KEKUATAN ALAM

KEKUATAN ALAM
Drain Soul.


__ADS_3

Ketika mereka berdua sampai di rumah, Malika lalu meminta secarik kertas dan pensil kepada Gazzel. Ia lalu menulis tentang apa saja yang diingatnya, termasuk nama-nama aneh yang di anggapnya adalah suatu jurus.


"Gahardian .. Eh .. Tentacle, Silent Moon, Drain Soul .. hmm .. Clone, Twin Fist .." gumamnya sembari menulis di atas kertas.


"Apa yang kau tulis?" tanya Gazzel yang tiba-tiba.


"Aku hanya menulis tentang apa saja yang harus ku ingat," balasnya yang spontan.


"Ingatlah. Tinggal tiga hari lagi, maka kau akan belajar ke tahap selanjutnya. Istirahatlah," Gazzel lalu melangkah ke kamar mandi.


Setelah sekian lama menulis semuanya, ia pun segera tidur. Di sela-sela matanya yang terpejam, ada rasa penasaran yang tinggi akan Kitab Kegelapan.


"Kitab kegelapan? .. Apa kitab itu ada? Bukankah, elemen kegelapan belum pernah .. aa .. aa .."


Malika langsung terbangun dengan posisi duduk, sembari memasang wajah yang seakan tak percaya. Ya, ia mulai menebak dan sedikit beranggapan, kalau sosok wanita tersebut, mungkin adalah pewaris pertama dari elemen kegelapan.


"Ya .. siapa lagi yang akan memegang kitab kegelapan, kalau bukan dari pewarisnya sendiri .. apa aku baru saja bertemu dengan seorang legenda .. sial .. ini harus segera di bicarakan .. aku harus bertemu roh kegelapan .. dia sekarang pasti sedang membaca pikiranku .. ku mohon .."


-


-


-


-


☆☆☆☆☆


Tiga hari telah berlalu. Tanda-tanda dari sang Kegelapan pun belum juga ada. Kini, lebih tepatnya jam delapan pagi, Malika sedang memulai latihan ke tahap selanjutnya.


"Aku mau kau berlari mengelilingi Desa sebanyak 50 kali sehari, selama satu minggu," ucap Gazzel.


"Baiklah," balas singkatnya yang sedikit menguap menahan kantuk.


Ketika Malika ingin berlari, Gazzel pun menghentikannya dan memberikan sebuah beban, berupa tas yang diisi 20 kilogram batu.


"Hah?!" Malika mengerutkan alisnya.


"Cepatlah," balas Gazzel yang kemudian mulai melanjutkan latihannya sendiri.


Malika mulai berlari membawa beban itu, sembari berkeliling di luar tembok Desa. Ia terus berjuang dan tak akan menyerah dengan keadaan. Panas, hujan, hingga di tuduh orang gila yang mencuri batu, membuatnya tetap tegar untuk terus berlari.


"Aku bisa .. aku pasti bisa .." batinnya, sembari berusaha berlari dengan lidah yang menjulur panjang.


-


-


-


-

__ADS_1


-


☆☆☆☆☆


Satu minggu telah berlalu. Malika kemudian belajar memukul pasir dalam kuali panas. Ia memang masih tak tahan dalam menahan sakit. Namun, semakin lama, ia semakin terbiasa.


Gazzel sedikit takjub melihat Malika yang selama ini konsisten selama latihan. Malika mungkin sudah terlambat untuk masuk ke Akademi. Namun bagi Gazzel, tidak semua orang hebat, berasal dari pendidikan yang tinggi.


-


-


-


-


-


☆☆☆☆☆


Waktu kini menunjukkan pukul empat sore. Setelah enam bulan berlalu, Malika sudah melakukan berbagai macam latihan, yang membuatnya terlihat cukup matang di mata Gazzel.


Mulai dari menahan nafas di dalam air selama sepuluh menit, bertarung dengan gorila dan beruang tanpa kekuatan elemen, mendorong batu besar di tanjakan, hingga memberanikan diri untuk bersemedi di gua sarang hantu.


Malika yang dulunya hanya seorang anak berandal kerempeng, kini sedikit kekar di bagian lengan, dada, perut dan betisnya. Benar-benar perubahan yang cukup baik.


"Ahh .. lihatlah dirimu, Malika .. betapa tampannya dirimu," gumamnya yang tak memakai baju, sembari bercermin dirumah Gazzel.


