KEKUATAN ALAM

KEKUATAN ALAM
Terima Kasih, Malika.


__ADS_3

Matahari pun sudah tenggelam untuk menyudahi hari. Suara-suara jangkrik juga mulai saling bersahutan di sepanjang ladang bunga matahari.


Di sela-sela itu pula, terlihatlah Linanzha dan Malika yang sedang berjalan pulang bersama. Tidak seperti biasanya, mereka berdua kini pulang di saat hari sudah gelap.


Kemesraan dan candaan mewarnai sepanjang perjalanan itu. Mereka berdua seperti ingin meninggalkan kesan-kesan indah untuk yang terakhir kalinya.


Dan pada akhirnya,


"Sempatkan waktumu agar melihatku besok," ucap Linanzha yang perlahan mengecup bibir Malika.


"Aku janji. Sampai jumpa, Lin. Aku .. mencintaimu," balas Malika sembari memeluknya.


"Aku juga mencintaimu, Lika," Linanzha membalas pelukan itu.


Mereka berdua pun saling berpisah di tengah jalan. Linanzha lalu melangkah pergi dan sesekali menoleh ke belakang, untuk melambaikan tangan. Sedangkan Malika, ia hanya berdiam di tempat sembari membalas lambaian Linanzha.


"Sampai jumpa lagi, Lin .."


"Sampai jumpa lagi, Lika .."


Dua batin yang saling bersahutan secara bersamaan, namun tanpa ada dari mereka berdua yang mengetahuinya.


-


-


-


-


-


☆☆☆☆☆


Sementara itu, di suatu tempat yang sangat jauh dari Avalon, ada sebuah Desa yang kini sedang berada dalam masalah besar. Ya, mereka di serang oleh monster secara tiba-tiba.


Sejak tadi, sebagian besar warga di sana sudah tewas dalam keadaan yang terpotong-potong, akibat terkena dua bilah sabit yang melayang kesana-kemari.


Kedua sabit itu terlihat menyala-nyala ketika melesat di udara. Sebagian kecil warga yang masih hidup, kini hanya mampu berlari ketakutan, sembari meminta tolong dengan nada yang histeris.


"Tolong!"


"Anakku! Anakku!"


"Ya Tuhan! Tolong kami!"


"Ibu! Ayah!"


Beberapa keroco monster juga turut membuat kerusuhan di Desa itu. Kekuatan dari Polisi Desa tersebut sangat lemah. Bahkan, Kepala Desa mereka juga sudah tewas sejak tadi.


Diantara mayat-mayat warga yang tewas, terlihatlah satu sosok yang sedang berdiri di salah satu atap rumah, sembari menangkap kedua sabit terbang tadi dengan santai.



Ia lalu berkata, "Beritahukan kepada yang tertinggi, kalau satu Desa sudah berhasil di kuasai!"

__ADS_1


-


-


-


-


-


☆☆☆☆☆


Kembali lagi ke Desa Avalon. Setelah 20 menit berlalu, Malika sekarang sudah berada di salah satu atap rumah yang tinggi. Ia kini hanya berbaring, sambil menatap kilaunya jutaan bintang yang terbentang luas di atas sana.



Pemandangan itu membuatnya melayang jauh. Banyak hal yang ia pikirkan sekarang ini. Mulai dari Linanzha, elemen kegelapan, hingga kedua orangtuanya.


"Seperti apa jadinya nanti? Apakah perang memang akan terjadi? Tapi .. ku harap .. Linanzha bisa menjadi kuat dan mampu menjadi salah satu pahlawan .. jika hal itu memang terjadi. Dan orangtuaku .. huffft .. siapa sebenarnya mereka?"


Di detik-detiknya Malika yang sedang melamun, tiba-tiba, ada dua orang yang saling berbincang-bincang, sembari melangkah bersama.


Mereka tak mengetahui posisi Malika yang sedang berbaring di atap rumah. Hanya Malikalah yang mengetahui, sekaligus mendengar percakapan mereka berdua.


"Kau pikir, keempat murid terbaik itu akan bertahan? Mereka tak sekuat Lizarno .. haha .." ucap salah satu orang tadi kepada temannya.


Temannya hanya membalas, "Haha .. kau benar! Jika saja Lizarno ikut bertarung waktu insiden kemarin, mungkin korban jiwa tidak akan sebanyak itu. Siapa nama kedua murid yang membantu ketiga Guru kemarin?"


"Menurut kabar, kedua murid itu bernama Martis dan Linanzha. Mereka sangat payah!"


Semakin lama, mereka berdua semakin menjelek-jelekkan Linanzha dan Martis. Nada mereka dalam berbicara juga terdengar jelas sangat meremehkan. Tak mampu di bendung. Malika semakin naik pitam mendengar pedasnya mulut kedua orang itu.


"Siapa orang-orang ini? Kurang ajar .. seenaknya saja berbicara seperti itu .. dasar .. tidak tahu malu .." batin Malika dengan wajah yang geram.


Ketika mereka berdua mulai memasuki gang yang sempit dan gelap, hal itu langsung membuat Malika mempunyai niat jahat. Ya, Malika ingin sekali menghajar mereka berdua, selagi ada kesempatan.


"Kalian berdua sangat tidak beruntung .."


Malika kemudian mencari cara agar bisa turun dalam keadaan senyap di belakang mereka. Perlahan namun pasti, ia pun berhasil turun, dalam membelakangi posisi mereka berdua.


"Hei?!" tegur Malika.


