Kesempatan

Kesempatan
BAB 27 | Penyusup


__ADS_3

Seluruh pengecekan secara menyeluruh dilakukan oleh Shena segera setelah Chaca memberikan perintah padanya, mulai dari seluruh mesin dan juga cctv tak luput dari pengecekannya. Namun ia tetap tak menemukan sebuah keanehan seolah mesin terbakar dengan sendirinya tanpa ada yang memicu. Melihat tak ada satupun keanehan pada seluruh mesin, Shena memilih tetap berada pada ruang kontrol untuk terus memperhatikan rekaman cctv terus menerus hingga akhirnya ia menyadari sesuatu yang menjanggal


“ Apa ini? “ Shena melihat waktu yang menunjukkan 11:30:48 terpotong hingga 11: 42:20


“Lalu mesin terbakar di pada 11:50:10?. Hah !!. Akan ku temukan dia!!”. Seru Shena dengan membunyikan sendi sendi di jari dan pergelangan tangannya seolah bersiap untuk menghajar seseorang.


Tanpa membuang buang waktu lebih banyak lagi, Shena menyusun rencana untuk menangkap seorang penyusup di pabrik. Dalam waktu yang sangat singkat Shena segera meluncurkan aksinya untuk menangkap penyusup itu hari ini juga. Dengan dibantu oleh sang manejer pabrik, Shena mengumpulkan seluruh buruh serta mereka semua yang bekerja di pabrik dan memerintahkan mereka untuk menghentikan seluruh pekerjaan mereka sejenak.


“Apa anda yakin mampu menangkap penyusup itu hari ini juga? Sepertiya mustahil untuk anda lakukan”, ucap sang manejer pabrik pada Shena yang tengah berada dihadapan para buruh dan pekerja pabrik.


“Masalah seperti ini adalah hal yang sangat mudah. Hari ini juga penyusup itu akan tertangkap. Namun kita harus bekerja sama, ketika saya memberikan tanda, perintahkan para penjaga untuk menangkap penyusup itu dengan segera” jawab Shena pada manejer pabrik seolah hal ini sangat mudah untuk dilakukan.


“Seluruhnya saya minta kalian semua untuk tenang”, ucap Shena dihadapan mereka yang tengah gusar.


“Kejadian di hari ini, akan saya selesaikan hari ini juga. Dengar ini penyusup?!! Dimanapun kamu berada sekarang, saya telah mengetahui siapa kamu, kalaupun kamu harus mati sekarang, maka terimalah nasibmu karena tak ada satu orangpun yang dapat menolongmu saat kamu berhadapan dengan saya!!”,ancam Shena sambil memperhatikan seluruh buruh dan pekerja yang kembali merasa gusar. Hal ini sangat bagus untuk Shena karena perangkapnya berjalan dengan sempurna. Ditengah kegusaran mereka terlihat satu orang yang sangat panik dan mencoba melarikan diri dari tempat itu bagaimanapun caranya.


“Gotcha!!”, ucap Shena melihat seorang pria memakai topi yang mencoba melarikan diri. Shena hanya menunjuk dan segera para penjaga bergerak untuk mendapatkannya, namun sebuah perlawanan terjadi, rupanya penyusup itu mampu membela dirinya. Melihat para penjaga yang mulai kewalahan dalam menangkap penyusup itu, Shena berjalan sambil mengepalkan tangannya dan menghantam wajahnya.


“BUUKKK!!” Hanya dengan satu kali pukulan yang sangat kencag mendarat pada wajahnya , penyusup itu berhasil di taklukan oleh Shena.


“Bawa dia dan ikat, sisanya saya yang akan membereskannya!!” perintah Shena pada para penjaga. Shena menatap manejer pabrik dan memberikan isyarat untuk membubarkan mereka semua.

__ADS_1


“Baiklah semuanya, kembali bekerja sebelum waktu kalian habis” perintah manejer pabrik pada seluruh buruh dan pekerja.


...****************...


Bak dalam film, penyiksaan tiada akhir dilakukan oleh Shena namun ia tak pernah membuka mulutnya dan mengakui perbuatannya. Bahkan ia juga menutup rapat rapat untuk siapa ia bekerja. Meski wajahnya babak belur karena dihajar oleh Shena namun pria ini sangat tangguh.


