
Rudi dan Rangga turun dari mobilnya Rudi, dan jalan masuk kedalam rumahnya Nando, Rangga merasa gugup karena pertama kalinya ketemu dengan Marsya langsung sekian lamanya.
"Maaf kita terlambat kesini" Ucap Rangga ramah, Rangga melihat Nando yang bukain pintu setelah Rangga pencet bel.
" Santai saja, mari masuk kedalam rumah, karena Marsya sudah pulang dari kantor, dan selama makan saya harap jangan bahas masalah pribadi dulu ya. biarin Marsya habiskan makanan nya dulu" Ucap Nando yang membiasakan Marsya menikmati makanan, tanpa ada pembicaraan sama sekali.
" Baik lah, saya ikutin aturan anda." Lanjut Rangga sedikit bangga, karena Nando mengajarkan hal hal yang baik ke Marsya, contohnya makan tidak boleh berbicara sama sekali
" Silahkan masuk" Lanjut Nando mempersilahkan tamunya untuk masuk kedalam rumah, Nando melihat Rangga ajak Rudi ke rumahnya merasa heran, tapi Nando berusaha santai dan tidak kepo sebelum Marsya selesai makan.
Dilain sisi, Marsya merasa heran makan malam dihalaman belakang seperti ini, bukan didapur, dan makanan nya pun beli tidak ada yang dimasak oleh Anisa dan Lusi.
" Kita ada tamu sayang, jadi kita makan disini saja." Ucap Anisa berusaha santai, dan berusaha untuk tidak cerita sama sekali ke Marsya siapa yang sebenarnya yang datang.
" Pantas Satria tidak boleh datang kesini, ternyata ada tamu yah memangnya siapa? kok mendadak sekali?" Tanya Marsya yang tidak tahu siapa tamu yang datang.
" Sebentar lagi juga tahu sayang, sudah kita tata makanan nya sebelum tamu nya dibawa ayah kesini." Ucap Lusi, berharap Marsya tidak membenci ayah kandungnya. walaupun Rangga egois, tapi Rangga punya hak untuk ketemu langsung dengan Marsya.
" Sepertinya spesial yah? sampai Marsya tidak boleh tahu siapa tamu yang mau kesini?" Tanya Marsya merasa heran, Marsya berusaha tidak terlalu kepo, biar lah Marsya menunggu sampai tamu yang dimaksud muncul dengan sendirinya.
Dilain sisi, Natalia bingung melihat Iis baru pulang, padahal tadi Iis bilang mau ke kantornya Rangga tapi pulang sendirian.
__ADS_1
" Ayah kemana? kok bunda sendirian pulangnya?" Tanya Natalia bingung, apa lagi ekspresi Iis sepertinya kesal
" Tadi bunda sengaja ke kantor, supaya ayah kamu tidak kemana mana, bunda takut ayah kamu ketemu dengan mantan istrinya, eh sampai dikantor, ayah bilang masih ada kerjaan bersama Rudi. yah sudah akhirnya bunda pulang sendirian, salah sendiri sih datang tidak kasih kabar sama sekali, yah akhirnya seperti ini deh." Ucap Iis kesel, tapi tidak bisa salahkan Rangga yang ternyata masih ada kerjaan bersama asistennya
" Masih ada kerjaan? biarin saja lah bunda, biarin ayah cari uang yang banyak sampai malam toh buat kita juga kan uangnya. jangan dibawa pusing lah?" Tanya Natalia santai, Natalia tidak pernah protes jika Rangga selalu pulang malam, apa lagi karena pekerjaan.
" Iyah sayang, masuk lah kedalam, bunda mau makan cemilan didapur." Lanjut Iis yang mau makan yang seger seger, supaya rasa keselnya berkurang.
Natalia mau temani Iis makan didapur, kebetulan sekali tadi Natalia beli kue yang memang sengaja mau dimakan bersama Iis.
Dilain sisi, Marsya heran melihat tamu yang ditunggu orang tuanya, ternyata rekan kerjanya Nando, Marsya merasa heran apa spesialnya tamu yang sekarang duduk di bangku dan membuat Satria tidak boleh datang ke rumah.
" Mari kita makan pak Rangga dan pak Rudi." Ucap Nando ramah, Nando mempersilahkan Rangga dan Rudi menikmati makanan yang sudah dihidangkan.
" Iyah pak Nando" Ucap Rangga senyum ramah, dan mulai menikmati makanan yang sudah disiapkan oleh keluarganya Nando.
Anisa yang tahu siapa tamu yang ada didepannya, langsung minta Lusi tukeran tempat duduk karena Anisa malas sekali, makan didepannya Rangga. Lusi yang mengerti kenapa Anisa mau tukeran tempat duduk, langsung mengalah dan tanpa protes sama sekali.
Dilain sisi, Satria menceritakan ke dua orang tuanya, jika tadi Satria melamar Marsya didepan orang tuanya saat makan siang bersama tadi.