Belum juga menoleh dengan jelas, Malika sudah saja memukul salah satunya dengan tiba-tiba. Hal itu membuat orang yang tadi menjadi goyah dan menabrak sekitaran tembok gang tersebut.


Ketika yang satunya lagi ingin mengambil posisi mundur, Malika dengan cepat menendang ke arah wajah, hingga membuatnya terlentang di tanah.


"Berikan uang kalian berdua, atau akan ku hajar hingga wajah kalian tidak lagi terlihat sama," ucap santai Malika dengan tatapan yang dingin.


"K-urang ajar .. Beraninya kau!" geram salah satu dari kedua orang tadi dengan emosi.


"Kau ingin merampok kami?! Ayo hajar dia!" sambung yang satu lagi.


Mereka berdua mulai berdiri dan menyerang Malika. Pukulan dan tendangan mereka terlihat amatiran. Malika yang lumayan terlatih, sudah pasti bisa menyaingi mereka berdua dengan baik.


Ketika yang satunya ingin mendorong dada Malika menggunakan kakinya, Malika pun menahan dan menarik kaki orang itu, hingga membuat selangkangannya melebar, bagaikan penari balet yang sedang merenggangkan kaki.

__ADS_1


"Arrrrgh!" erangannya yang merasakan kesakitan di bagian ************.


Di saat yang satunya ingin memukul, dengan cepat pula, Malika melepaskan kaki orang yang tadi, sembari menghindari pukulan tersebut. Malika kemudian melompat dan mendaratkan lututnya, ke arah wajah orang yang hampir memukulnya tadi.


"BUK!"


"Uhuurrgh!" rintihan orang itu, ketika lutut Malika menghantam keras wajahnya.


Ia langsung berjalan mundur dan terduduk di tanah, dengan wajah yang mulai berlumuran darah. Malika yang melihatnya sedang terduduk, langsung berlari dan kembali menendang wajahnya, bagaikan pesepak bola yang menendang penalti.


"BUAK!"


Darah semakin bermuncratan akibat tendangan tersebut. Orang itu langsung terlentang dalam sekejab. Ketika yang satunya ingin berdiri, Malika langsung menginjak kepalanya, hingga membuat orang itu, kembali mencium permukaan tanah.


"Sudah kubilang, kan? Coba saja kalau tadi kalian hanya menurutiku. Berikan uang kalian sekarang!"


Orang yang di tendang Malika tadi, kini sudah terlihat berkejang-kejang, sembari memuntahkan darah dari mulutnya. Sedangkan yang satunya lagi, ia masih saja di injak oleh Malika.


Orang itu pun berkata, "Kau .. kau m-mbunuhnya .. tidak .."


"Hah?" Malika terkejut dan berpaling ke arah orang yang berkejang-kejang tadi.


Ya, orang itu semakin memuntahkan darah. Ia masih saja berkejang-kejang dan mati secara perlahan. Malika yang melihat itu, kini menjadi panik secara tiba-tiba.


"Hiiii ... hiiii .." batin Malika yang menjerit-jerit, dengan wajah yang ketakutan.


"Dia .. dia sedang mengidap penyakit asma! Kurang ajar! Kau .. kau membunuh temanku! Akan ku laporkan ini kepada semua orang! Pembunuh! Kau akan menerima akibatnya!"


Malika semakin terjebak dalam posisinya. Ia yang hanya berniat untuk memberi pelajaran kepada mereka, kini berakhir sebagai seorang pembunuh.


"Singkirkan kakimu dariku!"


Tanpa berpikir panjang lagi, Malika langsung menginjak kembali kepala orang itu dengan keras. Ya, Malika ingin membunuhnya, agar kasusnya tersebut tidak tersebar kemana-mana.


"BUK! BUK! BUK! BUK!"


Malika terus menginjaknya berulang kali. Semakin lama, orang itu semakin tak kuasa dalam menahan sakit. Dan pada akhirnya, ia pun juga harus tewas bersama temannya.


Malika hanya mampu membatin, "S-sial .. sial .. sial .. sial .." sembari menoleh kesana-kemari, dengan wajah yang takut akan saksi mata.


Tanpa berlama-lama lagi, Malika pun berlari meninggalkan kedua mayat itu. Namun, semakin lama, kedua bola matanya semakin panas. Ya, jiwa kedua orang tadi, kini mulai terserap masuk ke dalam matanya.


"Aarrgh .. sshh .. mataku .." lirihnya yang menahan panas tersebut.


Ia berusaha membuka matanya selebar mungkin, agar bisa melihat jalan dengan benar. Kadang, ia hampir menabrak sekitaran tembok gang, akibat pandangannya yang masih terganggu.


Jiwa kedua orang itu menjerit di dalam pikiran dan matanya. Namun, hal itu tidaklah berselang lama. Panas di matanya juga perlahan menurun dan kembali seperti semula.


"Sial .. bodoh .. aku sangat bodoh .. jangan sampai ada yang tahu tentang ini .."


Malika kemudian memilih untuk bermalam, di salah satu rumah terbengkalai bagian barat. Ketika sampai, ia pun masuk dan memilih untuk bersembunyi.


Ketakutan kini menimpanya. Ia tak menyangka, kalau secara tak sengaja, sudah memberikan apa yang sang Kegelapan inginkan.


Ya, sang Kegelapan mungkin sekarang sedang menyantap kedua jiwa tadi, dengan rasa berterima kasih yang besar kepada Malika. Dan yang pasti, kedua mayat tadi akan menjadi berita hangat di keesokan harinya.

__ADS_1


-FOLLOW ME-


__ADS_2