
Malika tadi mengambil kesempatan menyerang dengan sangat baik. Entah serangannya itu berupa peluang yang sudah ia pikirkan, atau hanya keberuntungan semata.
"Arrrghh! Terkutuk kau!" teriak Malika yang kemudian jatuh terlungkup, akibat sudah tak mampu lagi menahan lelah.
"Anak berandal itu .. cih .." batin Ayah Linanzha dengan wajah yang menyiratkan kebencian.
Linanzha yang melihat Malika, langsung berlari ke arahnya. Namun sayangnya, ia di hentikan oleh sang Ibu. Sang Ibu benar-benar memasang wajah dingin ketika menghalangi Linanzha.
"Tidak, Linanzha," ucap sang Ibu.
Pada akhirnya, hanya Martis sendirilah yang berlari ke arah Malika. Ia hanya mengubah posisi Malika menjadi terlentang, menyeretnya dari tempat pertarungan dan menjaganya.
Dan disisi lain, sosok tadi pun mulai terlihat tak kuasa untuk berdiri. Ia berusaha bangun dengan tubuh yang gemetar, akibat kelelahan. Tubuhnya sudah di penuhi luka berat. Tebasan dari Breath Of God milik sang Ibu, adalah luka yang paling buruk.
Melihat itu, Gazzel langsung duluan melesat, melompat dan menindih tubuh sosok tadi dengan cara mendudukinya. Senju kemudian ikut mendekat dan menginjak wajahnya dengan kekuatan penuh.
"Kau! Kau akan membayar semua ini dengan kematian, monster!" ucap geram Gazzel yang sedikit bergelinang air mata.
Wajah Senju juga terlihat sama. Ia benar-benar memainkan pijakannya ke wajah sosok itu, bagaikan sebuah keset kaki.
"Kau .. pikir .. aku takut mati? Hehe .. akan .. ada banyak kami yang datang .. ini belum seberapa .." lirih sosok tadi yang masih saja sempat memasang senyuman sombong.
"Kau!" ucap geram Gazzel yang kemudian mengepalkan satu tangannya dalam kekuatan penuh.
Ketika Gazzel ingin membunuhnya, sosok itu pun mulai mengatakan sesuatu. Hal itu terpaksa membuat Gazzel harus menahan niatnya secara tiba-tiba.
"Bocah kegelapan itu .. uhurrgh .. kalian pikir .. dia .. dia akan memihak kepada kalian?"
Mendengar kata "Kegelapan," tentu saja mereka berdua langsung memikirkan Malika. Hanya saja, mereka berdua baru tahu, kalau kekuatan milik Malika itu adalah kegelapan.
"Dari mana kau tahu kalau itu adalah kegelapan?" tanya Senju yang sejak tadi masih menginjak wajahnya.
"Uhurrghh .. kalian pikir, hanya dunia kalian saja yang memiliki elemen alam? Kami punya satu! Kegelapan adalah milik dunia kami! Hanya saja .. entah kenapa elemen itu muncul di dunia kalian! Tapi .. aku mulai paham .. anak itu .. anak itu mempunyai garis keturunan .. bangsa kami .."
"Apa?" Gazzel terkejut dengan penjelasan sosok itu.
"Hehe .. kau terkejut? Apa kau tidak bisa mengetahuinya dengan indra manusiamu yang lemah? Bodoh .. aura kalian begitu .. menjijikkan!"
"Apalagi yang kau ketahui tentang itu?" tanya Senju kembali.
__ADS_1
"Hehe .. hehehe .. hahaha! Kalian akan musnah! Cepat atau lambat .. bangsa kami akan menguasai dunia ini, sebagai batu loncatan menuju dunia selanjutnya! Mati! Kalian semua hanya serangga!"
Sosok itu semakin meronta-ronta. Ia melawan tindihan Gazzel dengan wajah yang di penuhi amarah. Dengan terpaksa, Gazzel pun harus mencolok kedua mata sosok itu, menggunakan jempolnya.
"CIIIK!"
"Aaarrgggh! Sial! Arrrggh .. kurang ajar!" erangan sosok itu yang merasakan kesakitan.
Senju mulai mengalihkan pijakannya ke arah leher sosok itu sekuat mungkin. Mereka berdua benar-benar menyiksanya sebelum menjelang ajal.
Dan pada akhirnya, pukulan keras bertenaga dalam pun masuk secara bertubi-tubi ke wajah sosok itu. Gazzel sangat menikmati pukulan demi pukulannya yang memuncratkan darah berwarna silver.
