KEKUATAN ALAM

KEKUATAN ALAM
Sepotong Tangan.


__ADS_3

Perjalanan itu memakan waktu selama 15 menit, akibat kecepatan si kuda seperti mengejek orang yang sedang menungganginya.


"Aarrggh! Aku seperti menunggangi orangtua!" Malika terlihat kesal saat mengatakan itu.


Perlahan, terlihatlah tembok bagian barat dari kejauhan. Pemukiman di bagian barat Desa, sudah terbengkalai sejak 30 tahun yang lalu, akibat serangan monster, yang telah memakan puluhan korban jiwa.


Sepi, gelap dan berkabut, adalah hal yang di lihat Malika saat ini. Bahkan, deretan rumah-rumah tua yang sudah tak berpenghuni, sudah menumbuhkan rerumputan liar yang menjalar kemana-mana.


Ketika semakin dekat, Malika lalu melambatkan kecepatan kuda itu, untuk berjalan pelan melewati lubang tembok tersebut.


Setelah melewatinya, kuda itu pun kembali berlari seperti biasanya. Semakin lama, Malika semakin tenggelam di dalam kegelapan. Perjalanannya menuju Rawa Indah, kini sedang berlangsung.


☆☆☆☆☆


Sementara itu, di Desa Avalon ..


"TOLONG?! SIAPAPUN, TOLONG AKU!"


Para warga kini sedang di hebohkan, oleh salah seorang wanita yang hilang secara misterius, di dalam rumahnya sendiri.


Wanita itu sudah bersuami, sekaligus sedang mengandung. Sang suami kini berteriak meminta tolong dengan nada yang begitu histeris. Ia menjelaskan kepada beberapa warga yang datang lebih dulu, bahwa dirinya baru saja pulang dari bertani.


Para warga pun semakin banyak yang berkumpul di rumah tersebut, hingga memasukinya untuk melihat apa yang terjadi.


Kini, terlihat banyak kerusakan pada perabotan, bekas cakaran besar di dinding, hingga sepotong tangan kiri sang istri yang hanya tergeletak di dekat kamar mandi.


Sang suami menangis dan berteriak bagaikan orang gila. Para warga pun tak tahu harus mencari kemana lagi, selain berputar-putar di sekeliling rumah, demi mendapatkan bukti lebih lanjut.


Dengan cepat, berita itu langsung tersebar ke telinga Valun, Gazzel, Senju, hingga Kepala Desa. Dengan sigap, mereka pun ikut turut datang ke tempat kejadian.


"Apakah ini ulah beruang?" tanya salah seorang warga di antara warga lainnya.


"Tidak mungkin! Mana mungkin cakaran beruang sebesar itu!" bantah warga lainnya.

__ADS_1


Perlahan, gerimis pun mulai turun hingga menimbulkan hujan besar. Kilat yang berubah guntur, kini juga turut menyambar di gelapnya langit pada malam itu.


Opini-opini dari para warga mulai saling bersahutan satu sama lain. Mereka kini mencurigai hal yang baru-baru saja menghebohkan mereka. Ya, Monster.


"Kita tidak bisa berdiam diri terus! Bagaimana, jika kita yang akan menjadi korban selanjutnya?!" teriak salah satu warga kepada Kepala Desa.


Seluruh warga pun menjadi ricuh dalam sekejab. Kericuhan itu, kini memicu mereka semua, untuk menaikan alat-alat tajam yang di genggam mereka ke udara. Bahkan, Ayah Linanzha juga turut menghebohkan suasana.


Situasi sudah menjadi tak terkendali. Para warga merasa, mereka harus melawan hal itu secepat mungkin, sebelum terjadi sesuatu yang lebih mengerikan.


Kepala Desa pun berkata dengan tegas, "Sebelum kalian ingin berkerumun untuk mencari pelakunya, ada baiknya kalian memperingatkan keluarga kalian masing-masing, untuk mengunci pintu rumah!"


Mendengar itu, para warga langsung menurutinya secepat mungkin. Kini, 991 warga yang berjenis kelamin laki-laki, berbondong-bondong mengelilingi Desa dengan alat-alat tajam, layaknya sedang ingin pergi untuk berperang.


Sedangkan yang berjenis kelamin wanita hanya satu. Ya, Gazzel kini sedang melompat dari satu atap ke atap lainnya, bagaikan seorang ninja bersama Senju.


Valun hanya berjalan bersama para warga, untuk berjaga-jaga, jika ada serangan dadakan yang mengarah, kepada ratusan orang-orang biasa itu.


