
Ketika Malika dan bayangan itu terduduk di tanah, si monster langsung memanjangkan tangannya dari kejauhan, demi untuk mencengkeram Malika. Kuku-kukunya yang tajam, kini semakin besar dan panjang dari yang sebelumnya.
Di detik-detik serangan itu, Malika yang tidak mengetahui kedatangan serangan tersebut, masih saja terpaku dengan sosok bayangan misterius tadi. Untungnya ..
"BUAAAK!"
Dengan cepat, si bayangan langsung menabrakkan dirinya ke arah serangan tadi. Betapa terkejutnya Malika, ketika melihat si bayangan yang tiba-tiba saja, melesat cepat dalam menghalau serangan yang tidak di ketahuinya sama sekali.
"Astaga!" teriak Malika yang terkaget-kaget.
Kini, tangan si monster menjadi tertahan. Ya, si bayangan tidak hanya menghentikannya, ia juga memeluk tangan si monster sekuat tenaga.
"Le .. paskan .. tanganku!" kata si monster yang kemudian merontakan tangannya kesana-kemari.
Malika yang kini mulai berdiri agar mencari posisi aman, tiba-tiba saja membatin, "Apa itu milikku?" sembari melihat bayangan tersebut.
Bayangan itu bagaikan perekat. Ia terus terseret mengikuti ayunan tangan si monster. Tak berselang lama, si monster yang kewalahan pun terpaksa memendekkan tangannya kembali.
Si bayangan yang masih saja ikut terseret, akhirnya meledak menjadi asap hitam secara tiba-tiba. Asapnya begitu pekat, hingga membuat pandangan si monster menjadi terhalangi.
Di saat asap itu masih mengepul, dengan cepat, Malika mengambil peluang tersebut, untuk bersembunyi di antara pepohonan lainnya.
Ya, lagi-lagi, hal itu membuat si monster berteriak murka ke segala arah. Ia begitu tak kuasa menahan emosi, lantaran kehilangan Malika untuk yang kesekian kalinya.
Si monster pun berkata dengan lantang, "Arrgh! Ter .. ruslah ber .. sembunyi!" dan kemudian mencakar udara di depannya.
"SLIIIINK!"
__ADS_1
Cakaran udara itu, mampu menciptakan cakaran raksasa yang bersinar, di saat melesat cepat dalam membelah tanah menuju si wanita.
Malika yang melihat itu dari balik pepohonan, langsung berteriak, "Tidak!" sembari berlari ke arah wanita tersebut.
Momen kilat itu, sudah jelas membuktikan siapa yang lebih dulu sampai ke wanita tadi. Malika terpaksa harus menahan pilu, akibat melihat serangan si monster, membelah si wanita tadi menjadi dua bagian.
"PSIIIIK!" suara tubuh si wanita disaat terbelah, sekaligus memuncratkan darah kemana-mana.
Serangan itu bahkan masih terus berlanjut merubuhkan beberapa pohon, hingga terhenti dan meledak, setelah menabrak sebuah batu raksasa yang kebetulan berada di tengah hutan.
"BOOM!"
Malika hanya bergeming menatap ledakan itu tanpa berkedip. Ia hancur di dalam kepedihan, akibat sudah terlambat untuk menyelamatkan wanita tadi.
"Tidak .. tidak mungkin .." batinnya yang tak kuasa melihat hal itu.
"Ma .. tilah!" teriak si monster yang kemudian memanjangkan tangannya dari udara, menuju ke arah Malika yang masih saja berdiam diri di bawah.
Malika yang melihat si monster, langsung kembali berkata, "Aaaarrrggh! Aku akan menghancurkanmu!" dengan urat kemarahan yang tergambar di dahinya.
Malika seperti berusaha mengubur ketakutannya sedalam mungkin, dengan memunculkan kemarahannya atas kematian si wanita tadi.
Dan entah kenapa, emosinya itu, secara tak sengaja, menciptakan apa yang sebenarnya diinginkan Malika. Dalam sekejab, tiba-tiba saja empat bayangan muncul secara beruntun di depan dirinya.
"PUW PUW PUW PUW!"
"B-bayanganku?" batin Malika yang terkejut.
__ADS_1
Di saat tangan si monster hampir menyentuh Malika, dua bayangan langsung memblokir serangan itu dengan sempurna.
Benturan di antara kedua bayangan dan tangan si monster, langsung menciptakan angin yang berhembus, hingga menghempaskan air hujan kemana-mana.
"SPLAAASSH!"
Si monster yang berada di udara pun, pada akhirnya mendarat di tanah dan menarik kembali tangannya. Namun, ia malah ditarik balik oleh kedua bayangan tadi.
"Aarrgh! A .. pa ini?!" keluh si monster.
Malika hanya berteriak, "Tahan dia! Arrrggh!" sembari berlari ke arah si monster.
Beban kedua bayangan, kini lebih gila dari pada satu. Hal itu membuat si monster terpaksa harus memanjangkan tangannya yang satu lagi, demi mengusir mereka.
Namun percuma. Sesigap mungkin, dua bayangan yang tersisa tadi langsung memblokir serangan tersebut, dengan cara yang sama.
Si monster pun berteriak, "Ku .. rang ajar!" sembari Saling tarik-menarik melawan keempat bayangan tersebut.
Di sela-sela itu, Malika langsung berlari bebas ke arah si monster. Dan entah dirinya sadar atau tidak, di setiap pelariannya, ia terlihat sedang berteportasi, setiap 2 langkah sekali, selama mendekati monster tersebut.
Terlalu cepat. Si monster bahkan panik melihat Malika yang kadang-kadang tidak terlihat, ketika berlari menuju dirinya.
Malika pun berteriak, "Arrrrrggh! Fokus! Fokus!" sembari mengepalkan tangannya yang tiba-tiba saja, di aliri asap hitam pekat.
Belum juga melihat Malika dengan jelas, "BUAAK!" pukulan itu langsung mendarat keras ke pipi si monster secepat kilat.
"Uhurrrgh!" rintihan si monster, ketika merasakan pukulan dadakan itu.
-FOLLOW ME-
__ADS_1