KEKUATAN ALAM

KEKUATAN ALAM
Gazzel Dan Malika.


__ADS_3

Semua mata warga kini tertuju kepada mereka berdua. Linanzha bahkan menjadi patung dalam keadaan tergendong. Malika lalu menurunkannya secara perlahan.


"G-uru?" tegur Linanzha yang sedikit terbata-bata.


"Linanzha, kah?" Valun menyipitkan matanya untuk memastikan.


"Ya, tidak salah lagi, Tuan .." bisik salah satu Guru wanita yang bernama Gazzel di telinga Valun.


Terlihat jelas juga bahwa para warga yang berkerumun itu, berjumlah lebih dari 80 orang. Mereka juga membawa obor, garpu rumput, parang dan alat tajam lainnya.


"Dimana monster itu, nak?!" sahut salah satu warga yang berada di dalam kerumunan.


Mendengar itu, Linanzha dan Malika pun ingin segera memandu mereka ke tempat kejadian. Akan tetapi, siapa yang menyangka, jika ada salah seorang warga, yang tiba-tiba saja berlari menuju mereka berdua untuk menyerang Malika.


"BUK!"


"Ouuuh!" rintihan Malika saat terkena pukulan di wajahnya.


Malika lalu tersungkur jatuh ke tanah dengan keras. Sedangkan Linanzha, ia menjadi kaget setengah mati melihat sosok itu. Ya, sosok itu adalah Ayahnya yang sejak tadi, berada di dalam kerumunan warga.


"A-yah .. hentikan!" tegas Linanzha yang berusaha mendorong Ayahnya.


"Apa yang kau inginkan dari putriku, bajingan kecil?!" bentak sang Ayah dengan murka.


"Tidak .. Ayah .. dengarkan dulu!" Linanzha mencoba menahan Ayahnya yang sejak tadi masih melawan.


"Arrgh!" sang Ayah lalu mendorong Linanzha dan berjalan cepat ke arah Malika, "Kau! Berani-beraninya kau membawanya ke dalam bahaya! Terkutuk kau!" lanjutnya yang kemudian menendang Malika berulang kali.


"Hentikan, Ayah! Aku yang mengajaknya! Aku!" tepis Linanzha yang sekuat tenaga menarik-narik Ayahnya itu.


"Arrrgghh!" sang Ayah tak mau kalah dan tetap ingin menyakiti Malika.


Di saat sang Ayah ingin kembali menendang, Gazzel pun mendorongnya dan berkata, "Cukup, Pak! Anda terlalu berlebihan!"


Sang Ayah tak terima dan membalas, "Dia membawa anakku ke dalam masalah seperti ini! Apa kau tidak menge .." perkataannya pun di potong oleh Valun.


"Kau cukup diam dan tenanglah, Pak. Biarkanlah kami yang mengurus masalah ini."


Mulut Malika kini sedikit mengeluarkan darah. Ia lalu bangun dengan perlahan tanpa berkata. Bagi Malika, hal itu adalah sebuah resiko yang harus di tanggungnya nanti, jika suatu saat kedapatan membawa Linanzha bepergian.


Sedangkan sang Ayah sekarang hanya terlihat memasang wajah geram kepada Malika. Ia lalu memegang tangan Linanzha agar menariknya pulang. Wajah Linanzha hanya terlihat pasrah ketika mengikuti tarikan itu. Mereka berdua pun semakin jauh meninggalkan semuanya.


"Tidak seharusnya kalian bermesraan di luar desa, anak muda." ujar Valun yang tiba-tiba kepada Malika.


Malika hanya terdiam dan mengusap darah dari mulutnya secara perlahan. Ia lalu menelan ludah dan berusaha tegar menatap Valun.


Valun pun kembali berkata, "Bisakah kau menjelaskan apa yang terjadi?"


"Ikuti aku, kek. Lin sudah membunuhnya." Malika hanya sedikit tersenyum dan mulai memimpin perjalanan.


