
Ketika melihat Gazzel dan Malika yang datang, semua warga pun menghampiri mereka berdua dengan wajah yang terheran-heran. Bahkan, Kepala Desa langsung bersujud di depan mereka berdua.
"Terima kasih! Terima kasih! Entah bagaimana jadinya jika kalian datang terlambat, atau tidak memedulikan kami sama sekali!"
Kepala Desa mulai mengeluarkan air mata, di saat ia mengangkat kepala menghadap Gazzel dan Malika. Istri dan kedua anaknya lalu mulai mendekat dan memeluk mesra dirinya, bersama seluruh warga yang juga mengucapkan rasa terima kasih dengan antusias.
Gazzel memasang wajah tegas dan berkata dengan lantang, "Itu tidaklah penting! Bayarlah dengan bekerja sama dalam pembangunan tembok di Desa Avalon! Karena Desa Avalon, adalah rumah baru bagi kalian sekarang!"
"Baik!" balas para warga secara serentak.
-
-
-
☆☆☆☆☆
Kini, lebih tepatnya pada jam dua malam, Desa tersebut sudah terlihat gelap gulita sejak dari jam sebelas tadi. Gazzelah yang memerintahkan hal itu, agar pandangan para penjarah menjadi terganggu.
Jika saja para penjarah kembali menyerang, maka jarak pandang kedua belah pihak akan sama-sama berada pada titik buta. Seluruh Polisi Desa juga sejak tadi sudah berpatroli secara sembunyi-sembunyi.
Sedangkan Malika dan Gazzel, mereka kini sedang berjaga di atap paling tinggi pada Desa tersebut. Atap itu tak lain adalah bangunan tempat Kepala Desa sendiri. Mereka berdua hanya berbaring, sembari berbincang-bincang dalam berjaga.
"Malika?" tegur Gazzel yang kemudian memalingkan wajahnya.
"Ya, kak?"
"Sejujurnya, aku kagum dengan kekuatanmu. Aku bahkan sedikit iri melihatnya."
"Hehe .. apa yang kakak katakan?"
"Kau seperti terlihat menyatu dengan kekuatanmu. Apa .. itu .. karena garis keturunanmu .. atau .. sesuatu yang lain? Maaf, jika pertanyaanku itu sedikit menyinggungmu."
__ADS_1
"Aku tidak percaya dengan perkataan monster itu, kak. Aku yakin kalau kedua orangtuaku adalah manusia biasa," Malika tersenyum, memperlihatkan keyakinan akan perkataannya tadi.
"Biarkanlah itu menjadi rahasiamu sendiri. Yang ku ingin tahu darimu sekarang, adalah hal yang sakral bagi pengendali kekuatan alam. Baik itu pengendali elemen, maupun hewan. Bisakah .. kau jujur padaku?"
Malika mulai meraut wajah penasaran dan mengambil posisi duduk, "Apa itu, kak?"
"Apakah kau pernah bertemu dengan sosok aneh, akhir-akhir ini?"
"Bertemu sosok aneh? Dimana? Di Desa?"
"Di dalam dirimu, bodoh."
Malika mulai tahu kemana arah Gazzel berbicara. Tentu saja Gazzel menyinggung tentang sosok Kegelapan. Namun, Malika hanya memasang wajah yang pura-pura dalam menanggapi itu.
"Apa itu? Aku kurang mengerti dengan sosok aneh yang kakak maksudkan tadi. Bisakah kakak menjelaskannya?"
"Roh suci adalah akar kehidupan dari masing-masing elemen alam, maupun hewan. Ketika mereka memilih orang yang tepat, maka orang itu akan menjadi sadar tak sadar, dalam memanipulasi kekuatan mereka dengan skala besar, seperti halnya Linanzha. Kau pernah mengingat serangannya yang membakar hutan, kan?"
Malika merespon penjelasan itu dengan mulut yang menganga. Ia tidak kaget tentang penjelasan Roh Suci, melainkan kaget akan Linanzha yang di anggap Gazzel sudah berinteraksi dengan Roh Suci elemen api.
"Sayangnya, dia pernah berkata kalau Roh Suci tidak ada dalam dirinya. Tetapi aku yakin, kalau sekarang ini, dia pasti sedang menjadi pusat perhatian besar di Akademi. Guru-guru disana lebih tahu tanda-tanda murid yang akan di kehendaki."
