Kesempatan

Kesempatan
BAB 33 | Serangan Selanjutnya


__ADS_3

Chaca melangkah turun sambil mengepalkan kedua tangannya, dengan tatapan yang terlihat seperti ingin membunuh siapa saja yang berani berurusan dengannya atau dengan orang orangnya


“AARRRRGGH!!!!”, teriak mereka dan terus melayangkan kepalan tangannya mencoba untuk menghajar Shena namun satupun pukulan yang mereka layangkan tak dapat mengenai Shena.


“Mereka bukanlah tandingan Shena. Seperti ucapan Shena, anda bisa tenang sekarang”, ucap Kimmi yang bangga melihat Shena bertarung dengan sangat lihai, bahkan satu helai rambutnya tak jatuh dari ikatan di kepalanya. Namun seseorang barhasil mengenai Shena dan membuatnya jatuh.


“Arrhhkk”, serunya kesakitan. Sebuah kesempatan bagi yang lain ketika mereka melihat Shena jatuh, segera mereka menghajar Shena tanpa henti disaat Shena masih berusaha menyeimbangkan tubuhnya.


“Sial!!”, umpat Chaca melihat Shena yang berhasil dihajar oleh mereka, Chaca turun tangan dan ikut bertarung bersama Shena, begitupun dengan Kimmi yang ikut menyerang ketika ia melihat Chaca maju dan menghajar mereka semua. Aksi dari mereka terlihat oleh para pegawai yang terlihat ketakutan saat itu. Kini mereka bertiga menyatukan kekuatan dan menghajar kesepuluh berandal yang datang dan mengacau di perusahaan di siang hari.


“Aku tak pernah menyangka bahwa Bu Cahca mampu bertarung seperti ini”, puji salah satu pegawai


“Mereka bertiga sungguh sangat hebat”, puji karyawan lain melihat kehebatan mereka bertiga dalam bertarunng.


Meski Chaca perempuan namun mereka semua bukanlah tandingan Chaca, tendangan dan juga pukulan yang diberikan Chaca dengan mudah mengenai mereka namun satupun pukulan mereka tak ada yang berhasil mengenai Chaca. Soal bertarung, Chaca mampu melakukannya dengan baik. Tak membutuhkan waktu yang sangat lama, Chaca, Shena dan Kimmi berhasil menumbangkan mereka semua tanpa satupun yang tersisa.


“Semua, apa ada yang terluka diantara kalian?”, tanya Chaca pada seluruh pegawai yang menyaksikannya bertarung bersama Kimmi dan Shena.

__ADS_1


“Kami baik baik saja Bu Chaca, mereka tak melukai satupun dari kamu. Namun para penjaga...”, jawab salah karyawan sambil menunjuk ke arah para penjaga yang masih berusaha untuk bangkit berdiri.


“Berikan mereka semua obat dan pastikan mereka mengobati luka mereka hari ini. Kalian berdua berjagalah disini kalau kalau mereka datang dengan membawa pasukan lebih banyak”, perintah Chaca pada Shena dan Kimmi.


“Tenanglah, saya takkan membiarkan mereka semua melukai kalian. Jadi, kembali bekerja”, seru Chaca pada mereka yang terlihat sangat khawatir dan ketakutan setelah melihat berandal seperti mereka datang dengan tiba tiba dan menyerang perusahaan Chaca.


Pekerjaan yang menumpuk membuat Chaca seringkali tak pulang ke rumahnya, melainkan ke apartemen miliknya yang jaraknya tak jauh dari kantornya, bahkan dari jendela kantornya ia bisa melihat apartemennya yang berjarak tak kurang dari 7 Kilo Meter itu. Tak terasa hari mulai malam, seluruh pegawai telah pulang termasuk Shena dan Kimmi yang ia perintahkan untuk pulang dan tak perlu menemaninya disini. Hari sudah semakin malam dan matahari telah tergantikan oleh bulan yang telah berada di posisi sempurnanya.