"Begitu, kah?" balas Valun yang sedikit terkejut.


☆☆☆☆☆


Sebelas menit kemudian, lebih tepatnya di rumah Linanzha, pertengkaran di antara anak dan Ayah masih terus berlanjut. Sang Ibu bahkan tidak tahu ingin memihak yang mana. Ia hanya terjebak di antara keduanya yang saling melempar kemarahan.


"Apa kau ingin masa depanmu kacau seperti anak itu, hah?" mata sang Ayah menatap tajam ke arah Linanzha tanpa berkedip.


"Terus saja berkata begitu, Ayah! Nyatanya, selama ini aku bisa lulus menjadi murid terbaik tanpa ada kendala! Bagaimana mungkin dia membawa pengaruh buruk?!" bantah Linanzha yang sesekali menendang sebuah kursi.


"Li-nanzha .. henti .." ucap sang Ibu yang terpotong oleh perkataan suaminya itu.


"Itu semua karena kamilah yang sudah menjagamu selama ini! Jika saja kami membiarkanmu berteman dengannya, kau mungkin sudah tak bisa bertahan sampai sekarang ini, mengerti?!"

__ADS_1


Linanzha ingin sekali mengatakan, bahwa ia selalu bepergian malam bersama Malika lewat jendela. Hanya saja, ia tidak ingin membongkar jalan rahasianya itu. Ia lalu membalas kembali perkataan sang Ayah.


"Tapi, Ayah tidak harus memukulinya seperti itu juga! Apa Ayah tidak tahu kalau Malika tidak punya orangtua, hah?!"


"Aku tidak peduli dengan kehidupan anak itu! Sekalinya berandalan, tetap berandalan! Sekarang, masuklah ke kamarmu!" perintah sang Ayah dengan emosi yang masih saja meluap-luap.


"Mungkin, masa kecilmu kurang bahagia .. sehingga melihat orang saling berteman saja kau tidak bisa .." balas Linanzha, sembari berjalan ke arah kamarnya begitu saja.


"Kau .. berani-beraninya kau mengatakan itu kepada Ayah!" sang Ayah semakin murka


Ketika sang Ayah ingin mengejar Linanzha, sang Ibu pun menahannya dan berkata, "Sudahlah .. sayang .. biarkan saja dia sendirian dulu."


"Aku tidak percaya bahwa putri kita bisa ada di luar Desa, bersama berandalan kecil itu. Apa yang sebenarnya dia pikirkan?" sang Ayah hanya menggelengkan kepalanya, sembari menepuk dahinya sendiri.


"Mungkin, besok dia bisa menjelaskan semua dan kembali meminta maaf sayangku. Jangan terlalu keras padanya. Dia baru saja menjadi salah satu dari lima murid terbaik, kau tahu?" sang Ibu lalu membelai rambut suaminya itu.


"Maafkan aku, sayangku. Mungkin .. aku agak kelewatan .." sang Ayah perlahan menjadi tenang, akibat belaian tadi.


Sang Ibu lalu memeluknya dengan mesra. Hati sang Ayah sedikit damai merasakan pelukannya. Situasi keluarga mereka menjadi kembali seperti sedia kala. Tiba-tiba, sang Ayah pun berkata,


"Aku akan pergi keluar Desa untuk melihat apa yang terjadi."


"Huuft .. kembalilah sebelum larut malam, oke?"


"Baiklah sayangku," Ayah lalu mengecup keningnya dan pergi sesegera mungkin.


Sedangkan Linanzha, ia kini hanya terbaring di ranjangnya, serta menggenggam hadiah yang di berikan Malika tadi. Hadiah itu berupa sebuah boneka dari bahan dasar jerami, yang terlihat menyeramkan.


Linanzha hanya menyeringai, akibat kegelian menahan tawa saat melihat boneka itu. Ia hanya bingung, mengapa Malika bisa memberikan sebuah hadiah yang terlihat aneh.


