Kesempatan

Kesempatan
Chapter 13 : Hubungan Rumit


__ADS_3

“Hati-hati nyetir mobilnya? Jangan ngebut!” pesan ayah.


“Kamu juga jangan tidur selama perjalanan, temenin Reza. Perhatikan juga makan-minum camilan selama diperjalanan,” celoteh bunda.


“Iya, kamu jangan tidur! Temenin ngobrol. Ini paling kalau slow satu jam setengah sudah sampai Jakarta.” Ayah semakin cerewet.


“Ah, Ayah, lagian ini sudah jam sepuluh, jalanan pasti sepi, dan pasti tetep satu jam sampai.” Bunda menambahi.


Aku dan Reza hanya terkekeh geli saat melihat kedua orang tuaku yang ribut itu, padahal kami berdua santai saja menanggapi mereka. Lagi pula jarak antara Jakarta-Bogor tidaklah sangat jauh yang membutuhkan waktu berjam-jam terjebak di dalam mobil.


Namun, begitulah kedua orang tuaku. Mereka posesif dan juga agresif. Terkadang aku yang malu untuk mengenalkan lelaki yang dekat denganku kepada mereka. Aku yang merasa ragu, bukan karena kedua orang tuaku judes atau pemarah, tetapi karena sikap mereka yang kelewat gaul itu. Oleh karena itu, bisa dihitung dengan jari, berapa banyak lelaki yang pernah aku kenalkan dengan mereka berdua. Dan salah satunya adalah Reza. Lelaki terakhir yang dekat denganku saat itu.


Aku juga ingat saat di rumah kedua orang tuaku dulu, bunda selalu memintaku untuk melayani urusan perut Reza. Mulai dari morning drinking hingga sleeping drinking.

__ADS_1


Ya, dari menyiapkan teh panas untuk teman sarapannya, memasak untuk makan siangnya, hingga menyediakan makan malamnya. Begitu pula dengan camilan dan segelas kopi untuknya saat sedang bermain catur dengan ayah di siang hari. Atau saat memancing di sore hari. Aku melayaninya sudah seperti seorang istri, hanya tidak melayaninya untuk urusan ranjang saja.


“Kamu cocok kalau jadi seorang istri,” celetuk Reza saat aku mengantarkan segelas kopi untuknya dan untuk ayah saat mereka memancing di danau belakang rumah, lengkap dengan sepiring singkong goreng, kesukaannya.


Aku mengerucutkan mulutku, mengejeknya yang tidak biasanya berkata manis. “Dih, istri siapa? Kamu? Ogah jadi istri kamu, tiap hari makan hati!” ejekku.


Ucapanku itu sontak membuat ayah tertawa terbahak-bahak, yang juga diikuti dengan gelak tawanya. Tidak biasanya aku melihat ayah bisa serenyah itu tertawa, hanya karena mendengar obrolanku dengan Reza itu.


“Siapa yang nggak berani nikah? Aku cuman lebih selektif, menikah tuh sekali seumur hidup. Aku nggak mau main-main,” sahutku pada akhirnya.


“Semua orang yang nikah, niatnya pasti serius, nggak ada yang main-main.” Reza menjawab lagi.


“Nah, itu tahu. Lagian kalau sudah nikah, ngapain masih mau main-main? Rugi.”

__ADS_1


“Sudah... sudah. Lebih baik kalian pikirkan pekerjaan kalian masing-masing, pikirkan menabung untuk masa depan, pikirkan hal-hal yang lebih rasional. Nanti kalau kalian masih ribut aja, biar ayah yang menikahkan sekalian.” Dengan slow ayahku berucap, membuat Reza yang sedang menyeruput kopi panasnya tersedak seketika. Jebakan batman! Ayah terkekeh geli melihat reaksinya.


Sedangkan aku hanya bisa menggelengkan kepala mendengar lelucon ayah yang sangat garing kala itu. Dengan cepat aku berusaha untuk tidak mengambil hati tentang ucapan Reza sebelumnya, lalu kembali ke dalam rumah, membiarkan ayah dengannya berdua saja.


Berbeda dengan bunda yang selalu bertanya-tanya tentang latar belakang keluarga Reza. Siapa nama orang tuanya? Perkerjaan di mana? Berapa jumlah saudara, dan masih banyak hal lainnya yang dia tanyakan, sudah seperti pegawai pencatatan sipil saja. Semua ditanyakan detail.


Kalau sudah begitu, bagaimana caranya agar tidak malu memiliki kedua orang tua seperti mereka? Kadang mereka sebagai orang tuaku, biasa juga bersikap rasional, dan bisa juga berpikir irasional yang semuanya berlandaskan hati.


Dan aku masih ingat betul saat terakhir pulang ke rumah satu tahun yang lalu, saat aku masih bersamanya dalam hubungan yang tidak jelas.


Hubungan yang sangat rumit menurutku.


***

__ADS_1


__ADS_2