
Malika yang merinding melihat tatapan itu, langsung menjerit, "Kyaaa!" sembari menginjak wajah si monster dengan keras.
"BUAK!" suara injakan Malika yang tiba-tiba saja, bertabrakan dengan telapak tangan si monster.
Si monster menangkisnya dengan cara menahan telapak kaki Malika, kemudian mendorongnya, hingga membuat Malika terkapar cukup jauh dan mendarat dengan bagian punggung.
"Ouuucch!" erangan Malika ketika mendarat keras di tanah.
Si monster itu kemudian berdiri dan berkata, "Siapa kau? Ap .. apa .. kau, manusia? Ke .. napa .. aku tidak bisa men .. cium keberadaanmu?" dengan wajah yang kebingungan, namun terlihat menyeramkan.
Si monster seperti orang bodoh dalam berbahasa manusia. Suaranya juga bagaikan seorang perokok yang berbicara di depan kipas angin. Terdengar berat dan mempunyai vibra pada pita suara.
Malika yang sejak tadi masih terduduk memegang punggungnya pun membatin, "Hii .. di-dia bisa bicara?" dengan raut wajah yang ketakutan.
"Ke .. kenapa .. kau membantu manusia? Ap .. apa kau manusia?" tanya si monster sekali lagi, sembari berjalan pelan ke arah Malika.
Malika langsung berjongkok ketika melihat monster itu ke arahnya. Sesekali, ia menatap ke arah wanita tadi, untuk mengecek apakah si wanita sudah mati atau belum.
Perlahan, si wanita menoleh lemah ke arah Malika, sembari melirih, "T-olong .." dengan satu bola mata yang sudah hancur.
Malika tidak mendengarnya, akibat suara derasnya hujan yang diiringi guntur. Namun Malika tahu, wanita itu masih hidup.
"Ja .. jawab aķ .. aku!" bentak monster itu, yang kemudian mulai berlari ke arah Malika.
Melihat itu, Malika langsung berbalik ke arah sebaliknya untuk berlari. Untungnya, ada sebatang pohon besar yang berada tepat di depan Malika.
Sontak saja, ketika si makhluk menyerang, Malika langsung menapakkan kakinya di batang pohon itu, untuk sedikit berlari ke atas, lalu melompat hingga bersalto belakang, di atas makhluk tersebut.
"CRASSSH!" suara cakaran si makhluk, ketika mengores batang pohon tadi, akibat salah sasaran.
Serangan si makhluk, mampu menembus tiga pohon lainnya, hingga membuat keempat pohon menjadi tumbang sekaligus.
Namun, di saat yang bersamaan juga, kedua kaki Malika langsung menapak tepat di bahu si monster, untuk kembali melakukan lompatan jauh ke belakang.
Malika lalu mendarat dengan cara berguling satu kali di tanah, kemudian berdiri dan berlari lagi menuju wanita tadi, sembari memikirkan sesuatu.
"Tidak bisa mencium keberadaanku? Berarti .."
Begitu sigapnya Malika dalam mengambil tindakan. Di saat makhluk itu mulai berpaling ke arahnya, ia pun menghilang.
Ya, perkataan monster tadi, kini membuatnya mengambil tindakan cepat, dengan cara bersembunyi di balik pohon lainnya, sembari menarik nafas yang berat dan mencari rencana baru.
__ADS_1
"Huuff .. huuff .."
-
-
-
-
-
☆☆☆☆☆
Sementara itu, di atap-atap rumah pedesaan ..
"Senju?! Awas!" teriak Gazzel.
Secepat kilat, ada sebuah kapak hitam legam yang berputar kencang ke arah mereka. Untungnya, Senju dan Gazzel dapat menghindari serangan dadakan itu.
"WOSSSH!" suara kapak tadi, ketika membelah angin di tengah-tengah Gazzel dan Senju.
Gazzel kemudian mendarat di atap rumah sebelah kanan. Sedangkan Senju di atap rumah sebelah kiri.
Bagaikan boomerang, kapak itu lalu mulai kembali berputar balik, menuju telapak tangan Tuannya.
