KEKUATAN ALAM

KEKUATAN ALAM
Semakin Jauh.


__ADS_3

Sementara itu, di hutan dekat gunung Ababel, Informasi mengenai kontrak darah sudah di dapatkan Malika secara detail. Makunamu mengatakan bahwa kontrak tersebut berbentuk Kristal berwarna biru. Ukurannya hanya sebesar jari kelingking orang dewasa dan terletak di dalam jari tengah pada tangan sebelah kanan Mexuca.


"Kau dengar itu?" batin Malika kepada sang Kegelapan.


"Jadi, apa rencanamu?" tanya Makunamu tersenyum hangat, serta sedikit mengelus dada Malika dengan manja.


"Kalau itu, tentu saja bukan langkahku. Roh Sucilah yang akan melakukannya."


"Hmm? Apa langkah selanjutnya, jika kontrak itu sudah berada di tanganmu?"


"Roh Suci akan menyuruhku menguburnya di tempat terpencil, mungkin?"


"Itu terlalu berbahaya, Malika. Kenapa tidak kau simpan saja?"


"Ya .. mungkin aku akan melakukannya. Apa yang terjadi jika kontraknya bekerja?"


"Aku tidak tahu. Namun, itu bisa menjadi hal yang teramat buruk bagi duniamu," balas Makunamu yang lalu merenggangkan tangannya, akibat merasakan kantuk yang semakin dalam, "Apa kau tidak kelelahan?" lanjutnya.


"Sebelum itu .." Malika kemudian mendekap Makunamu, membalikkan posisinya menjadi terlentang, sehingga dirinyalah yang berada di bagian atas.


"Haha .. apa .. kau ingin melakukannya?" Makunamu tertawa geli melihat Malika yang tiba-tiba saja menjadi buas.


"Kau sudah membuatku mengeras sejak tadi. Bolehkah .. aku .."


"Lakukanlah .. hangatkan aku, bocah Kegelapan .."


Keduanya pun saling memadu cinta satu malam. Cahaya rembulan berpendar di sela-sela dedaunan, menyinari mereka yang saling melampiaskan.

__ADS_1


"Anak pintar .." desisnya menggoda, membawa Malika semakin jatuh ke alam wanita.


Kedua pinggul saling menggeliat, menikmati gesekan pada 'Milik' masing-masing. Dua kaki Makunamu lalu mulai mengunci Malika, membuat permainan semakin gila di antara keduanya. Semakin lama, rasa membara semakin memuncak ingin keluar.


"Biarkan aku saja .." Makunamu lalu menarik 'Kereta' itu, mengarahkan tembakannya ke arah perut, dada, sampai di sekitaran wajahnya.


Malika sudah seperti tak tahu diri. Wajahnya terlihat meleleh, merasakan puncak bagi seorang lelaki, dalam merasakan kebutuan batin yang terpenuhi.


"Dasar bocah laknat," keluh kesal sang Kegelapan.


-


-


-


-


-


Kembali di Asrama Akademi. Aroma tersebut, kini sudah membawa Linanzha ke dalam ruang lingkup Atlas dan Saosin. Ya, sedikit lebih tajam di saat mereka mengendus Linanzha, ketimbang Axel yang samar bagaikan sebutir beras di dalam kumpulan pasir. Atlas dan Saosin sekarang berada tepat di depan kamar Linanzha yang terbuka.


"Linanzha? Kau selalu saja penuh kejutan. Mulai dari teknik bertarungmu yang berat dan kasar, hingga Plexusmu yang kadang melampaui batas tubuh. Kau memang berhasil mencuri perhatian kami. Tetapi, apa yang membuatmu bisa terjebak dengan aroma asing ini? Siapa yang selalu masuk ke kamarmu?" tanya Atlas menatap curiga ke arah Linanzha.


"Aku hanya membawa teman perempuan di saat waktu senggang, Pak! Tidak untuk laki-laki!" jelasnya tegas, menatap kaku ke arah tembok.


Atlas lalu masuk ke dalam kamarnya. Ia kembali mengendus di setiap tempat, tanpa melewatkan bagian manapun. Semakin lama, ia semakin mengarah ke bagian ranjang dan berhenti tepat di depan bantal. Atlas lalu mengangkat bantalnya, hingga terlihatlah sebuah benda aneh di bawah bantal tersebut.

__ADS_1


"Boneka apa ini? Apa kau selalu memeluk boneka menyeramkan ini ketika tidur?" tanya Atlas kembali, kemudian menghirup dalam boneka tersebut, "Ini rupanya,"


Ya, itulah pusat aroma yang sebenarnya. Boneka dari berbahan dasar jerami, terlihat usang dan seperti buatan tangan sendiri, membuat Linanzha sedikit terkejut, kalau benda pemberian Malikalah yang menjadi titik pencarian kedua Lionel selama ini.


"Siapa yang memberikanmu benda mengerikan ini?" tanya Atlas kembali.


"Sahabatku, Pak!" balasnya singkat.


"Dimana dia sekarang?"


"Dia tinggak di Desaku, Pak!"


"Hah? Kalau begitu, kenapa aromanya bisa ada di sekitaran luar tembok kerajaan?"


Tentu saja pertanyaan Atlas mengejutkannya. Linanzha mengerutkan alis, mengedipkan matanya dengan cepat sembari menatap ke arah lantai, seperti seakan tak percaya dengan semua itu. ke khawatiranya semakin memuncak, merasa Malika mungkin melakukan sesuatu yang bodoh.


"Maaf, Pak. Aku tidak mungkin membohongi anda. Ia benar-benar berada di Desaku. Jika memang aromanya berada di sekitar Kerajaan, maka itu sudah di luar sepengetahuanku."


"Apa sahabatmu itu memiliki bakat alam?"


"Tidak, Pak!"


"Linanzha? Apa kau ingin tahu yang sebenarnya?"


"Ya, Pak!"


"Entah aroma ini milik sahabatmu atau bukan. Tetapi, kami mendapatkan jejak aromanya yang bercampur dengan aroma monster. Jika memang sahabatmu itu tidak memiliki bakat alam, untuk apa monster berteman dengannya? Kau ingin membohongiku?"

__ADS_1


Entah mimik apalagi yang harus Linanzha raut di wajahnya. Enam bulan tak bertemu, begitu terdengar menjadi kabar yang buruk. Hatinya terhimpit sesak, tak sanggup memilah misteri Malika yang tiba-tiba saja menjadi pusat perhatian kedua Lionel.


-FOLLOW ME-


__ADS_2