"Aahh .. ada yang iri rupanya .." Malika masih saja menatap bangga dirinya di cermin.


"Sudah kubilang padamu, bahwa kau hanya boleh tinggal selama tiga puluh hari saja kan? Kenapa sampai enam bulan, hah?"


"Siapakah yang telah menghancurkan rumahku?" Malika mengejek halus keluhan Gazzel.


"Hah?" Gazzel menatapnya seperti orang yang haus akan perkelahian.


"Aku hanya bercanda, Guru. Guru Gazzel .. Guru Gazzel .." pujanya yang tiba-tiba saja sudah bersujud menyembah-nyembah Gazzel.


-


-


-


-


-


☆☆☆☆☆


Keesokan harinya, pada jam dua belas siang, Gazzel dan Malika berada di hutan yang tidak jauh dari Desa. Kini, tibalah saatnya Malika untuk mengalirkan energi Plexusnya ke sekujur tubuh.

__ADS_1


"Hancurkan pohon itu dengan sekali pukulan, Malika," perintah Gazzel yang hanya melipat kedua tangan.


"Baiklah!" balas Malika yang terlihat bersemangat.


Malika mulai berfokus pada pohon itu. Kedua kakinya terlihat menapak dengan kuat di permukaan tanah. Matanya juga menatap tajam bagaikan elang yang memperhatikan mangsa. Seketika, ia merasakan hangat di sekujur tubuh. Ya, aliran Plexus kini mulai mengalir.


"Eeeaarrgh!" teriaknya yang kemudian membuang pukulan ke arah pohon dan ..


"BURM!"


Pukulannya yang sama sekali tidak menggunakan kekuatan elemen, kini berhasil sedikit menghancurkan pohon tersebut, tanpa balik memberikan luka fisik.


"Berhasil .." gumam batinnya.


"Lumayan. Sekarang, gabungkan Plexus dan elemenmu. Aku mau kau memukul pohon yang di sana itu, menggunakan tangan raksasamu. Fokus!" tegas Gazzel.


Malika kembali berfokus. Ia sekarang punya tingkat konsentrasi yang lebih baik ketimbang masa lalunya. Ketika matanya terpejam, ia seperti merasakan, bahwa ada benang merah dan putih yang saling melingkar-lingkar menjadi satu. Seketika, ia pun berteriak,


"Drain soul!" sembari memukul ke arah pohon yang di maksud Gazzel tadi.


Ya, Bukannya Black Ball, ia malah mengucapkan Drain Soul untuk mencoba-coba. Seketika, tangannya yang sejak tadi masih mengepal, langsung terbuka secara paksa menunjukkan telapak tangan.


"Hi?!" kagetnya yang merasa kalau kepalan tangannya terbuka sendiri.


Dalam sekejab, telapak tangannya langsung mengeluarkan gaya tarik gravitasi yang sangat kuat. Pohon itu tercabut dari tanah dan tertarik ke arahnya dengan kecepatan tinggi.


Untungnya, Malika berkocar kacir untuk menghindari pohon tersebut. Gazzel yang sejak tadi hanya melipat kedua tangan, juga ikut menghindar bagaikan orang yang melihat hantu.


"Ke .. ke .. keren .. uhurrgh .." gumam Malika yang terpotong, akibat di tendang oleh Gazzel.


"Kau ingin membunuhku, hah?!" Gazzel masih saja menendang-nendangnya dengan wajah kesal.


-FOLLOW ME-


Catatan : Bagi yang mau liat visual wajah baru mereka semua, silakan check chap2 sebelumnya hahaha ..


ya maap baru sadar kalau yang lama itu jelek, hiks ..


Makasih yah, karena udah ngikutin cerita tidak terkenal ini sampai sekarang hehe ..


emang sih gw lamban upnya ..


tapi, itu bukan karena malas, melainkan gw harus bongkar pasang kata-kata yang pas ..


soal jalan cerita, jujur gw gk akan buntu ..


hanya saja, pemilihan kata dan cara naruh tanda baca yang benar itulah yang bikin gw harus ngutak-atik bait per bait ampe kelamaan ..


kadang sibuk juga sih di real life ..


makasih banget buat kalian yang selalu setia baca ni cerita ya teman-teman >< ❤

__ADS_1


makasih makasih makasih makasih makasih ><


__ADS_2