
Mereka berdua pun saling berbagi cerita tentang keseharian mereka tadi. Kadang, mereka saling berdebat hebat, hanya karena hal-hal yang bodoh. Perlahan, seiring berjalannya waktu, percakapan pun menjadi sedikit serius.
"Hei .. Lika?" Linanzha tampak sedikit memasang wajah yang murung.
"Ya, Sentinel?" jawab Malika dengan maksud membesarkan kepala sahabatnya itu.
"Kau pikir .. aku bisa menjadi seorang Sentinel?"
"Tentu saja, Lin. Tinggal satu pendidikan lagi, kan?"
"Ya .. itulah maksudku. Aku harus berhadapan dengan para calon Sentinel yang lulus dari desa lainnya lagi. Itu akan sangat sulit."
"Apa kau mengkhawatirkan itu?" Malika menatapnya dengan bibir yang menyeringai.
"Bagaimana jika aku tidak tembus di pendidikan selanjutnya?" Linanzha memasang wajah yang sedikit manja.
"Kenapa kau harus menyerah sekarang, Lin? Jangan sia-siakan apa yang sudah kau perjuangkan saat ini, mengerti?" Malika lalu memegang kedua telinga Linanzha dan menarik-nariknya bagaikan lelucon.
"Terserah kau sajalah .." Linanzha memalingkan pandangannya ke arah lain, akibat ucapan Malika yang baginya tak menghibur sama sekali.
"Hehe .. ikutlah denganku sekarang .." Malika lalu menarik Linanzha, agar keluar dari jendelanya dengan perlahan.
"Orangtuaku belum tidur, bodoh," balas Linanzha yang sedikit menolak tarikan itu.
"Mereka tidak akan tahu. Aku ingin menunjukkanmu suatu tempat yang baru ku temui dua hari yang lalu. Ayolah .. sebentar saja .."
"Dimana?"
"Ikutlah, kau takkan menyesalinya."
Mereka berdua lalu berlari menuju tempat yang di maksud. Jalanan pedesaan sedikit sepi pada Malam itu. Perjalanan mereka jadi tak terlalu terhambat dari pengelihatan para warga.
Sesekali, mereka juga melakukan kejahilan di sepanjang perjalanan. Seperti mencuri buah-buahan, menggonggong balik seekor anjing yang berada di halaman warga, berteriak meminta tolong sembari berlari, hingga melemparkan botol yang sudah berisikan air kencing Malika, ke salah satu jendela rumah orang yang masih terbuka.
-
-
-
-
-
☆☆☆☆☆
"Sedikit lagi, Lin!" seru Malika yang sejak tadi masih memegang tangan Linanzha.
"Huh .. huh .. ini .. terlalu jauh .. dan gelap, bodoh .." keluh Linanzha yang kelelahan setengah mati.
__ADS_1
Dan pada akhirnya,
"Lihatlah, Lin .. hei .." Malika lalu menepuk pundak Linanzha yang sejak tadi hanya tertunduk lelah.
Linanzha lalu mengangkat wajahnya dan melihat hal yang dimaksud sahabatnya tadi. Ya, ia tak bisa menipu diri tentang tempat yang sedang dilihatnya sekarang.
"W-wah .. huh .. aku tidak mengira .. ada tempat seperti ini di dekat desa kita .." ungkapnya dengan masih sedikit kelelahan.
Mata Linanzha semakin membesar ketika melihat pemandangan pada malam itu. Langit pada malam itu, seperti menyatukan awan dan cahaya bintang, sehingga sinarnya dapat menggemilangkan langit, bagaikan perhiasan berwarna biru.
"Ini benar-benar indah, Lika," Linanzha lalu membaringkan diri, sambil merentangkan tangannya di rerumputan.
Malika kemudian hanya duduk sambil melipatkan kakinya di dekat Linanzha. Mereka berdua kini sempat terdiam beberapa saat, hingga Linanzhalah yang membuka percakapan.
"Kau tahu .. Lika?"
"Apa itu?" tatapan Malika masih saja terpaku pada pemandangan.
"Biasanya .. pemandangan seperti ini dinamakan sebagai pemandangan yang romantis," jelasnya sambil sedikit menyeringai ke arah Malika.
"Haha .. benarkah? Dari mana kau tahu?" Malika tak menghiraukan perkataan Linanzha.
"Dari apa yang kulihat sekarang," balas Linanzha yang masih saja melihat ke arah Malika.
Malika lalu menoleh ke arah Linanzha dan berkata, "Apa yang kau lihat?"
"Eh .. A-pa yang kau bicarakan?!" tepis Malika yang mulai memasang senyuman kaku.
"Hahahaha .. aku hanya bercanda, Lika!" Linanzha tertawa lepas setelah mengatakan itu.