☆☆☆☆☆


Sementara itu di pintu gerbang masuk utama Desa, para warga sudah kembali dengan menggotong makhluk tersebut, menggunakan sebatang kayu yang berukuran panjang. Mayat makhluk itu terikat erat layaknya masih hidup. Sebagian warga yang sejak tadi menunggu di dalam Desa pun mulai heboh.


"Monster! Mereka membawa monster!" teriak salah seorang warga diantara warga lainnya.


"Yang benar saja!" seru warga lainnya.


"Ayo, lihat lebih dekat lagi!" seru warga lainnya lagi.


Mereka lalu memutuskan untuk menanam kayu itu di pusat Desa, untuk memperlihatkan tontonan tersebut. Kini, Berkerumunlah seluruh warga melingkari tiang yang mengikat makhluk itu. Ketakutan, kewaspadaan dan opini-opini para warga mulai saling bersahutan satu sama lain. Valun yang sejak tadi juga masih berada di dalam kerumunan, kini keluar untuk menenangkan para warga.


"Harap tenang, semuanya! Aku tahu ini adalah sebuah ketakutan tersendiri bagi kita! Namun, lihatlah makhluk ini! Ia mati karena dibunuh oleh salah satu murid terbaik di Desa! Tidak perlu ada yang di takutkan lagi! Anak-anak kita cukup tangguh untuk melindungi Desa ini! Kami para Guru, beserta murid-murid lainnya, akan melindungi Desa Avalon sekuat tenaga!"


Akan tetapi, Ada salah seorang warga yang tiba-tiba saja melemparkan sebuah pertanyaan.


"Bagaimana dengan mitos tentang portal yang bisa terbuka dimana saja?! Jika portal-portal itu terbuka langsung di dalam rumah kami, apa yang harus di lakukan?!"


"Aku akan mengetahuinya .. dan akan sampai lebih dulu sebelum portal itu terbuka! Percayalah padaku!" balas Valun dengan nada yang cukup meyakinkan.


Mau tak mau, para warga hanya bisa mempercayai Valun yang memang sudah di pandang, sebagai Guru paling sakti di Desa Avalon. Keadaan yang sebelumnya agak ricuh, kini kembali menjadi kondusif.


"Pulanglah dan jangan ada yang berkeliaran lagi! Percayalah pada kami!" tegas Valun sekali lagi.


Perlahan, para warga mulai berhamburan untuk menuju ke rumah mereka masing-masing. Namun, tidak dengan Malika. Ia masih berdiri menatap makhluk itu, bersama beberapa Guru lainnya.


"Hei, nak .. pulanglah. Apa lagi yang kau tunggu?" tanya Gazzel yang sedikit tersenyum.


"A-apakah .. makhluk itu .. lebih dari satu?" mata Malika masih saja menatap makhluk tersebut.


"Hmm .. kau pasti sudah tahu jawabannya," balas Gazzel dengan singkat.


Ba-bagaimana tentang portal yang di sebutkan mereka tadi?" tanya Malika kembali.

__ADS_1


Gazzel hanya terdiam dan mengalihkan tatapannya ke arah Valun. Sedangkan Valun yang sejak tadi juga mendengar pertanyaan Malika, kini sedikit melangkah maju dan berkata,


"Jika portal itu sudah terbuka, barulah aku bisa merasakannya."


"A-apa?! Tapi .. kek .. kau tadi mengatakan bahwa sebelum terbuka dulu, kan?!" Malika sedikit kasar saat mengatakan hal itu.


"Hei? Sopanlah kepada orangtua, anak kecil!" tegas Gazzel.


"Aku terpaksa mengatakan itu, agar warga tidak semakin ricuh. Tapi, tenanglah. Kami akan bergerak lebih cepat, sebelum monster itu bergerak lebih jauh. Sekarang, pulanglah, nak. Besok kau harus bertemu denganku di sekolah."


Malika hanya mengerutkan alis dan membalas, "Untuk apa aku bertemu denganmu lagi, kek?"


