KEMARIN BUNDA ADA DISINI

KEMARIN BUNDA ADA DISINI
mau hidup enak tapi tidak mau


__ADS_3

Satria sengaja pura pura minta Marsya temani beli es cendol didepan kantornya Marsya, Satria lagi malas cepet cepet ke kantor padahal masih ingin berduaan dengan Marsya.


" Es cendol disini memang enak sayang, yah sudah aku temani deh." Ucap Marsya yang sejujurnya jarang sekali untuk jajan didepan kantor seperti ini.


" Mang beli dua gelas yah" Ucap Satria ambil tempat duduk yang masih kosong dan pas untuk gombalin Marsya


" Siap" Ucap tukang cendol langsung racik es yang diinginkan Satria


" Sayang, kira kira yang bakal nikah duluan siapa yah? kita atau orang tua aku? jujur sayang aku ingin sekali ayah dan bunda bisa duduk diatas pelaminan, apa boleh yah? secara kan sudah ada mamah, papah, dan bunda?" Tanya Marsya sedih jika Nando dan Lusi tidak bisa duduk diatas pelaminan dan tidak bisa jadi wali nikah Marsya dan Satria.


" Nanti kita bahas bersama orang tua kamu yah sayang, supaya ayah dan bunda mendapatkan hak yang sama seperti mamah, papah, dan Bunda, aku juga ingin melihat mereka ada di pelaminan juga sayang, aku tidak tega melihat orang yang sudah baik ke kita sedih sayang." Lanjut Satria yang mengerti perasaannya Marsya, Satria akan membahas soal ini langsung, nanti siang makan bersama akan Satria pakai untuk membahas persiapan pernikahan Satria dan Marsya begitu juga dengan Rangga dan Anisa.


Marsya nurut saja dan berharap Nando dan Lusi ada diatas pelaminan saat pernikahan Marsya, Marsya sangat menyayangi Nando dan Lusi tidak tega membiarkan kedua orang tuanya sedih hanya karena tidak dikasih tempat sama sekali.

__ADS_1


Dilain sisi, Natalia berusaha fokus untuk dengerin apapun yang disampaikan oleh Rangga, Natalia malas sekali rasanya harus membahas hal hal yang serius dan membuat sakit kepala karena banyak berfikir.


" Laptop kamu harus kosong Natalia, supaya dokumen apapun yang diberikan oleh Rudi muat disimpan jangan sampai kepenuhan." Ucap Rangga yang berusaha memastikan laptop nya Natalia bersih dari Vidio Vidio tidak penting.


" Sudah ayah, kenapa harus diajarkan oleh om Rudi sih ayah, kenapa tidak ayah saja langsung, dan dibantuin ayah langsung pasti Natalia langsung faham dari pada diajarin orang lain." Ucap Natalia heran, karena Rangga harus merepotkan Rudi segala.


" Namanya belajar yah harus diajarin oleh orang lain, supaya kamu tidak seenaknya dalam bekerja dan jika ada masalah bisa mencari solusi sendiri, tidak bergantung dengan orang lain. om Rudi sudah ayah bilang harus tegas ke kamu dan jujur, jika kamu ada kesalahan harus ditegur secara profesional dan dibantu jika sudah mentok batas maksimal usaha kamu, dan dikasih solusi yang terbaiknya. ayah tidak mau denger kamu curang dan bermalas-malasan dalam bekerja. ingat Natalia pekerjaan sekarang akan menentukan kelayakan kamu untuk menjadi penerus ayah atau tidak, jika kamu gagal maka otomatis perusahaan ayah akan diserahkan ke Marsya sebagai penerus ayah, karena ayah ingin perusahaan ayah ada yang meneruskannya dan tidak bangkrut karena tidak punya penerusnya apa kamu mengerti." Tegas Rangga, yang tidak ingin main main, dalam menentukan pengganti Rangga dikantornya, tidak ingin mengalami kerugian, dan tidak ingin mengalami kebangkrutan karena tidak ada pemimpin perusahaan sama sekali.


" Astaga, ini sih namanya disiksa oleh ayah kandung sendiri, mau hidup enak masa harus cape cape seperti ini sih, kerja dari pagi sampai sore, tidak boleh seenaknya dan tidak boleh ada kesalahan sama sekali." Batin Natalia kesel, karena harus repot seperti ini demi mempertahankan haknya Natalia. Natalia mengijinkan Marsya yang pegang perusahaan tapi Natalia yang menikmati uangnya tanpa harus bersusah payah.