Malika menjadi salah tingkah di depan Linanzha. Kejahilannya itu benar-benar membuat Malika semakin Malu.
"Aku tidak mungkin menyukaimu, Bandit!" ejek Linanzha yang lalu bangun untuk duduk.
"Ya .. tapi kadang .. jodoh itu adalah orang yang selalu bersamamu," Malika mulai menatapnya dengan serius.
"Hahaha .. lihatlah wajahmu! Kau begitu serius mengatakannya!" Linanzha semakin tak sanggup menahan tawa.
"Aku serius," Malika tetap mempertahankan tatapannya.
"Hehe .. he .. he?" wajah Linanzha perlahan kebingungan dan agak sedikit kaku.
Linanzha pun terdiam menatap Malika yang sejak tadi serius melihatnya. Keheningan kini terjadi, di mana mereka berdua seakan-akan saling menjaga kontak mata. Tetapi pada akhirnya, Linanzha kalah dalam mempertahankan tatapannya. Wajahnya kian memerah menahan malu, hingga membuatnya harus menoleh kesana-kemari.
"Hahaha!" tawa Malika yang kini membongkar keheningan tadi.
"Arrrgh!" Linanzha kesal dan meraih leher Malika untuk mencekiknya.
__ADS_1
"Ekrjh .. Lisk .. " suara Malika yang merasakan efek cekikan itu.
Candaan itu membuat Linanzha malu setengah mati. Mereka lalu bergulat bagaikan dua anak kecil yang sedang berkelahi. Saling melempar kejahilan juga tak terhindarkan di antara keduanya.
Hingga tiba-tiba,
"Tolong! tolong!" teriak salah seorang wanita paruh baya yang sedang berlari di kegelapan, menuju pedesaan.
Mereka berdua duduk di bukit yang cukup jauh dari Desa. Namun, jalur yang sedang di lalui wanita paruh baya itu, bisa terlihat dan cukup dekat dari bukit. Sontak saja, Malika dan Linanzha pun berhenti bermain dan fokus melihat wanita itu dari kejauhan.
"Lika?" Linanzha pun menunjuk ke arah wanita itu.
"Siapa dia? Apa yang terja ..a .." ucap Malika yang terhenti, lantaran melihat ada sesuatu yang mengejar wanita tersebut.
"Oh .. tidak .. Tuhan .. Lika?" Linanzha juga tak mampu berbicara jelas, ketika melihat hal yang sama.
Untuk pertama kalinya, mereka berdua melihat hal yang tak biasa. Makhluk yang mengejar wanita paruh baya itu, mempunyai bentuk yang tak lazim. Dan tentu saja, Malika dan Linanzha langsung memikirkan tentang monster.
"Kita harus menolongnya, Lika," ujar Linanzha dengan wajah yang memohon.
"Pergilah ke Desa dan minta bantuan!" balas Malika yang kemudian mulai berlari ke arah wanita tersebut.
"Tidak .. Lika .. aku ikut!" Linanzha lalu mengikuti Malika berlari.
Malika pun berhenti dan berkata, "Jika kau tidak meminta bantuan, maka aku akan mati, bodoh!"
"Sebelum bantuan datang, kau pasti sudah mati. Aku ikut!" tegas Linanzha yang keras kepala.
"Aarrgh!" Malika pun kembali berlari secepat mungkin.
Mereka berdua kini sedang tengah berlari menuju wanita paruh baya itu. Jalan tikus yang di lalui mereka, cukup menghemat waktu agar sampai dengan lebih cepat.
"Tolong .. tolong .." teriakan wanita itu semakin lemah akibat kelelahan.
Ketika Makhluk tersebut sudah semakin dekat, "WOOOOSSH!" Linanzha pun membakar separuh jalan menggunakan kekuatannya, agar jalur yang di lalui makhluk tadi menjadi terhalangi. Ya, elemen yang di kuasai Linanzha, adalah api.
Hal itu juga membuat wanita paruh baya tadi menjadi kaget, atas kedatangan mereka berdua yang tiba-tiba saja dari arah samping.
"Pergilah! Kami akan menahannya!" ucap Linanzha yang sembari berlari ke tengah jalan, untuk menghalangi makhluk tersebut.
"A-ku .. aku akan memanggil bantuan .." balas wanita itu yang kemudian memaksakan diri untuk tetap berlari.
Pemandangan itu, sungguh membuat Malika dan Linanzha berkeringat. Mereka belum pernah melihat rupa seperti makhluk tersebut, selama hidup mereka.
"Apa yang harus kita lakukan, Lin?" tanya Malika yang sejak tadi sudah memegang sebatang kayu.
"Tahan makhluk itu sampai Bibi yang tadi sudah sangat jauh!" tegas Linanzha yang juga sudah bersiap untuk mengeluarkan elemen apinya kapan saja.
__ADS_1
-FOLLOW ME-