KEKUATAN ALAM

KEKUATAN ALAM
Mengesankan.


__ADS_3

Ketika sinar dari pilar-pilar itu mulai meredup, portal pun aktif dengan cara meledakkan gelombang kejut ke segala arah terlebih dahulu. Area di sekitar menjadi bergetar, hingga satu setengah kilometer jauhnya.


Para warga beserta ketiga Guru yang hampir mendekati tempat kejadian, langsung menghentikan langkah mereka, akibat terkejut dengan hal tersebut.


"Apa yang terjadi?! Kenapa sinarnya menghilang?!" teriak salah seorang warga yang menunjuk ke arah asal sinar tadi.


Semuanya melihat hal itu dengan bertanya-tanya dalam kehebohan. Mereka benar-benar kebingungan, lantaran sinar yang sudah menghilang itu, membuat mereka jadi tak tahu lagi dengan letak asalnya.


Namun, tak sampai disitu. Secara perlahan-lahan, terdengarlah banyak suara langkah kaki yang seperti sedang berlari ke arah mereka. Semakin lama, langkah-langkah kaki yang masih terdengar samar itu, semakin jelas, dekat dan ..


"Oh tidak .." lirih Gazzel yang perlahan melebarkan matanya, akibat melihat sesuatu yang begitu mendebarkan.


Kini, sekumpulan monster yang berjumlah 150 kepala, sedang berlari menuju mereka semua. Sebagian warga yang sejak tadi berkoar-koar dalam semangat, langsung terintimidasi dalam sekejab.


Valun yang selalu di kenal lembut dalam berbicara, langsung berteriak, "Keluarkan semua kemampuan kalian berdua!" sembari berlari duluan ke arah sekumpulan monster tadi.


Dengan sigap, Gazzel pun memainkan hentakkan kakinya ke tanah berulang kali, agar bongkahan-bongkahan tanah besar terangkat naik dan menendangnya ke arah para monster.


"BUUURRM! BURRRM!"


Bagaikan melempar dua bola ke arah susunan botol yang sedang berdiri, beberapa monster pun berserakan jatuh kemana-mana.


Sedangkan Valun, ia memainkan teknik beladiri di tengah-tengah sekumpulan monster yang berusaha untuk menyerangnya.


"BUAAK! BUK! BUAK! BUAK!"


Tendangan berputar, pukulan-pukulan cepat dan sedikit sentuhan gelombang kejut yang ia lepas dari telapak tangan, membuat keroco-keroco monster menjadi terhempas dan bersato-salto ke segala arah.


Senju yang sejak tadi sudah mereplikasi bentuk pedang yang terbuat dari es, kini mulai berlari, melompat ke arah para monster dan menebas mereka semua dengan hebat.


"PSSIIK! PSIIK! PSSAAK SIIK!" suara pedang Senju yang mengiris-iris tubuh beberapa monster.


Akan tetapi, Sebagian dari sekumpulan monster-monster itu, mulai menuju ke arah para warga yang tengah bersiap dengan garpu rumput, parang dan alat-alat tajam lainnya.


"J-angan takut! Serang!" teriak salah seorang warga dengan semangat yang meluap-luap.


"YEAAAAAAH!" seruan warga yang berkobar, sekaligus berlari secara bergerombol ke arah para monster.


Pertarungan pun tak terhindarkan. Warga-warga terlihat kacau. Ada yang hanya mendorong-dorong para monster, ada juga yang menginjak-nginjak satu monster secara bergerombol, jika mendapat peluang.


Namun, secara perlahan, para monster semakin mendominasi pertarungan dalam melawan warga. Ada sebagian warga yang belum sempat menyerang, tapi sudah bermandikan darah, akibat cakaran monster yang menggaris wajah mereka dengan sigap.


Tak sampai disitu. Ada juga seorang warga yang tersandung kakinya sendiri dan gagal untuk berdiri, akibat terinjak-injak oleh monster dan sesama manusia hingga tewas.


Lebih banyak darah berwarna merah yang bermuncratan, ketimbang yang berwarna silver. Serangan dari para warga kebanyakan meleset, ketimbang para monster yang memang berani untuk mati dalam berperang.


Terlalu gila. Nyali mereka tak bisa disamakan dengan para monster. Gazzel dan Senju yang melihat itu, kini sedang berusaha keras ke arah para warga, sembari menghajar monster-monster yang menghalangi mereka.


Sedangkan Valun, ia semakin terpojok dengan jumlah monster yang mendatanginya. Para monster selalu bangkit tanpa mengenal lelah. Sesekali, ia terkena cakaran dari belakang, hingga membuat punggung dan bahunya cukup terluka.

__ADS_1


Pedang es milik Senju pun semakin rapuh. serpihan-serpihannya yang jatuh sedikit demi sedikit, mulai memperingatkannya, bahwa sebentar lagi pedangnya itu akan patah.


Gazzel yang sejak tadi sudah mengeraskan seluruh tubuhnya bagaikan batu, mulai sedikit melunak akibat kuwalahan dengan berat tubuhnya sendiri.


Disela-sela pertarungan yang sedang berlangsung itu, Morca dan Alkila pun mulai berjalan keluar dari hutan, bersama satu sosok baru yang terlihat seperti pemimpin dari mereka semua.


"Lihatlah mereka .. hahaha .." ucap sosok tersebut dengan tawa yang begitu meremehkan.


-


-


-


☆☆☆☆☆


Sementara itu, Malika yang sejak tadi hampir sampai, mulai kebingungan akibat sinar besar tadi sudah menghilang. Namun, terdengarlah suara-suara keributan yang sedikit samar di telinganya.