"BUAK! BUK BUK BUAK! BUAAAK!"
Sosok itu kemudian tewas secara mengenaskan. Bahkan, ketika ia sudah mati, Gazzel masih saja memukulnya terus menerus.
"Gazzel? Sudahlah. Dia sudah tak bernyawa," ujar Senju.
Gazzel hanya terdiam sembari menyudahi aksinya tadi. Ia mulai berdiri dan memeluk Senju dalam kesedihan yang tiada dua. Kehilangan sang Guru besar, sama saja dengan kehilangan akan sosok orangtua bagi mereka berdua.
"Bagaimana jika Antonov mengetahui ini?" tanya Gazzel yang tersendu-sendu akibat tangisannya.
Akan tetapi, mereka berdua tak mengetahui akan kehadiran Alkila dan Morca. Ya, sejak tadi, Alkila dan Morca hanya bersembunyi dalam mengintai mereka berdua.
"Kurasa .. kita harus kembali dan memberitahukan ini kepada yang tertinggi," bisik Alkila.
"Cih .. ini belum berakhir, serangga .." balas Morca yang geram melihat kematian sang pemimpin mereka tadi.
Dan pada akhirnya, pertarungan gila tadi pun telah berakhir, dengan memakan korban yang cukup banyak di antara kedua belah pihak.
Gazzel dan Senju kemudian memutuskan untuk pergi meminta bantuan warga yang selamat, untuk bergotong-royong, dalam memisahkan mayat manusia dan monster yang masih bergelimpangan.
Para warga yang terkumpul, langsung segera menuju ke tempat kejadian. Sang Ayah juga terlihat turut ikut membantu dalam hal itu. Sedangkan sang Ibu, ia lebih memilih membawa Linanzha untuk pulang.
Di sela-sela itu juga, Martis masih saja duduk di sebelah Malika yang tengah pingsan. Ia tetap menjaga Malika, sembari melihat para warga yang sedang bergotong-royong.
Tiba-tiba,
"Tidak .. jangan .. jangan meludahi kakiku, Linanzha!" teriak Malika yang tiba-tiba saja terbangun dalam posisi duduk, akibat bermimpi buruk.
__ADS_1
Martis cukup kaget dengan cara terbangunnya Malika. Ia lalu hanya berkata,
"Hei? Syukurlah, kau baik-baik saja, kan?"
Malika hanya bingung melihat apa yang terjadi. Ya, ia melihat ada banyak warga yang sedang saling membantu, dalam mengangkat mayat manusia. Sedangkan mayat para monster, mereka biarkan begitu saja.
"Apa yang terjadi?"
Martis lalu menjelaskan semuanya. Seiring penjelasannya itu, Mereka berdua mulai mendekat ke arah Gazzel. Martis berkata kepada Gazzel kalau ia akan mengobati Malika di rumahnya.
Namun, Gazzel belum melupakan tentang ucapan sosok tadi. Ia lalu meminta Malika untuk bertemu dengannya besok. Malika pun menyetujui hal itu dan kemudian melangkah pergi bersama Martis.
-
-
-
☆☆☆☆☆
Sementara itu, di rumah Linanzha, sang Ibu kini menjadi perhatian penuh di mata anak tunggalnya itu. Ya, Linanzha belum bisa melupakan kejadian tadi.
Sang Ibu yang sedang duduk di sebuah kursi, kini sedikit merasa risih, lantaran Linanzha terus melihatnya dengan tatapan kosong.
"Huuuff .. hentikan Linanzha. Kau membuat Ibu takut," ucap sang Ibu yang kemudian berdiri untuk mengambil segelas air.
"Kenapa .. I-bu tidak pernah memberitahukan hal ini?" tanya Linanzha dengan sedikit terbata-bata.
"Tentang apa?"
"Tentang kekuatan Ibu! Kenapa Ibu tidak memberitahukan hal ini padaku? Kenapa cuma Ayah?"
"Ayahmu juga belum mengetahuinya, sayang."
"Hah?! J-adi .. selama ini .." ucapan Linanzha lalu terpotong oleh perkataan sang Ibu.
"Dengarkan Ibu, sayang. Huufft .. Kau lihat ini?" sang Ibu lalu memperlihatkan suatu kalimat yang terukir di mata pedangnya.
"Hah! X-x-enel?" mata Linanzha hampir copot melihat kalimat itu.
__ADS_1
-FOLLOW ME-