Perlahan, sosok itu melangkah maju dari kegelapan. Semakin lama, sosok itu semakin memperlihatkan, bahwa ia adalah seorang wanita yang memiliki sepasang tanduk, juga warna kulit yang begitu pucat.
Tak hanya sampai disitu. Kegilaan lagi-lagi terjadi di depan mata mereka berdua.
"DUM! DUM! DUM!"
Kini, suara langkah kaki yang terdengar seperti raksasa, sedang berjalan keluar dari kegelapan menuju sosok wanita tadi.
Betapa terkejutnya mereka, ketika melihat ukuran makhluk yang baru datang itu, setinggi 2 meter.
Makhluk itu melangkah maju, sembari membuang nafas lega dan berkata, "Aaahh! Betapa segarnya udara dunia ini!"
"Morca, dimana kau menyuruh si bodoh itu membuka portal?" tanya wanita bertanduk tadi.
__ADS_1
Morca hanya membalas, "Aku juga bingung, kenapa portal darinya belum juga terbuka! Kurang ajar! Segera buka portal kedua, Alkila! Aku tidak ingin menunggu lama!"
Tak dapat di hindarkan. Kini, terbukti sudah semua ucapan Gazzel. Pertahanan Desa yang begitu lemah dan jauh dari bala bantuan kerajaan, membuat seisi Desa sekarang dalam bahaya.
"Apa yang harus kita lakukan, Gazzel?!" teriak Senju yang berada jauh di atap sebelah.
"Mundur! Kita harus memperingatkan para warga yang masih berkeliaran tadi!"
Akan tetapi, percakapan mereka berdua itu, terdengar oleh Morca walau dari kejauhan. Morca lalu berteriak kepada mereka, "Aku mendengar kalian, manusia!" sembari mengangkat satu tangannya, untuk menyerang Gazzel dan Senju.
Serangannya itu, seperti tembakan laser yang menyilaukan mata. Begitu cepat laser itu ketika melesat, hingga membuat Gazzel dan Senju nyaris bergeming, akibat kesilauan.
"Menghindar!" teriak Senju yang lalu melompat jauh ke atap lain. Dan ..
"BOOM!"
Entah di dalam rumah-rumah yang terkena serangan itu, berisikan orang-orang atau tidak. Suara bergemuruh dari serangan tersebut, langsung terdengar luas oleh seluruh warga Desa Avalon.
Senju yang sejak tadi terkena sisa-sisa angin ledakan, kini kehilangan Gazzel dari pandangannya. Ia menelan ludah dan menoleh kesana-kemari, akibat khawatir kalau Gazzel mungkin sudah mati terkena serangan tadi.
Namun, "Kurang ajar!" teriak Gazzel yang tiba-tiba saja, terlihat sedang melompat dari ketinggian yang dapat membunuh manusia, menuju ke dataran rendah.
"Gazzel?!" teriak Senju yang terkejut, akibat melihatnya yang tiba-tiba saja melompat turun.
Ketika Gazzel mendarat, jalanan pedesaan langsung menjadi hancur berantakan, sekaligus mengangkat sebongkah tanah raksasa terangkat naik, dalam waktu sekejab.
"BURRRRM!"
Gazzel lalu memegang tanah itu dengan kedua tangannya, kemudian melemparkannya ke arah Morca dan Alkila.
"Arrrrrrgghhh!" teriak Gazzel sembari melemparkan tanah itu.
Bagaikan meteor, tanah itu melesat cepat ke arah dua musuh tadi. Akan tetapi, di saat tanah itu sudah hampir menimpa mereka berdua, Alkila langsung mengibaskan kapaknya sekuat mungkin, hingga membuat tanah tersebut, menjadi hancur berkeping-keping di udara.
"WUSSSSH .. BURRRM!" suara angin dari kapak Alkila, ketika bertabrakan dengan serangan Gazzel.
"Kau melemparku dengan kerikil?!" teriak Morca yang terdengar sombong.
__ADS_1
-FOLLOW ME-