"Kenapa dia tidak pernah memberitahukannya padaku? Itu hebat! Huufft .. tiba-tiba saja, aku jadi merindukannya .." batin Malika yang perlahan memasang senyuman simpul.
"Aku tahu, Malika. Aku tahu ada yang berbeda denganmu. Di saat masih seumuran sepertimu, aku belum mampu mengendalikan elemenku seperti sekarang. Bahkan .. kurasa, keempat murid terbaik juga tidak secepat dirimu dalam berkembang."
"Bagaimana ini? Apakah, aku harus jujur? Tapi .. mana mungkin aku mengatakan, bahwa Roh Suci milikku menginginkan tumbal manusia? Tunggu dulu .. kenapa di saat membunuh raksasa tadi, aku tidak menarik jiwanya ke dalam mataku? Apa yang terjadi .."
Perlahan, mimik wajah Malika berubah penasaran. Tingkah lakunya yang terlihat sedang berpikir sembari merautkan alis, membuat Gazzel yang melihatnya sejak tadi, menjadi berasumsi kalau Malika sedang menyembunyikan sesuatu.
Gazzel lalu mengambil posisi duduk dan menatap Malika dengan serius, "Kenapa kau terlihat ragu, Malika? Kau seperti menahan sesuatu. Apa aku benar?"
"Tidak, kak .. aku belum pernah merasakan sosok itu di dalam diriku. Tapi .. a-apakah itu buruk?" Malika menelan ludah, serta sedikit menggigit bibirnya dalam menatap Gazzel.
__ADS_1
Gazzel langsung memegang kuat kedua pipi Malika, untuk membuat mereka saling bertatapan muka. Ia lalu memasang wajah yang ingin menyudutkan Malika, agar bisa menuai kejujuran saat itu juga.
"Malika? Apa itu benar?"
"Uhrrrh .. Tivak kok (Tidak kak) .." ucap Malika yang tidak jelas dalam berkata, akibat kedua telapak tangan Gazzel, masih saja menekan pipi kiri dan kanannya.
Gazzel lalu melepaskan pipi Malika dan berkata, "Hufft .. entahlah .. mungkin .. aku terlalu berlebihan dalam mencurigai kalian berdua .."
Malika hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Ketika Gazzel sudah kembali mengambil posisi berbaring, Malika pun mulai menanyakan sesuatu.
"Kakak?" tegurnya.
"Ya?"
"Sebenarnya, apa yang di ajarkan pihak Akademi kepada seluruh murid terbaik dari berbagai Desa? Bukankah, mereka sudah terlihat cukup kuat untuk memberantas para monster?"
"Ingin ku ceritakan?"
"Ya, aku ingin tahu, kak."
"Setelah mereka lulus dari Desa masing-masing, ratusan murid berbakat itu akan saling bertarung sampai mati di dalam Akademi."
"Hah?! Benarkah?!" mata Malika hampir copot ketika mendengar itu.
"Hahaha! Aku hanya bercanda, bodoh."
"Ayolah, kak. Ceritakan yang sebenarnya."
Gazzel pun sedikit menarik nafas dan berkata, "Lulus dari Desa, hanyalah dasar dari semua yang akan mereka dapatkan nanti di Akademi. Di Desa, mereka cuma di ajarkan Teknik Sikap Pasang Fisik yang lebih tertata, serta mempelajari Plexus seperti dirimu. Jika hal itu berhasil merangsang elemen mereka ke tahap yang lebih besar, maka dengan bangga, pihak Akademi akan mengajarkan ilmu tingkat lanjut dari isi sebuah Kitab, yang bernama Kitab Tarian Sentinel. Setiap elemen memiliki tahap penguasaan yang sama, yakni tujuh tingkat. Namun, isi dari Kitab itu, memiliki jenis Tarian yang berbeda-beda, sesuai elemen masing-masing. Tarian Api, Tarian Air, Tarian Bumi, hingga Tarian Hewan. Semuanya bernaung di dalam Kitab Tarian Sentinel. Masing-masing juga memiliki kekurangan dan kelebihannya sendiri. Tetapi setahuku, begitu sulit dalam menguasainya hingga ke tingkat enam. Semuanya kembali lagi kepada Roh Suci yang harus menyokong kemampuan mereka, Malika."
"Hah?" respon Malika yang memasang wajah tidak mengerti.
"Aku sudah menjelaskannya secara panjang lebar dan kau hanya menjawab seperti itu?" keluh Gazzel sembari menarik telinga Malika sekuat mungkin.
__ADS_1
-FOLLOW ME-