KEKUATAN ALAM

KEKUATAN ALAM
Benar-Benar Terkejut.


__ADS_3

Namun, semakin lama, sang Ibu semakin merasakan kalau ada yang membuntutinya. Tebakan nalurinya memang benar.


Sang Ibu yang berada di atap-atap perumahan, langsung melompat turun, sembari melancarkan serangan angin ke arah murid itu.


Hampir saja. Murid itu menghindar dengan cepat dan berhenti tepat di depan sang Ibu. Seketika, sang Ibu pun menghunuskan pedangnya secepat kilat ke leher murid itu dan berkata,


"H-artzel? Apa kau sudah gila? Aku hampir saja membunuhmu! Ku pikir kau adalah monster!"


Hartzel hanya mengangkat kedua tangannya di depan hunusan pedang tadi dan memasang senyuman kaku.


"M-aaf .. a-ku hanya kebetulan melihatmu .. hehe .."


"Untuk apa kau melakukan hal itu? Jangan pernah berharap hal yang mustahil! Dan satu lagi .. jangan ikuti aku!" tegas sang Ibu yang kemudian pergi begitu saja.


Sang Ibu pun terlihat melompati satu tembok ke tembok lainnya, agar bisa mencapai atap-atap rumah orang. Dengan cepat, sang Ibu pun menghilang dari pandangan Hartzel.


Hartzel hanya terdiam mengingat ucapan Ibu Linanzha tadi. Namun, hal itu tidak menghentikannya mengikuti sang Ibu. Ia kemudian kembali membuntuti sang Ibu, namun dengan sangat hati-hati.


-


-


-


☆☆☆☆☆


Sementara itu, sang Ayah yang sejak tadi mencari keberadaan warga, kini berpapasan dengan beberapa warga yang berlarian dari pertempuran tadi.


"Hei? Hei? Ada apa dengan kalian?" tanya sang Ayah dengan wajah yang penasaran.


"S-egera berkemas dan bawa keluargamu keluar dari Desa ini, Pak! M-onster-monster itu .. s-emakin banyak! Warga yang lain tewas melawan mereka!" jelas salah satu warga dengan wajah yang ketakutan setengah mati.


Secara kebetulan juga, ada salah satu warga yang mengenal Ayah Linanzha. Ia lalu mendekat dan berkata,


"Kau .. kau ayahnya Linanzha, kan?"


"Ya! Memangnya kenapa?"


"Anakmu! Anakmu sedang melawan mereka bersama para Guru!"

__ADS_1


"Apa?!" mata sang Ayah melebar mendengar itu.


Sang Ayah benar-benar marah, sekaligus khawatir di saat yang bersamaan. Sang Ayah lalu menanyakan dimana letak area itu. Warga tadi pun memberitahunya secara detail. Tanpa berlama-lama lagi, sang Ayah langsung berlari ke area tersebut.


-


-


-


☆☆☆☆☆


Kini, di area pertarungan tadi, Keroco-keroco monster semakin banyak yang berlarian dari arah hutan, untuk mengerumuni para Guru, Linanzha dan Martis.


Sedangkan Malika, ia bagaikan beban yang masih saja berusaha untuk mengeluarkan kekuatannya. Untung saja, letak pertarungan itu cukup jauh dari posisinya.


Hal itu membuat Malika tidak menjadi target, lantaran keroco-keroco monster, lebih antusias menyerang orang yang melawan balik.


Namun tidak dengan pemimpin dari monster-monster tadi. Pandangannya kini kebingungan, akibat melihat Malika yang sejak tadi tidak melakukan apa-apa.


Ia pun lebih memilih berjalan ke arah Malika, sembari menyimpulkan kedua tangannya di belakang. Malika yang tiba-tiba melihatnya semakin dekat, kini mulai melangkah mundur dengan wajah yang panik.


"Kau mengancamku? Tidakkah kau lihat teman-temanmu yang sedang kesusahan disana? Kenapa kau tidak membantu mereka?" sosok itu terlihat santai saat mengatakan hal tadi.


Malika tidak membalas pertanyaannya. Linanzha yang sesekali mengalihkan pandangannya ke arah Malika, langsung terkejut hebat, akibat melihat ada sosok lain disana.