Ia mulai menebak-nebak asal suara tersebut dalam keadaan berlari. Dan secara kebetulan juga, ia melihat si gadis api dari kejauhan, sedang berlari dalam keadaan di kejar seekor anjing.


"H-ei?! Hei, Lin?!" tegurnya dengan suara yang lantang.


Linanzha pun berhenti dan menoleh ke arah Malika secepat kilat, "Lika? Lika?!" dan kemudian lanjut berkata, "Berhentilah mengejarku!" sembari menendang anjing tadi dengan keras.


"BUAK!"


Anjing itu pun akhirnya lari terbirit-birit, dengan suara yang merengek kesakitan. Malika lalu mendekati Linanzha secepat mungkin dan memulai percakapan.


"Aku mengikuti arah sinar yang menjulang naik tadi. Kau lihat juga, kan?"


"Ya. T-api, apa kau sudah mendengarkan situasi Desa saat ini?"


"Aku sudah mendengarnya dan melompati jendela, untuk melihat situasi. Apa kau mengikuti sinar tadi?"


"Ya. Kau juga kan?"


"Y-ya. Aku penasaran akan hal itu."


"Tunggu apalagi?"


Mereka berdua saling memasang senyuman penasaran akan sinar tadi. Aroma-aroma misteri yang terhirup, kini mengkempas-kempiskan lubang hidung mereka berdua, di saat berlari menuju tempat yang di maksud.


Dan tentu saja mereka berdua juga mendengarkan suara keributan yang semakin jelas itu. Semakin lama, Langkah mereka berdua dalam berlari pun semakin cepat.


"Kau dengar itu, kan?" tanya Linanzha.


"Ya! Apakah ada perkelahian besar-besaran?"


"Pasti! Itu pasti!"

__ADS_1


Dan betapa terkejutnya mereka berdua, ketika melihat sekumpulan monster yang kini sedang bertarung melawan para warga. Mereka berdua langsung berhenti dan melihat pertempuran itu dari kejauhan.


"Ini gila! B-agaimana ini, Lin?" Malika tak berkedip sedikit pun saat melihat itu.


"Lihat! Itu para Guru!" Linanzha menunjuk ke arah yang di maksud.


Mereka berdua menyaksikan gaya bertarung para Guru yang begitu hebat. Sedangkan di saat melihat bagian warga, mereka mulai panik, akibat melihat beberapa warga yang sudah terlentang tanpa bergerak sedikit pun.


"Aku akan membantu warga!" kata Linanzha yang mulai berlari, namun tangannya di tahan oleh Malika.


"Tunggu, bodoh! Kau pikir itu mudah?"


"Apa kau ingin membiarkan mereka begitu saja? Lagipula, ada tiga Guru disana, Lika! Kita pasti bisa!"


Mereka terus berdebat. Linanzha yang sesekali ingin melepaskan diri, selalu saja ditahan oleh Malika. Mereka kini sedikit bertengkar, lantaran sudah tidak satu otak lagi dalam mengambil keputusan.


"Dimana kekuatan yang pernah kau ceritakan itu, hah? Aku percaya padamu, kau tahu?! Tunjukkan sekarang juga, Lika!"


"Sial .. sial .." batin Malika yang lalu berkata, "Aku tidak membohongimu! Hanya saja, kekuatanku kadang tidak bisa kel .." ucapan Malika pun terpotong oleh kemarahan Linanzha.


"Aku selalu percaya padamu, Lika! Itulah mengapa aku suka berteman denganmu! Kau adalah orang paling jujur yang pernah ku kenal! Jika memang kau han .." ucapan Linanzha yang terpotong, akibat melihat Malika yang tiba-tiba saja, meninggalkannya dan berlari ke arah pertempuran.


"Haaaarrrrrgghhk!" teriak Malika yang sembari berlari menarik pukulan dan berkata, "Fokus! Fokus!"


"L-ika! Lika?!" tegur Linanzha yang kebingungan dan ikut berlari mengejarnya, "Bodoh! Kau bodoh!"


Kedatangan Malika yang terlihat dari kejauhan itu, kini menarik perhatian Alkila, Morca dan sosok tadi yang sedang menonton dari kejauhan.


Sosok itu pun hanya berkata, "Apa-apaan itu? Hanya satu manusia yang dat .. dua?" lanjutnya ketika melihat Linanzha.


Ketika Malika sudah menarik pukulannya sekuat tenaga, ia pun berhenti secara tiba-tiba dan membuang pukulannya, dengan kemarahan yang luar biasa.


"Haaaarrrkkk! Cukup! Cukup!" Malika kemudian membuang pukulannya sembari berteriak, "Black Ball!"


Lengannya pun kini melesat panjang dan semakin membesar, di bagian kepalan tangan. Dan tentu saja, warnanya juga menjadi hitam pekat dan berasap dalam sekejab mata.


Dan ..


"BUUURRRRM!"


Kepalan tangan itu langsung menabrak sekumpulan monster dengan suara yang memekakkan telinga. Terlalu kuat. Malika terlalu emosi, ketika melayangkan pukulannya tersebut.


Namun, di balik kemarahan Malika, ada seorang gadis yang perlahan membuka matanya selebar mungkin, sambil tersenyum gembira akan kehebatan yang baru saja dilihatnya.


Mata Linanzha berkaca-kaca melihat itu. Ia tahu, kalau Malika tak mungkin akan membohonginya.


Sedangkan sosok pemimpin monster yang tadi, ia mulai menatap tajam ke arah Malika dan membatin,


"Mungkinkah .."

__ADS_1


-FOLLOW ME-


__ADS_2