" Alhamdulillah jika diterima, yah sudah kita siap kan untuk acara lamaran resmi kedua keluarga, dan bunda juga setuju jika kalian menikah cepat, supaya hubungan kalian segera halal." Ucap Bunda nya Satria bahagia, akhirnya Satria berani melamar Marsya dan tidak terlalu lama lagi pacaran.
__ADS_1
" Iyah bunda Alhamdulillah sekali, langsung diterima oleh Marsya dan ketiga orang tuanya tadi." Ucap Satria merasa bahagia sekali karena tidak menyangka jika Marsya juga mau menikah cepat.
" Yah sudah, kamu sendiri yang beli seserahan untuk melamar Marsya, planning konsep acara resepsi pernikahan, tempat tinggal bersama Marsya, dan bulan madu juga. karena kamu sudah bekerja dan jabatan bagus, bunda rasa kamu bisa mandiri untuk siapin semuanya, ayah dan bunda tinggal duduk manis saat ijab kabul dan duduk manis di atas pelaminan kalian." Lanjut Bunda nya Satria sengaja, karena ingin membiasakan anaknya mandiri dan tidak dibantu sama sekali, biarkan Marsya dan Satria yang urus semuanya berdua.
" Beres bunda, yah sudah Satria mau ke kamar dan mandi bunda." Lanjut Santria tidak merasa keberatan untuk mengurus semuanya sendiri, karena Satria mengerti jika bunda nya ingin membuat Satria bisa belajar mengurus semuanya sendiri.
Dilain sisi, Marsya merasa heran karena Marsya setelah makan harus ikut ke ruang tamu, dan ngobrol bersama rekan kerjanya Nando.
" Ada apa ini? kenapa Marsya harus ikut ngobrol seperti ini?" Tanya Marsya heran, karena Marsya diajak ngobrol bersama kedua tamunya Nando, dan lebih anehnya kenapa Anisa harus ikut juga.
" Baik lah, silahkan pak Rangga dan pak Rudi, sampaikan apa yang mau kalian sampaikan ke Marsya." Ucap Nando berusaha santai, Nando sengaja siapkan tissue dan kantong plastik, takutnya Marsya nangis setelah mendengar penjelasannya Rangga.
Rangga langsung memperkenalkan diri, mulai membahas dua puluh tahun yang lalu, disaat Anisa hamil diusir, menitipkan Marsya dipanti asuhan, terakhir dengan teganya meninggalkan Marsya dipasar begitu saja, dan sampai terakhir melihat Marsya dibawa oleh Nando dan Lusi yang akhirnya diangkat sebagai anak.
" Jadi kehadiran saya kesini, untuk kasih tahu semua ke Marsya, selama ini papah selalu memantau perkembangan Marsya tanpa sepengetahuan mamah, terutama waktu Marsya ada di panti asuhan, papah selalu melihat Marsya ditemani pengurus panti dengan ekstra. sampai akhirnya mamah ajak kamu pulang bersama, tapi tidak menyangka cuman beberapa bulan saja sampai akhirnya Marsya ditinggalin begitu saja di pasar tradisional" Ucap Rangga dengan haru, Rangga menyesal karena dimasa susahnya tidak ingin membuat Anisa ikut susah jika terus bersama Rangga, oleh karena itu Rangga terpaksa usir Anisa yang lagi hamil lima bulan.
" Apa ini alasan mamah, kenapa tidak kasih tahu dimana papah berada? dan bilang papah sudah meninggal dunia?" Tanya Marsya melihat Anisa, yang ikutan nangis saat mengingat masa masa sulit bagi kehidupan Anisa dulu.
" Iyah sayang, maafkan mamah, karena mamah tidak ingin Marsya ketemu dengan papah dulu, karena papah saja usir mamah dari rumah, jadi mamah berfikir untuk apa ketemu dengan orang yang tega mengusir mamah yang lagi hamil besar, dan alhamdulilah orang orang panti dengan baik hati membantu mamah melahirkan, dan mengijinkan kamu dirawat di sana secara gratis, mamah setiap ke panti asuhan setiap mamah sebelum atau setelah pulang dari kerja sayang, untuk memenuhi kebutuhan Marsya selama di panti asuhan. mamah terpaksa meninggalkan Marsya dipasar karena tidak tega jika kehidupan masa depannya Marsya hancur sayang, dan akan malu jika orang orang tahu, mamah diusir oleh suami sendiri saat lagi hamil. dan subhanallah Marsya dibesarkan oleh orang orang baik dan kehidupan sempurna seperti Nando dan Lusi yang penuh kasih sayang dan perhatian lebih ke Marsya." Ucap Anisa panjang kali lebar, Anisa berusaha bercerita dengan jelas, walaupun dalam kondisi nangis.
Marsya langsung peluk Anisa, Marsya tidak tahu jika Anisa perjalanan hidupnya sepahit itu, dan Marsya menyesal sudah bilang jika Anisa tega meninggalkan Marsya karena sudah tidak sayang lagi dengan Marsya, walaupun kesel tapi Marsya masih mau ketemu lagi dengan Anisa.
__ADS_1