"Kau terlalu banyak bertanya, anak kecil! Pulanglah! Apa orangtuamu tidak mengkhawatirkanmu, hah!" sambung Gazzel yang sedikit kesal, sembari menjitak keras kepala Malika.


"Iiiii .. itu sangat sakit .. Kau terlalu berlebihan, Bibi!"


"Bibi, katamu?! Aku masih berusia 28 tahun dan kau memanggilku Bibi?"


"Haha .. pulanglah anak muda. Besok, aku ingin kau datang ke tempatku. Gazzel akan menjemputmu," ucap Valun dengan mulai memperlihatkan senyumannya.


"Eh? Kenapa .. harus aku, Tuan? Aku bahkan tidak tahu dengan rumah anak ini?"


"Antarlah anak ini pulang, Gazzel. Dengan begitu, kau bisa tahu dimana rumahnya," Valun lalu berjalan pulang bersama Guru lainnya.


"Huuft .. baiklah, Tuan .." lirih Gazzel yang pasrah mengikuti perintah sang Guru besar, "Ayo, cepatlah!" lanjutnya yang menampar pelan kepala Malika.


Gazzel pun menemani Malika untuk pulang. Di sepanjang perjalan itu, mereka berdua tak saling berbicang satu sama lain. Semakin lama, jalan yang di lalui mereka semakin jauh dari pemukiman warga. Kegelapan juga mulai menyelimuti pengelihatan mereka berdua. Karena penasaran, Gazzel pun memulai percakapan.


"Sebenarnya, dimana rumahmu?" tanya Gazzel.


"Sedikit lagi, Bi," jawab Malika dengan singkat.


"Sekali lagi kau berkata Bibi, akan ku hajar kau."


Perlahan, terlihatlah sebuah rumah yang begitu gelap dan kumuh, di antara pepohonan yang lebat. Rumah itu sungguh terlihat menyeramkan layaknya sarang para hantu. Malika kemudian menghentikan langkahnya tepat di halaman rumah tersebut.


"Terima kasih, Bi," ucap Malika yang sedikit menguap karena kelelahan.


"Kau .. tinggal disini?" Gazzel terheran-heran menatap rumah Malika.


"Memangnya kenapa, Bi?"


"Dimana orangtuamu?"


"Orangtuaku sudah meninggal, Bi."


"Huffft .. sudah ku bilang, jangan memanggilku dengan sebutan itu!" Gazzel kembali menjitak kepala Malika dengan keras.


"Aarrgh! Lantas, aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?" Malika mengusap-ngusap kepalanya sendiri karena kesakitan.


Dengan senyuman yang manis, Gazzel pun berkata, "Panggil aku kakak, mengerti?"


"Hahaha .. kau bahkan sudah hampir berumur 30 ta .. aarrggh!" ucap Malika yang terpotong dan kembali merasakan kesakitan, akibat di tendang oleh Gazzel sekuat mungkin.


"Itu tidak lucu, anak kecil! Pulanglah!"


Malika pun berlari ketakuan sembari berkata, "Iiii .. maafkan aku!"


Di saat Malika sudah masuk, Gazzel belum juga beranjak pergi dari halaman rumahnya. Ia sedikit merasa iba dengan Malika yang tinggal di rumah kumuh itu seorang diri. Perlahan-lahan, Gazzel pun kembali untuk pulang.


Akan tetapi, belum juga ada lima langkah dari rumah Malika, ia seperti melihat pergerakan seseorang yang sedang menuju kerumah Malika. Dengan cepat, Gazzel pun segera bersembunyi di balik pepohonan, sambil sedikit mengeluarkan kepalanya untuk mengintip.


Semakin lama, rupa orang itu semakin terlihat jelas memakai jubah hitam, yang menutupi sekujur tubuhnya. Orang itu juga terlihat seperti sedang membawa sebilah pedang panjang.

__ADS_1


"Apa yang dilakukannya?" batin Gazzel yang bertanya-tanya.


__ADS_2