sebuah kebanggan tersendiri. Guru besar Valun lalu mulai memanggil nama murid-murid yang berhak menerima medali.

__ADS_1


"Martis Begen!" tegasnya dalam memanggil nama murid pertama.


Para warga langsung bersorak-sorai mendengar nama murid itu. Mereka sangat gembira dengan calon-calon Sentinel masa depan.


"Ya! Banggakan desa ini, nak!" seru salah seorang warga.


"Kalian hebat!" seru warga lainnya.


Namun, tidak dengan Malika. Ia masih terdiam dan menunggu satu nama. Hatinya terus melantunkan do'a di tengah-tengah keributan itu.


"Kumohon .. kumohon .. Li .."


"Lizarno Kong!" lanjut Valun yang semakin menghebohkan para warga.


"Arrrrgh!" teriak kesal Malika yang mengira itu adalah nama temannya.


"Hartzel Koinqul, Sasha Banks dan Linanzha Zpin! Selamat atas kelulusan kalian berlima!" Valun lalu memakaikan mereka masing-masing medali kelulusan.


Ada sebagian murid yang memberikan tepuk tangan bagi mereka berlima. Tetapi ada juga yang menangis dan membanting-bantingkan diri ke tanah, akibat tidak lulus. Bagi yang tidak lulus, mereka akan mencoba lagi selama tiga tahun.


Namun, jika mereka sudah mencobanya lagi dan masih saja tidak menunjukkan tanda dari kekuatan alam, maka secara terpaksa, pihak sekolah harus mengeluarkan mereka secara hormat.


Dan betapa gembiranya Malika, ketika mendengar ada nama "Linanzha" yang terucap tadi. Ia kini terlihat lebih heboh di banding yang lainnya. Saking hebohnya, sebagian warga jadi merasa risih.


"Syukurlah! Kau hebat, Linanzha!" serunya yang kegirangan sambil menggoyang-goyangkan pagar sekolah.


Senyum Linanzha begitu manis saat dipakaikan medali. Ia seperti salah tingkah melihat para guru, maupun para penonton di luar pagar.


"Linanzha! Hei .. Linanzha!" teriak Malika saat melihat arah mata Linanzha, yang sedang tertuju ke arah penonton.


Tentu saja Linanzha tak melihat Malika di kerumunan besar itu. Ia lalu tertegun malu dan sedikit mundur untuk kembali pada posisi. Acara pun berlanjut dengan para Guru yang memberikan pidato-pidato penyemangat, selama setengah jam.


☆☆☆☆☆


Setengah jam kemudian, pagar pun di bukakan untuk para orangtua murid diluar sana. Tangisan bahagia maupun kesedihan, terjadi diantara para orangtua dan anaknya masing-masing.


Sementara itu, dari kejauhan, terlihatlah bahwa Linanzha juga sedang di peluk oleh kedua orangtuanya.


"Ayah bangga denganmu, Linanzha. Kau benar-benar bisa sampai sejauh ini," ucap sang Ayah dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kau memang hebat, sayangku," sambung sang Ibu yang lalu mengecup dahi anak tunggalnya itu berulang kali.


"Hehe .. hentikan, Bu. banyak orang, tahu," keluh manja Linanzha yang sedikit menghindari kecupan tersebut.


"Tunggu apalagi? Ayo pulang dan berpesta dirumah," Sang Ayah lalu menggenggam tangan Linanzha.

__ADS_1


"Baik, Ayah," balasnya dengan sesekali menoleh kesana-kemari.


Linanzha seperti sedang menunggu seseorang. Ia menoleh kesana kemari, tapi tak juga menemukan hasil. Namun apa daya, kedua orangtuanya sudah memegang kiri dan kanan tangannya. Mau tak mau, ia harus pasrah dan berjalan pulang, bagaikan keluarga yang bahagia.


Disisi lain, Malika kini sedang melihat Linanzha dari balik pohon. Ia ingin sekali bertemu. Akan tetapi, Kedua orangtua Linanzha tidak suka dengan sosoknya sejak dulu.


"Hufft .." helaian nafas Malika, dengan di warnai wajah yang murung, "Ya sudahlah .. nanti malam saja," lanjutnya yang lalu berjalan pergi dari sekolah, sambil memakan sate domba yang di bawanya tadi.


Setelah itu, Malika pun pergi berkeliling Desa untuk kembali melakukan aktivitas sehari-harinya. Apa itu? Ya, mencopet.


"Dompetku! Dimana dompetku?!" keluh salah seorang nenek, yang baru saja di tabrak Malika lima menit yang lalu.


☆☆☆☆☆


Waktu pun sudah menunjukkan pukul jam sembilan malam. Malika yang sudah bergegas sejak tadi untuk menemui Linanzha, kini berada tepat di depan jendela kamar gadis cantik itu.


"TOK! TOK!"


Linanzha yang sejak tadi hanya membaca buku, langsung berlari jinjit ke arah cermin untuk berdandan terlebih dahulu. Ia mulai memakai parfum, merapikan rambut, hingga menggunakan sedikit pelembab bibir agar tak terlalu mencolok. Ia tahu ketukan jendela itu. Tak ada yang pernah berani mengetuk jendela calon seorang Sentinel, kecuali Malika.


"TOK! TOK!"


Perlahan, jendela pun terbuka. Aroma parfum yang berkumpul di dalam ruangan, kini berhembus keluar bersama wajah Linanzha yang pura-pura mengantuk. Malika hanya bisa menutup hidungnya sekuat tenaga, akibat aroma parfum yang terlalu tajam.


"Kebiasaan .." batinnya dengan sedikit air mata yang keluar.


"Apa yang kau lakukan malam-malam begini? Kau mengganggu tidurku, dasar bodoh," ucap Linanzha yang berbisik-bisik, sambil berpura-pura mengusap matanya.


"Aku hanya ingin mengucapkan selamat atas kelulusanmu, Lin .." balas Malika sambil memberikan sebuah kado yang berwarna hijau.


Linanzha lalu merampas kado itu dengan kasar dan berkata, "Hmmm ... kira-kira .. apa isinya, ya?" sambil menggoyang-goyangkan kado tersebut di dekat telinganya.


"Kenapa tidak kau buka saja?"


"Aku tak melihatmu pagi tadi. Apa kau melewatkan acara kelulusan sahabatmu ini begitu saja?" Linanzha mengupil dan mengutik kotoran hidungnya ke arah Malika.


Malika hanya menghindarinya dengan sigap sembari membalas, "Ya ... akhir-akhir ini, aku sedang lebih rutin mencopet untuk mengumpulkan uang .. hehe .."


"Terserah kau sajalah .." mata Linanzha acuh tak acuh ketika mengatakan itu.


Linanzha lalu membuka kado itu dengan kasar. Sontak, isi dalam kado itu, kini membuat Linanzha terdiam beberapa saat.


"Apa kau suka?" tanya Malika sembari menyeringai.


Linanzha tak mampu menahan senyum lagi. Dengan cara yang licik, ia pun melepaskan kado tadi begitu saja dan menutup kedua mata Malika.

__ADS_1


"Hehe .. seperti biasa, aku tak boleh melihat senyuman jelek itu," respon Malika saat matanya telah ditutupi.


"Hehe ... makasih," balas Linanzha yang lalu menyeringai selebar mungkin.


__ADS_2