
Dua tahun yang lalu ...
Setelah perkenalanku dengan Reza di sebuah pesta pernikahan sepupunya. Kami berdua kembali bertemu saat Joe dan istrinya, Mia, merayakan pembukaan usaha restoran milik mereka di daerah Kemang. Dengan tampilan casualnya dia melangkah menghampiriku yang duduk pada salah satu sudut ruangan. Sendiri.
“Hai ... ketemu lagi.” Reza menyapaku dengan segala pesona yang terpancar. Mungkin dia tidak menyadari pesonanya itu. Mungkin dia merasa sapaan itu adalah hal yang biasa. Atau mungkin, dia hanya ingin bersikap sopan padaku.
“Disuruh sama Joe buat nemenin aku lagi?” Tanpa basa-basi aku langsung menuduhnya mengatakan hal itu, sebab sebelumnya dari kejauhan aku melihatnya bertegur sapa dengan Joe, barulah dia melihatku dan mendekatiku.
“Enggak! Aku tadi cuma ... hei! Kamu merhatiin aku sejak tadi?” Dia mulai balas menuduhku. Mengalihkan tuduhanku sebelumnya. Brilliant!
Aku mendengus kesal sembari menggelengkan kepala pelan. Meraih sebuah gelas wine di hadapanku dan menelan sisa isinya hingga tandas. “Aku cuma nebak aja. Lagi pula apa ada larangan untuk tidak melihat ke arah kamu?”
__ADS_1
Reza terkekeh. Dia langsung duduk berhadapan denganku lalu meraih botol wine dan menuangkannya ke gelas yang masih aku pegangi. Mengisinya hingga penuh lalu merebut gelas itu dan menengak isinya sekali angkat. Aku begitu takjub melihat itu.
“Wow!” seruku tak tertahankan.
“Kenapa?” Sambil meletakkan kembali gelas itu di dekat tanganku yang masih di atas meja.
“Nope!” sahutku dengan membelalakan kedua mataku padanya.
Hingga akhirnya Joe dan Mia menghampiri kami dan mengambil posisi duduknya yang juga berhadap-hadapan di samping. “Kalian nggak mau coba pesan makanan di sini apa?” celetuk Mia yang langsung mengangkat tangannya, memanggil pelayan dengan bahasa isyarat dari tangannya.
“Sebenarnya, aku sudah makan sebelum ke sini. Kalian terlalu mendadak menghubungiku dan menyuruhku segera ke sini.” Aku menjelaskan alasan mengapa semenjak tadi tidak memesan menu makanan apa pun.
__ADS_1
“Kalau ngabarin kamu jauh hari, pasti nggak bakalan dateng. Makanya milih mendadak. Sama kek Reza nih, dia juga wajib undangan mendadak. Soalnya bisa pura-pura amnesia.” Mia meledek Reza terang-terangan, membuat kami semua tertawa lumayan keras. Sedang Reza hanya tersenyum tipis.
“Makanya kalian berdua tuh sebenernya cocok. Nggak beda jauh.” Dengan santainya Joe mengatakan hal itu, membuatku sedikit terkejut. Begitu pula Reza yang serta-merta langsung menoleh, terkekeh garing padanya.
Joe dan Mia mulai memesankan menu andalan di restorannya ini untuk disantap bersama. Hanya butuh waktu 15 menit, semua hidangan tersaji rapi di atas meja makan kami.
“Kalau segini banyak, aku nggak sanggup buat bayar semua!” celetuk Reza.
“Tenang, khusus meja ini gratis!” Joe menimpali, membuat Reza kembali tersenyum. Kali ini bukan senyuman terpaksa seperti sebelumnya, melainkan senyuman manis yang pernah aku lihat sebelumnya. Kedua mataku terus-menerus memerhatikannya. Lelaki dihadapkanku ini sungguh memesona.
Malam itu dia dengan segenap yang ada pada dirinya terlihat begitu menawan di mataku. Gaya rambutnya, senyumannya, cara berpakaiannya, leluconnya, pola pikirnya, caranya menyantap makanan, bibirnya yang menyentuh gelas, semua yang terlihat di mata ini seketika membuatku terhipnotis untuk terus memerhatikan dengan detail. Membuat rasa penasaranku semakin bertambah parah.
__ADS_1
Dan untuk pertama kalinya, aku melupakan diriku yang sudah memiliki kekasih malam itu. Bertingkah layaknya wanita single di depan mereka semua.