Tidak ada Martis dan keempat murid terbaik lainnya yang berada di dalam kerumunan. Martis kini sedang kehujanan di dalam hutan, demi mencari bahan ramuan, beserta makanan kesukaan adik-adiknya.


☆☆☆☆☆


Sementara itu, Malika kini hampir mencapai tempat yang bernama Rawa Indah. Hujan yang kini juga sedang turut membasahinya, tak luput dari kekesalan Malika.


"Arrrgh! Kenapa harus di saat-saat seperti ini?!" keluhnya yang sesekali diiringi suara guntur.


Perlahan, terlihatlah sebuah rawa besar dari kejauhan. Malika lalu sedikit melambat, lantaran jalur-jalur yang mendekati Rawa itu, terlihat becek dan sedikit berbahaya.


Ketika sudah sampai, ia lalu segera turun dari kuda tersebut, sekaligus mengikatnya di sebuah pohon. Setelah selesai, ia pun menoleh kesana-kemari, demi mencari keberadaan bunga Zylgwn secepat mungkin.


Ia mencari, sembari menutup dahi menggunakan telapak tangan, agar melindungi pandangannya dari siraman air hujan. Tak lama kemudian ..


"Ya! Ya! Itu dia!" seru Malika yang gembira, sembari berlari cepat ke arah yang di maksud.

__ADS_1


Bunga Zlygwn, akhirnya terlihat sedang melambai-lambai, akibat kuatnya angin dari cuaca yang sedang berlangsung.



"Terima kasih, Tuhan!" seru Malika yang lalu menggali untuk mengangkat induk bunga Zlygwn, beserta dengan akar-akarnya, dan mengantonginya begitu saja.


Tanpa di sangka-sangka ..


"Kya! Tolong-tolong!" jeritan dan sekaligus teriakan keras seorang wanita.


Suara itu terdengar seperti berada jauh dari posisi Malika. Suara guntur dan hujan juga pun, kadang menyamarkan suara tersebut.


Malika pun berkata, "Eeh?! S-iapa itu?" sembari menoleh kesana-kemari.


Malika sangat terkejut, lantaran tak percaya kalau mendengar suara tersebut, di tengah-tengah hutan belantara. Dengan perasaan yang was-was, ia pun langsung berlari pelan kesana-kemari, demi mencari asal suara itu.


Kudanya yang sejak tadi sedikit berontak akibat cuaca yang ekstrem, kini semakin menggila seperti merasakan sesuatu. Namun, insting Malika tidak setajam kuda tersebut. Ia hanya mencari, mencari dan mencari asal suara itu.


Lagi-lagi, "Tolong! Ya Tuhan! Tolong!" diiringi jeritan yang begitu menakutkan.


Malika yang mendengar itu pun langsung kembali merespon, "Hei?! Siapa itu?! Apa kau Sedang tersesat?! Aku adalah warga Desa Avalon! Apa kau pengembara?!" sembari menoleh kesana-kemari dengan wajah yang cemas.


Malika yang sejak tadi masih melangkah maju, kini di hadapkan oleh pemandangan yang membuatnya berhenti, akibat remuk dalam ketakutan luar biasa. Betapa terkejutnya ia, ketika melihat seekor makhluk, yang sedang menyetubuhi seorang wanita dengan buasnya.


"A-staga .. as-taga .. asta-ga .." batin Malika yang tak kuasa menahan ketakutan.


Wanita itu tak bergerak saat di setubuhi makhluk kurang ajar itu. Ia hanya tergoyang-goyang kuat, akibat gerakan yang dibuat makhluk itu saat menyetubuhinya. Darah wanita itu terlihat mengalir, di bagian tangan kiri yang sudah terlihat buntung.


Tiba-tiba ..


"T-olong .." lirih wanita tersebut, yang terlihat seperti di saat-saat terakhir.


Entah apa yang membuat rasa takut Malika itu tadi, menjadi hilang dalam sekejab. Akhirnya, Malika pun melakukan sesuatu yang kini, akan membuat nyawanya ikut tenggelam ke dalam bahaya.

__ADS_1


Sang makhluk yang tengah asyik dengan kegiatannya itu pun, "BUAK!" terkena hantaman keras dari Malika yang tiba-tiba saja, sudah memegang sebuah kayu, sembari berteriak, "Lepaskan dia!"


Hantaman keras tersebut, mampu mematahkan kayu tadi, yang terlihat seperti padat dan keras. Namun, serangan Malika itu hanya membuat kepala makhluk tersebut sedikit bergoyang, sekaligus menatap Malika secepat kilat, dengan sepasang mata yang mengerikan.


__ADS_2