Kesempatan

Kesempatan
Chapter 10 : Saat Belum Mengenal


__ADS_3

Tidak seperti aku yang saat ini merasa waswas jika berlama-lama di sini, takut jika saja tiba-tiba lelaki yang aku hindari selama ini mendadak datang ke sini. Kepalaku selalu saja menengok ke sana-kemari, memerhatikan sekeliling.


“Kamu kenapa, sih?” tanya Putra. Aku hanya menggelengkan kepala ragu-ragu sambil tersenyum.


Putra menyajikan segelas long black orange di hadapanku. Tanpa dipersilakan, aku langsung menyesap minuman racikannya itu. Dengan beberapa cube ice yang terdapat di dalamnya, sungguh menyegarkan tenggorokanku yang lumayan terasa dehidrasi. Rasa segarnya langsung sampai hingga ke otakku.


“Gimana? Enak?” tanya Putra lagi yang sedari tadi memerhatikan aku menikmati minuman buatannya. Kali ini aku menjawabnya dengan anggukan kepala.


Untuk beberapa saat aku dan Putra larut dalam obrolan ringan tentang komposisi minuman yang ia sajikan ini. Aku akui, kali ini black coffee-nya sungguh terasa segar, cocok dengan cuaca di luar sana yang sedang panas menyengat. Dan mampu mengalihkan pikiranku sejenak dari bayangan Reza yang terus hadir dalam ingatan ini.

__ADS_1


Ya, aku masih mengingat saat pertama kali aku dan dia ke tempat ini. Duduk bersenda gurau bersama, menceritakan tentang kehidupan masing-masing. Layaknya saling mengenal satu sama lain, tanpa ada yang kami tutup-tutupi. Hingga terlintas saat terakhir kami ke sini, saat dia mengucapkan untuk berpisah. Tidak saling mendekati seperti dahulu lagi.


“Eh, Reza mana? Bukannya dulu ke mana-mana selalu berdua?” Lagi-lagi Putra bertanya, dan pertanyaan ini sungguh terasa tepat menusuk relung hatiku.


Mengapa semua orang yang aku temui selalu menanyakan pertanyaan yang sama? Mengapa yang mereka tanyakan hanya keberadaan lelaki itu? Ingin sekali rasanya aku katakan, jika jangan menanyakan lelaki itu padaku, karena aku pun sudah tidak tahu lagi semua tentangnya. Bahkan, aku menutup mata dan telingaku untuknya. Mungkin, hatiku pun juga sudah tertutup.


Aku mencoba untuk tenang dan santai menanggapi pertanyaan yang Putra ajukan itu. Karena aku tidak ingin terlihat lemah ataupun sejenisnya. “Nggak tahu juga, kami sudah jarang jalan bareng, Put. Memang kenapa?”


“Memang kapan dia terakhir kali ke sini?” tanyaku tanpa sadar. Entah mengapa aku malah bertanya seperti itu, seakan aku merindukan sosoknya.

__ADS_1


“Mungkin sekitar seminggu yang lalu. Setelah menghabiskan segelas salted coffee ice, dia langsung pulang. Dan selalu seperti itu.” Kini Putra sudah duduk di sampingku sambil bercerita.


Sebuah senyuman tipis tertarik di sudut pipiku, entah mengapa aku merasa senang mendengar cerita Putra ini. Sebab aku masih ingat betul saat dulu lelaki itu membenci rasa minuman favorite-ku. Lalu mengapa akhirnya lelaki itu selalu menikmati segelas minuman itu? Bukankah itu hal yang sedikit aneh?


Tidak ingin rasanya aku terus membicarakan tentang lelaki itu pada Putra, sehingga aku mencoba mengalihkan pertanyaannya untuk membahas hal yang lain. Apalagi yang kami bicarakan jika bukan tentang kopi. Hanya pembahasan itu yang mampu mengalihkan Putra dari pembahasan sebelumnya.


“Trus gimana rencana kamu buat bikin cabang kedai kopi? Jadi?” Aku mengalihkan pembicaraan.


“Jadi dong, udah beres kok! Kamu, sih, kelamaan enggak ke sini, jadinya nggak tahu info.”

__ADS_1


Aku tertawa pelan, begitupun dengan Putra. Aku memang sudah sangat lama tidak ke sini dan aku benar-benar menutup diriku dari segala akses yang menghubungkanku dengan dunia Reza, dengan semua tentang dia. Aku menarik diri dari dunia luar untuk mendekam di dalam rumah, berkutat dengan duniaku sendiri.


Kembali ke saat-saat di mana aku belum mengenal Reza.


__ADS_2