KEKUATAN ALAM

KEKUATAN ALAM
Bunga Zlygwn.


__ADS_3

Di saat memasuki pusat Desa, Malika dan Linanzha kemudian saling berpisah begitu saja, di antara kerumunan warga. Ya, itu adalah kebiasaan mereka berdua, agar tak terlalu mencolok dari orang-orang yang mungkin, kenal dengan kedua orangtua Linanzha.


Kini, entah kemana kaki Malika melangkah pergi. Ia hanya berkeliling Desa seperti biasanya. Di sela-sela itu, ia juga sempat berpikir tentang kekuatannya. Ia tak mengerti, mengapa kekuatan misteriusnya itu, tidak keluar seperti saat-saat pertama kali.


-


-


☆☆☆☆☆


Seiring perjalannya yang sudah memakan waktu hingga 30 menit, matahari pun mulai sedikit tenggelam menyudahi hari. Malika yang sejak tadi tidak kenal lelah dalam melangkah, kini tak sengaja menoleh, ke arah salah satu murid terbaik dari kejauhan.


Di antara kerumunan para warga, Martis terlihat sedang memasuki sebuah toko kecil, yang menjual berbagai macam ramuan herbal. Karena merasa masalahnya dengan Martis sudah selesai, sekaligus tidak ada kerjaan, ia pun memberanikan diri untuk masuk ke toko tersebut.


Di saat memasuki toko, ada sebagian warga juga yang sedang berlalu-lalang kesana kemari, sebagai calon pembeli. Terlihat di mata Malika, Martis kini sedang berbicara dengan si penjual, dalam keadaan serius.


Malika lalu sedikit mendekat dan menutupi diri di antara para pembeli lainnya, untuk mendengar percakapan mereka. Perlahan, percakapan itu semakin terdengar jelas di telinganya.


"Tolonglah aku, Pak. Aku berjanji, bahwa ini akan menjadi yang terakhir kalinya aku berhutang. Ibuku sedang sakit keras akhir-akhir ini. Ku mohon .. ku mohon .." ucap Martis sembari menempelkan kedua telapak tangannya.


"Sudah ku bilang berulang kali. Ramuan itu sudah lama tidak di bawa kesini. Bagaimana aku bisa membantumu jika begitu?" kata si penjual dengan wajah yang ikut sedih melihat permohonan Martis.


Martis terlihat murung saat mendengar itu. Ia hanya mengira, kalau si penjual mungkin tidak mau memberikannya lagi, lantaran hutangnya yang sudah menumpuk. Kini, ia hanya menundukkan wajah dan diam tak berkata, di depan si penjual.


Si penjual yang melihat Martis seperti sudah putus asa, tiba-tiba pun berkata, "Tunggulah sebentar disini," lanjutnya yang kemudian memasuki ruangan lain.


Malika sejak tadi hanya mematung di depan rak besar berkaca, yang berisikan berbagai macam ramuan berwarna-warni, pada tiap-tiap botol. Sesekali, ia menoleh ke arah Martis untuk melihat, apakah si penjual sudah keluar atau belum.


Tak berselang lama, si penjual pun keluar dengan secarik kertas, yang sudah bertuliskan sesuatu. Ia mulai memberikan kertas itu ke tangan Martis, "Jika kau memang ingin menyembuhkan Ibumu, maka tak ada cara lain, selain mencari bahan dasar ramuan yang kau mau itu, di dalam hutan, anak muda. Maafkan aku," sembari menepuk pundak Martis.


Martis hanya fokus membaca nama-nama bahan itu di atas kertas tadi. Di kertas itu, ada 6 bahan dasar yang tertulis. Hanya saja, Martis menjadi bingung, setelah membaca salah satu bahan yang bernama akar Zlygwn.


"Apa itu akar Zlygwn, Pak?" tanya Martis sambil mengerutkan alis.


Si penjual lalu menjelaskannya kepada Martis. Akan tetapi, penjelasannya si penjual sedikit terbatas, lantaran ia juga belum pernah melihat akar itu secara langsung.


"Aku bisa membantu," ucap Malika yang tiba-tiba saja berada di samping Martis.


"Kau?!" balas Martis yang sedikit terkejut, sembari melangkah ke arah Malika, "Apa yang kau lakukan disini, pencuri?" dengan tatapan yang menyiratkan dendam.


"Aku pernah melihat akar Zlygwn. Itu adalah akar yang hanya berasal dari induk bunga Zlygwn. Induk bunga itu, akan tumbuh di tengah anak-anaknya," jelas Malika yang merautkan wajah serius.

__ADS_1


"Benar .. itu benar!" sambung si penjual yang terkejut mendengar penjelasan Malika.


"Kau mau?" tawar Malika sekali lagi.


Martis sedikit curiga kepada Malika, lantaran merasa kalau Malika mungkin mempunyai niat lain di balik membantunya.


Ia kemudian berkata, "Apa yang kau inginkan dariku?" sambil mengangkat dagu memperlihatkan kesombongan seperti biasanya.


"Aku hanya ingin membantu Ibumu. Maafkan aku, karena sudah mendengar percakapanmu sejak tadi. Percayalah," Malika menatapnya dengan santai.


Karena sudah tak ada jalan lain lagi, dengan berat hati pun ia mendekatkan bibirnya ke telinga Malika, sembari berbisik, "Jika kau mempermainkanku, akan kubunuh kau .."


Malika hanya membalas, "Percayalah padaku," dengan memasang senyuman tulus, sambil membatin, "Dasar .. katak jadi-jadian .."