Sesekali Chaca melihat ponselnya untuk membalas chat dari Barra dan juga beberapa chat dari client. Satu panggilan masuk ke dalam ponselnya namun Chaca memilih untuk tak menghiraukannya, terkadang ia juga menolak panggilan itu, dia adalah Ryan yang terus mengganggunya tiada henti. Kini Chaca memilih untuk pulang dan beristirahat, menyelesaikan sisa pekerjaannya esok hari. Namun seseorang yang tak ingin ia lihat kini berada dalam basemant, seorang pria menggunaka hoodi abu abu berjalan kesna kemari didepan lift seperti sedang menunggu seseorang.


Trrrrriiiinggg...


Ponsel Chaca kembali berbunyi, Ryan kembali menghubunginya. Sungguh sangat menyebalkan pria ini bagi Chaca namun lagi lagi Chaca tak menanggapinya lalu turun seakan ia tak melihat Ryan, Chaca berjalan perlahan dan ia mencari jalan lain agar ia tak harus bertemu dengan Ryan. Namun rupanya langkahnya terhenti ketika Ryan berlari dan mencengkram lengan Chaca.


“Hah!”, teriak Chaca terkejut seseorang mencengram lengannya.


“Apa ini? Kamu menghindariku?”, tanya Ryan pada Chaca yang terlihat seperti sedang mencari sebuah alasan meski benar bahwa Chaca sedang menghindari Ryan.

__ADS_1


“Apa.. Apa yang kamu lakukan?”, tanya Chaca mencoba melepaskan diri dari Ryan.


“Aku mencoba menghubungimu namun kamu tak menjawabnya, jadi aku kemari saja menunggumu dibasement ini”, jawab Ryan sambil tersenyum.


“Untuk yang terjadi kemarin, maafkan aku. Aku tak bermksud membuatmu takut. Dan siapaun pria itu, tinggalkan dia Cha jika kamu masih mencintaiku”, pinta Ryan. Chaca mengerutkan keningnya mendengar penjelasan Ryan.


“Stop. Hentikan. Biar ku perjelas sekali lagi padamu, hubungan kita telah berakhir. Aku tak lagi mencintaimu Ryan, jadi tinggalkan aku”, tegas Chaca yang kesekian kalinya pada Ryan.


“Aku membiarkanmu tetap berkeliaran di sampingku karena hutangmu yang masih belum lunas terbayarkan, pahami itu. Jangan pernah berpikir bahwa aku masih mencintaimu, itu gila!!”, seru Chaca lalu meninggalkan Ryan sendiri. Namun lagi lagi Ryan berhasil mendapatkan Chaca, ia mencengkram lengan Chaca dan menariknya dekat padanya.


“Aku akan lunasi bulan depan, jika itu sebuah masalah bagi hubungan kita maka biarkan seluruh hutangku padamu ku lunasi namun ku mohon, jangan pernah mengatakan bahwa hubungan kita telah berakhir jika pada kenyataannya segalanya belum berakhir”, pinta Ryan pada Chaca, kini Chaca mulai merasa kesal karena Ryan tak juga mengerti bahwa hubungan mereka saat ini tak ada apa apa, namun ia menahan seluruh perasaan kesal itu dan menelannya kembali.


“Ini bukan tentang hutangmu padaku. Ini tentang hubungan kita yang benar benar telah berakhir. Kumohon pahami itu Ryan, kita telah berakhir sepenuhnya”, jawab Chaca yang kembali melepaskan diri dari cengkaram Ryan. Namun Ryan masih juga tak menyerah, kini ia memeluk Chaca dari belakang dan tak berniat melepaskannya, ia mendekap Chaca erat erat dan tak membiarkan Chaca bergerak sedikitpun.


“Maafkan aku, apapun kesalahanku maafkan aku. Aku tak ingin berpisah darimu, jangan sakiti aku dengan tindakan dan ucapanmu Cha.. Aku sungguh sangat mencintaimu”, seru Ryan dengan terus memeluk Chaca tanpa melepaskannya. Sekuat tenaga Chaca mencoba melepaskan pelukan Ryan darinya dna mendorongnya menjauh dari dirinya.


“Kamu yang lebih dahulu menyakitiku. Kamu dan ...”, teriak Chaca menatap Ryan dengan kebencian yang mendalam, ia tak melanjutkan ucapannya. Ingin rasanya Chaca mengatakan bahwa ia telah mengetahui perselingkuhannya dengan Gina, sahabatnya namun ia mengurungkan niatnya.

__ADS_1


__ADS_2