
Pukulan itu, sungguh membuat si monster merasakannya hingga ke tulang-tulang. Rahangnya yang kokoh, seketika terlihat menjadi elastis, disaat bertabrakan dengan pukulan Malika tadi.
"Kurang aj .. arrgh .. urrggh .. uhurgh .." ucap si monster yang terhenti, lantaran kembali merasakan pukulan beruntun dari Malika.
"Fokus! Fokus!" kata Malika yang sembari memukul ke arah wajah monster, "BUK! BUAK! BUK BUK BUAK!"
Si monster tak dapat bergerak lebih jauh lagi, akibat lengannya yang masih di tahan oleh keempat bayangan tadi dari kejauhan. Bayangan-bayangan itu memeluk lengan si monster, layaknya sebuah guling.
Namun, tanpa disangka-sangka, si monster tiba-tiba saja memutuskan kedua lengannya, bagaikan seekor cicak yang memutuskan ekornya di saat-saat genting.
Kaget melihat hal itu, Malika langsung ingin memukulnya untuk terakhir kali. Akan tetapi, si monster langsung menghindar dan melompat ke cagang-cagang pepohonan.
Si monster yang kini berada di atas pohon pun berkata dengan lantang, "Siapa kau?! Kekuatan konyol macam apa itu?!" dengan nada yang geram, sembari membetulkan rahangnya yang telah patah, "CRAACK!"
Malika hanya membatin, "Aku tidak percaya ini .. Pukulanku sungguh mengaggumkan .." sambil melihat kedua tangannya yang dilingkari asap-asap hitam. Perlahan, asap-asap itu mulai menghilang dari tangannya.
Tak hanya itu, keempat bayangan juga mulai berjalan dan berdiri di depan Malika. Mereka seperti tengah bersiap untuk memulai serangan baru.
Malika yang melihat bayangan-bayangan itu di depannya, langsung melipat kedua tangan bagaikan seorang bos dan berkata, "Hahaha! Majulah!" dengan nada yang sombong.
"Ja .. ngan sombong kau!" tegas si monster sembari meregenerasi kedua tangannya kembali.
Ya, tangan si monster kembali tumbuh, hanya dalam waktu empat detik saja. Begitu menjijikkan, disaat regenerasi itu di tonton oleh Malika secara langsung.
Si monster kemudian melompat ke tanah dan mulai mencakar udara, demi menciptakan jurus yang mirip seperti membelah wanita tadi.
__ADS_1
"Aarrggh!" teriak si monster, sembari mencakar udara dengan kedua tangannya secara bergantian, "SLINNK! SLINNK!"
Ya, dua cakaran raksasa kini melesat menuju Malika. Dengan sigap, Malika dan bayangan-bayangannya menghindar dengan cara yang hebat.
Malika mungkin tidak sadar dengan peformanya yang sekarang. Adrenalinnya kini menutupi semua ketakutannya. Kecepatannya pun, lebih baik dari yang sebelumnya.
Si monster bahkan tak dapat mengarahkan serangannya dengan benar ke arah Malika, lantaran tak mampu melihat kecepatan Malika dalam berlari.
Sebenarnya, kecepatan Malika biasa-biasa saja dalam berlari. Namun, akibat teleportasinya yang singkat, hal itu membuat Malika kadang berpindah-pindah tempat pada jarak dekat, dalam keadaan berlari.
Bagaikan roket yang sedang mengunci target, kedua telapak tangan si monster yang bercakar tajam, terus-menerus menumbangkan pohon-pohon yang di lalui Malika. Terlalu ekstrem. Malika bahkan berlari tanpa menoleh, karena takut tertimpa pepohonan yang berjatuhan.
Si monster terlalu fokus menyerang Malika. Ia baru saja sadar, kalau dua bayangan kini sedang berlari ke arahnya, dari arah kiri. sedangkan yang dua lagi, dari arah kanan. Si monster yang melihat itu, langsung mengibas-ngibaskan tangannya kepada mereka yang semakin dekat.
Bagaikan kelompok geng yang ingin menghajar seseorang, bayangan-bayangan itu menghindari serangan-serangan tangan panjang yang dilancarkan si monster, dengan cara berguling dan melompat, tanpa memperlambat kecepatan.
Tiga bayangan yang tersisa, langsung menghajar si monster, menggunakan pukulan dan tendangan kampung. Serangan mereka begitu amatir. Namun, jangan di tanyai soal kekuatannya.
"BUK! BUAK BUK! BUK BUAK!"
"Urgh .. arrgh .. eerrgh .." rintihan si monster yang dihajar borong oleh ketiga bayangan tadi.
Tak dapat terhindarkan, serangan bertubi-tubi dari ketiga bayangan, sungguh membuat si monster dihajar habis-habisan.
Malika pun berteriak "Tahan dia!" sambil berlari ke arah si monster.
__ADS_1
Dalam sekejab, para bayangan langsung memukul dan menendang kaki si monster, hingga membuat si monster menekuk kedua lututnya di tanah.
Si monster kini meronta-ronta. Ia berusaha ingin berdiri, namun ketiga beban bayangan cukup membuatnya kewalahan.
"Arrgh! Lepaskan! Le .. paskan!" teriak si monster.
Malika yang masih berlari ke arah si monster, kini sedang membatin, "Fokus .. Fokus .. Fokus .." sembari mengepalkan satu tangannya, lalu meneriakkan kata yang sembarangan, "Arrrgh! B-lack .. Ball!" dengan terbata-bata.
Ya, ia meniru nama jurus Linanzha. Namun, bukannya menciptakan wujud bola di telapak tangan, lengannya malah memanjang dan terseret di tanah.
"Hi! Hii?!" Malika yang terkejut, lantaran melihat lengannya yang panjang dan berwarna hitam pekat.
Ia lalu berhenti berlari dan mencoba untuk mengontrol lengannya. Seketika, lengannya menjadi pendek kembali dengan cepat.
Ia pun membatin, "Bagaimana bisa?" sambil melihat lengannya itu dengan kebingungan.
Si monster yang masih tertahan, kini hanya mampu meronta-ronta dan berteriak, "Lepaskan! Le .. paskan aku!"
Mendengar itu, Malika langsung mengepalkan tangannya dan berteriak, "Fokus! Hya!" dan kemudian membuang pukulannya ke arah si monster dari kejauhan.
Dan tentu saja, tangannya langsung memanjang bagaikan kepunyaan si monster tadi. Hanya saja, kepalan tangannya semakin membesar, di saat masih melesat kencang di udara. Dan pada akhirnya ..
"BURRRRM!"
Bagaikan di tabrak oleh mini bus yang melaju dengan kecepatan tinggi, kepalan tangan Malika yang semakin membesar itu pun, menghantam keras wajah dan tubuh si monster, beserta dengan bayangan-bayangannya sendiri.
__ADS_1
-FOLLOW ME-