Akhirnya, Martis terpaksa harus menerima bantuan dari Malika. Ia tak menyangka, bahwa orang yang ia benci itu, datang di saat-saat dirinya hampir kehabisan nafas.


Mereka berdua kemudian melangkah keluar dari toko tersebut. Sesampainya di luar ..


"Jadi, dimana bunga itu?" tanya Martis.


"Bunga itu berada jauh di Rawa Indah bagian selatan hutan. Kau ingin pergi malam-malam begini?" tanya Malika kembali.


"Ya, aku harus segera menyembuhkan Ibuku. Ibuku sampai sekarang masih kesakitan," balas Martis yang sambil menatap kertas tadi di tangannya.


"Kalau kau mau, kita berbagi tugas saja. Ak .. aku mohon .." Martis seperti berat mengatakan hal itu.


Malika hanya membalas, "Aku mau saja menurutimu. Tapi, apakah aku harus jalan kaki?" sembari melipat kedua tangan di belakang kepalanya.


Mendengar perkataan itu, Martis jadi sedikit merasa percaya kepada Malika. Ia kemudian berkata, "Ikut aku,"


-


-


-


☆☆☆☆☆


Tujuh menit kemudian, sampailah mereka di rumah Martis. Rumah itu terlihat sederhana dan agak kumuh. Di depan rumah tersebut, ada halaman kecil yang hanya menumbuhkan satu pohon rambutan.


Dan di bawah pohon rambutan itu, terlihat ada dua gadis kecil kembar, yang sedang duduk memainkan permainan Hompimpa.

__ADS_1


"Ye! Kakak pulang!" seru salah satu gadis kecil tadi, ketika melihat Martis dari kejauhan.


"Kakak?!" tegur gadis kecil yang satu lagi.


Mereka berdua kemudian berlari riang gembira ke arah Martis. Malika sedikit merasa aneh kini, ketika melihat Martis yang tiba-tiba saja, memasang senyuman hangat.


"Hehe .. hei, Martha, Marsha? Apa yang kalian lakukan malam-malam begini di luar?" Martis kemudian berjongkok, untuk menerima pelukan dari kedua adiknya itu.


"Kakak? Aku lapal (lapar)," ucap Marsha dengan wajah cemberut.


"Aku-aku .. aku juga," sambung Martha dengan wajah yang sama.


"Sebentar lagi, kakak akan ke hutan untuk mencari jamur kesukaan kalian, oke? Kalian masuklah dan jaga Ibu sebentar," balas Martis sembari mengusap-ngusap punggung kedua adiknya itu, dalam keadaan masih memeluk mereka.


Kini, timbulah rasa iba di dalam hati Malika ketika melihat hal itu. Ia tak menyangka, kalau orang yang terlihat songong seperti Martis, mempunyai hati yang begitu hangat.


Di saat kedua gadis kembar itu masuk ke dalam rumah, Martis pun menuntun Malika ke halaman belakang rumahnya, supaya menuju ke sebuah kandang kuda.


"Aku akan meminjamkan kuda milikku. Kau berhati-hatilah selama perjalanan," ucap Martis sembari membuka pintu kandang tersebut.


Malika hanya membalas, "Baiklah! Yah! Akhirnya! Setelah sekian lama aku tidak menunggangi kuda!" sembari mengepalkan tangan akibat bersemangat.


Kuda itu pun di tarik keluar oleh Martis. Sontak, rupa kuda tersebut membuat Malika menjadi terdiam, sambil membuka mulut, lantaran terheran-heran.


Betapa tua dan kurusnya kuda tersebut, saat di tarik keluar oleh Martis. Bahkan, sekawanan lalat berputar-putar melingkari kepala kuda itu layaknya membentuk mahkota.


"I-ni kudamu? Apa tidak ada yang lainnya lagi?" tanya Malika yang terlihat kesusahan menatap kuda tersebut.


"Kau ingin jalan kaki?" tanya Martis kembali.


"Hii! Mungkin ini adalah perjalanan kudamu yang terakhir," ejek Malika yang kemudian menaiki kuda itu, dengan ekspresi geli dan kembali berkata, "Kapan terakhir kali kuda ini mandi?!" dengan nada yang kesal, lantaran menyesal menduduki kuda itu.


Martis pun berbisik, "Ssst! Jangan ejek kuda kesayangan adik-adikku, bodoh .." sembari menaruh telunjuk di depan bibirnya.


"Kuda ini bahkan seperti sudah mati dalam keadaan berdiri," ejek Malika kembali.


"Pergilah, bodoh! Kau sungguh tidak sopan dalam membantu seseorang!" Martis terlihat kesal saat mengatakan itu.


"Huufft .. aku akan memintas jalan keluar, lewat lubang tembok bagian barat. Jika kudamu memutar jauh, kuyakin dia akan mati di tengah jalan," Malika kembali membuat Martis menjadi geram.


"Aarrgh! Pergilah!" Martis lalu berjalan ke arah rumahnya, untuk segera bersiap menuju hutan, demi mencari bahan-bahan yang lainnya lagi, sekaligus persediaan makanan adik-adiknya.

__ADS_1


Dengan perlahan, kuda itu pun berjalan dan sedikit berlari menuju tembok bagian barat. Malika kini sedang menungganginya dengan perasaan bosan, lantaran kudanya terlalu lambat dalam menapaki perjalanan.


-FOLLOW ME-


__ADS_2