Sejak tadi, Martis dan Linanzha sudah terjebak bersama para Guru, dalam melawan keroco-keroco monster yang berdatangan. Namun, kekuatan mereka sangatlah sempurna, dalam membentuk pertahanan di antara kerumunan keroco-keroco itu.


Valun yang sudah kuwalahan akibat usia senjanya, masih tetap berusaha keras dalam menjatuhkan beberapa monster, hingga keluar dari barisan pertahanan.


Gazzel memainkan serangan jarak jauh, dengan berupa bongkahan-bongkahan tanah yang di tendangnya ke arah monster-monster.


Di sisi lain, Senju pun sedang memainkan dua pedang es, dalam menebas dan menusuk keroco-keroco itu. Sesekali, ia bahkan bisa memenggal kepala mereka, dalam sekali tebas.


Namun percuma. Keroco-keroco itu seperti tak ada habisnya. Benar-benar membuat ketiga Guru, Martis dan Linanzha semakin terpojok.


Ketika mereka masih di sibukkan oleh para keroco, sosok pemimpin tadi pun mulai kembali melanjutkan percakapannya dengan Malika. Wajahnya kini berubah penasaran.


"Aku ingin melihat kekuatanmu sekali lagi. Tunjukkanlah padaku. Aku ingin memastikannya."

__ADS_1


"K-kau .. kau ingin terbunuh, hah?! Menjauh dariku! Dan jangan ganggu teman-temanku!" Malika coba mengertaknya dengan tatapan yang meyakinkan.


Sosok itu pun membalas, "Ayo .. keluarkan .. keluarkan .." sembari memasang gaya bertarung.



Malika terus berusaha. Batinnya terus menjerit-jerit mengatakan "Fokus," sambil menarik satu tangannya ke belakang, demi melancarkan serangan andalannya.


Dan tentu saja, ketika ia mulai memukul ke arah sosok tadi, tangannya pun memanjang, membesar dan di baluti asap hitam yang melambai-lambai.


"Berhasil .." batin Malika yang terkejut dengan pukulannya.


Namun, sungguh mencengangkan. Sosok itu mampu menghentikan pukulan raksasa Malika, dengan cara menahan menggunakan kedua tangannya. Sosok itu bahkan hanya sedikit terseret mundur.


"A-p .. apa? Apa-apaan ini .." Malika kembali membatin dengan mata yang melebar.


Malika benar-benar panik melihat serangannya yang di tahan begitu saja. Ketika Malika menarik tangannya kembali, sosok itu malah menahannya. Mereka berdua pun saling tarik menarik dengan kekuatan penuh.


"Ini sulit di percaya!" kata sosok itu yang kemudian melepaskan tangan Malika dan menyerangnya.


Malika terlambat menarik tangannya. Dengan lesatan yang cepat ke arah depan, sosok itu pun langsung memukul ke arah ulu hati Malika.


"BUAAK!"


Pukulannya itu, tidak terlihat sungguh-sungguh. Ia hanya memukul Malika dengan tenaga yang terbilang biasa. Akan tetapi, Malika tetap merasakan kesakitan, sembari terlempar mundur dan terseret di tanah.


"Uhurrgh ..." Malika sedikit mengeluarkan darah dari batuknya.


Pukulan di ulu hati itu, benar-benar membuatnya tak bisa bernapas dengan baik. Malika kini berusaha untuk berdiri dengan sedikit membungkuk, akibat ulu hatinya yang masih kesakitan.


Sosok itu kemudian berkata, "Pantas saja, aku tidak bisa merasakan auramu. Ternyata kita sama. Tapi, kau terlihat seperti manusia pada umumnya. Sepertinya, wujud manusia lebih mendominasi fisikmu."


"A-p .. uhurrg .. apa .. maksudmu?" Malika masih saja mengeluarkan sedikit darah dari batuknya, di saat membalas ucapan sosok tadi.


"Siapa di antara orangtuamu yang monster?" tanya sosok tadi.


Pertanyaan itu langsung membuat Malika terkejut setengah mati. Ia tak menyangka, kalau akan di tanyai hal yang benar-benar tak masuk akal baginya.


"Apa m-aksudmu?! Kau pikir aku sepertimu, hah?!"

__ADS_1


-FOLLOW ME-


__ADS_2