
Ketika Gazzel mengendalikan kedua tembok agar terpisah, terlihatlah tubuh bagian atas si Pengerat yang sudah gepeng dan tertempel di tembok bagian kiri. Sedangan tubuh bagian bawahnya tertempel di tembok bagian kanan.
Isi perut, serpihan otak dan sedikit tulang-tulang yang terlihat remuk, membuat si Pengerat terlihat tewas secara mengenaskan.
"Hii! Itu mengerikan!" teriak Malika yang tak sanggup melihat dari kejauhan sana.
"Dia pantas mendapatkannya!" balas Gazzel yang geram, sembari menatap para keroco yang tersisa.
Para keroco langsung berlari ketakutan, tanpa lagi memedulikan satu sama lain. Namun sayang, satu persatu dari mereka, mulai merasakan serangan bongkahan yang sebesar ban mobil dari kejauhan.
"Uhurgh!"
"Eaarghk!"
"Tidak! Heeerk!"
Bongkahan-bongkahan milik Gazzel itu, menghantam kepala mereka semua secara akurat. Dan pada akhirnya, tak ada salah satu dari mereka yang berhasil melarikan diri. Ada yang langsung mati, ada juga yang hanya sekedar pingsan.
Bagi mereka yang pingsan, para warga langsung menangkap dan membawa mereka ke pusat Desa. Bahkan, salah satu keroco yang sejak tadi masih pingsan di rumah Gazzel, juga berhasil di amankan.
-
-
-
☆☆☆☆☆
Ketika waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, Desa Avalon kembali berduka di tanah pemakaman. Ada dua puluh enam warga yang di makamkan saat itu juga. Gazzel yang mengikuti pemakanan, kini hanya memasang wajah sedih dan marah secara bersamaan.
Sejak tadi, Malika juga sedang berdiri di sebelah Gazzel. Ia hanya menundukkan kepala, sembari berpikir tentang masa depan. Ia tahu, kalau serangan para penjarah tadi, tidaklah seberapa, jika di bandingkan dengan masa yang akan datang.
"Kalau memang akan terjadi, aku harus berjuang dari sekarang .. tapi, apa selanjutnya .."
__ADS_1
-
-
-
☆☆☆☆☆
Satu jam kemudian, di pusat Desa Avalon, terlihatlah beberapa penjarah yang terikat di masing-masing tiang. Mereka sudah di bakar hidup-hidup oleh para warga. Bagi yang sudah mati, mereka juga ikut di bakar saat itu juga.
Gazzel hanya memasang wajah yang puas dalam mendengarkan jeritan-jeritan histeris mereka. Sedangkan Malika, ia sedang mengambil kesempatan di dalam kesempitan. Ya, ia memanen isi kantong para warga yang sejak tadi hanya menonton, tanpa menghiraukan apapun di sekitar mereka.
Malika lalu pergi meninggalkan pusat Desa, untuk mencari kedai makanan di sepanjang perjalanannya. Di sela-sela itu juga, ia jadi teringat dengan kedua adik Martis.
"Apa mereka baik-baik saja?"
-
-
-
☆☆☆☆☆
-
-
-
☆☆☆☆☆
Kini, waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Malika sekarang sedang berlatih sendiri di ladang bunga matahari. Ia mulai mengambil secarik kertas di dalam sakunya dan melihat kembali apa yang sudah ia tulis waktu itu.
__ADS_1
"Fokus .. fokus .." batinnya yang kemudian mulai berteriak, "Tentacle!"
Seketika, ada empat ekor hitam berasap yang tumbuh secara perlahan, di bagian tubuh yang dekat dengan bokongnya. Ia benar-benar terkejut. Empat ekor hitam pekat yang panjang, dengan asap hitam yang melambai-lambai, itulah yang terlihat saat ini.
"Apa kegunaanya? Tidak mungkin hanya menjadi sebuah hiasan saja, kan? Ayo, serang!"
Tak terjadi apa-apa. Ekor-ekor itu hanya melambai-lambai bagaikan tertiup angin. Malika hanya menggaruk-garuk kepala menanggapi itu.
"Serang! Ayo serang deretan bunga itu!"
Malika semakin malas dengan apa yang terjadi. Keempat ekor itu tidak mengikuti perintahnya sama sekali. Ia lalu menemukan sebuah ide. Pikirannya mulai berfokus dan kemudian berteriak "Clone!"
"PUW! PUW! PUW!"
"Serang mereka!" teriaknya sembari menunjuk ke arah tiga bayangannya.
Ketiga bayangan kaget dan mulai berlarian kesana-kemari. Mereka seperti takut menjadi samsak hidup oleh Tuannya sendiri. Ada yang mulai menyembah Malika untuk meminta ampun, ada juga yang saling mencekik satu sama lain.
Dua ekor mulai sedikit bergerak ke depan, mengikuti arah tangan Malika yang menunjuk ke para bayangan. Malika sedikit kebingungan dan mulai memainkan tangannya yang satu lagi. Seketika, dua ekor yang tersisa mulai mengikuti gerakan tersebut.
Malika mulai mengerti kini. Ia lalu mencoba memukul ke arah depan. Hal itu langsung merangsang dua ekornya, untuk menghantam salah satu bayangan yang sedang bersujud.
"Sangat mudah .." gumamnya yang tersenyum dan mulai menyerang bayangan lainnya.
Malika memainkan tangannya dengan baik. Keempat ekornya memanjang dan menghajar bayangannya sendiri. Ketika semua bayangannya menghilang, ia kembali memanggil mereka, untuk melatih kemampuan barunya.
Di sepanjang siang yang panas itu, ia semakin lihai memainkan keempat ekornya. Ia bahkan bisa menangkap para bayangan yang berusaha melarikan diri, dengan cara melilit mereka, bagaikan seekor ular.
"Haha! Hahaha! Ini hebat! Yah! Yah .. Aku si .. ap .." ucapnya yang semakin melirih, akibat merasakan lelah yang berlebihan.
Matanya perlahan menjadi buram. Ia mulai mengambil posisi duduk dan membatin, "Apa yang terjadi? Kenapa aku sangat lelah? Apa .. karena .."
Malika lalu terbaring dan tertidur saat itu juga. Ia mungkin terlalu memaksakan diri dalam mengeluarkan bayangannya secara terus menerus sejak tadi.
__ADS_1
-FOLLOW ME-