" Sama sama sayang, ayah juga ingin melihat kamu sukses seperti Marsya dan menjadi pemimpin perusahaan sayang, jangan hidup seenaknya sayang. mau hidup enak tapi tidak mau bersusah payah sama sekali." Lanjut Rangga, yang tidak ingin Natalia dihina orang karena malas bekerja tapi gaya hidupnya tinggi, dan tidak bergantung dengan siapapun demi memenuhi kebutuhan pribadinya.


" Iyah ayah" Lanjut Natalia pasrah, karena sekarang nasipnya bergantung dari kerja keras dan menahan rasa bosan dan ngantuknya selama bekerja.

__ADS_1


Dilain sisi, Anisa melihat Nando duduk santai dihalaman belakang rumah sambil main laptop, membuat Anisa menghampiri Nando yang lagi fokus bekerja.


" Bagaimana perkembangan Marsya selama memimpin perusahaan kamu?" Tanya Anisa penasaran, selama ini Anisa tidak pernah ikut campur urusan pekerjaan apa lagi tanya tanya ke Marsya maupun Nando.


" Alhamdulillah sekali, perusahaan dipegang Marsya berkembang dengan pesat. sepertinya anak itu ingin membuktikan keseriusannya dalam pekerjaannya dan keinginan Marsya membangun panti asuhan, pasti Marsya sudah hitung hitung dana yang dibutuhkan untuk membangun panti asuhan dan tidak mau merepotkan orang tua untuk biaya yang dibutuhkan dalam pembangunan panti asuhan. mau dikerjain sendiri dari hasil kerja keras sendiri." Ucap Nando melihat Anisa yang baru pertama kalinya membahas pekerjaannya Marsya.


" Alhamdulillah yah, saya ikut bangga mendengarnya, sepertinya sih seperti itu, Marsya memang terlihat sibuk dengan laptopnya setiap di kamar, mungkin juga merencanakan biaya yang dibutuhkan demi bisa membangun panti asuhan, dan tidak ingin merepotkan orang lain untuk biaya pembangunan panti asuhan yang diinginkan oleh Marsya." Lanjut Anisa yang sering melihat Marsya sibuk sendiri dengan laptopnya sebelum tidur, dan Anisa selalu membiarkan Marsya sibuk menjelang tidur.


" Niat Marsya luar biasa sekali, untuk mewujudkan keinginannya rela bekerja keras demi mewujudkan panti asuhan yang diinginkan nya. saya diam diam sudah beli tanah cukup luas dari Rangga, niatnya sertifikat tanah itu akan saya berikan langsung ke Marsya saat Marsya ulang tahun. tidak menyangka dari beli tanah, membuat Rangga akhirnya ketemu dengan kamu dan Marsya, dan Rangga adalah ayah kandungnya Marsya lagi" Lanjut Nando tidak menyangka, jika kebahagiaan Marsya hadir dengan sempurna melalui pembelian tanah yang dilakukan Nando secara diam diam.


" Oh pantasan saja, kamu dan Rangga kenal, ternyata dari pembelian tanah untuk Marsya membangun panti asuhan, dan waktu awal ketemu tidak dibahas kenapa bisa kenal dengan Rangga, ternyata buat surprise ulang tahunnya Marsya ya sertifikatnya." Lanjut Anisa baru mengerti, kenapa Rangga juga tidak cerita awal kenal dengan Nando dan Ucok.


" Betul sekali, untungnya Ucok cerita tujuan pembelian tanah, ke Rangga membuat Rangga dan Rudi bisa menjaga rahasia kenapa kita bisa kenal." Lanjut Nando yang merasa sudah waktunya Anisa tahu, soal pembelian tanah untuk membangun panti asuhan keinginannya Marsya.

__ADS_1


Anisa bener bener merasa bersyukur karena Nando dan Lusi memberikan kado ulang tahun untuk Marsya sertifikat tanah, yang akan digunakan Marsya untuk membangun panti asuhan. Anisa merasa bahagia begitu besar rasa kepedulian yang diberikan oleh Nando dan Lusi ke Marsya selama ini, membuat Anisa merasa bersyukur Marsya dibesarkan oleh Nando dan Lusi.


__ADS_2