“ Masih tak membuka mulut juga? Cih!! Bernyali sekali!!”, ucap Shena menyeringai lalu kembali menghajar pria itu hingga ia muntah darah. Pria itu terlihat tak kuat lagi menahan siksaan Shena, bahkan untuk bernapas saja susah untuk dilakukannya hingga sebuah pintu terbuka, Chaca datang dan menarik mundur Shena agar ia bisa berhadapan dengan pria yang telah babak belur seperti ini.


“Apa yang kamu lakukan? Mengapa membuatnya babak belur seperti ini? Sudahkan ia mengatakan segalanya?”, tanya Chaca yang melihat kengerian dihadapannya. Ia memakluminya jika Shena yang menghajar.


“Belum. Dia sangat teguh pada pendiriannya, dia tak membuka mulut sama sekali”, jawab Shena.


“Lalu? Mengapa tak menghabisinya saja? Sangat membuang buang waktu kamu hanya menghajarnya begini. Berikan padaku sebuah belatih, jika ia sungguh tak ingi berbicara maka habisi saja. Kita akan mencari tahu dengan cara lain”, ucap Chaca yang membuat pria itu sangat ketakutan bahkan lebih ketakutan daripada ia disiksa oleh Shena.


Chaca menusuk kursi tempat pria itu duduk. Tepat ditengah antara kaki kanan dan kaki kiri yang membuat pria itu semakin ketakutan, dengan tatapan yang ingin membunuh Chaca menarik belatih itu dan menusuknya pada salah satu pangkal paha pria itu yang membuatnya menjerit kesakitan dan perlahan Chaca menariknya agar pria itu merasakan kesakitan yang lebih dari ini.


“Lihat? Mengapa kamu tak melakukannya? Sekarang kita habisi saja dia”, ucap Chaca yang tak terlihat seperti bermain main. Sebuah belatih berpindah pada leher pria itu seolah bersiap untuk menyayatnya.


“Aku tak membutuhkanmu sebenarnya. Aku bisa mencaritahu sediri, jadi selamat tinggal”, ucap Chaca menakut takuti pria itu hingga akhirnya ia membuka mulutnya.


“Ahh.. Ahh.. Baiklah!! Baiklah!!! Aku akan mengatakannya. Namun.. Namun jangan bunuh aku!!” teriaknya ketakutan merasakan belatih menekan lehernya. Ketakutan yang terlihat diwajah pria itu entah mengapa terasa sangat menyenangkan bagi Chaca.

__ADS_1


“Dia seorang wanita... Dengan kacamata hitam didalam mobil, aku.. aku tak pernah melihat wajahnya.. Wanita itu bahkan menghubungiku hanya menggunakan nomor sekali pakai dan hanya dia yang bisa menghubungiku”, jwab pria itu ketakutan.


“Haya itu.. Hanya itu saja yang ku ketahui. Ku mohon lepaskan aku” teriak pria itu menatap ke arah Shena dan Chaca memohon untuk dibebaskan dari siksaan ini.


Pada akhirnya, mereka tak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sudah sampai sejauh ini amun tetap saja mereka tak tahu siapa pelakunya, meski kesal namun Chaca memerintahkan Shena untuk membebaskan pria itu meski ia tak ingin melakukannya.


“Bebaskan dia!!”, perintah Chaca.


“Dia berbohong, sekali lagi. Saya akan membuatnya mengaku siapa wanita itu”, seru Shena yang tak terima pria ini lolos begitu saja.


“Bebaskan saja dia. Kita pasti akan menemukannya, entah dalam waktu dekat atau tidak”, jawab Chaca yang terlihat pasrah. Shena yang tak mampu melawan kehendak Chaca memilih menuruti perintah Chaca dan membebaskannya dengan perasaan tak terima.


“Jika aku bertemu denganmu lagi, aku bersumpah akan membunuhmu, entah kamu membuka mulut atau tetap bungkam bajingan !!”, bisik Shena mengancam pria itu dengan tatapan yang mengerikan. Pria itu berjalan sambil melihat kearah Chaca dan Shena berjaga jaga jika itu hanyalah jebakan menyuruhnya untuk pergi.


“Pergi!!”, teriak Chaca pada pria itu.


Dengan cepat pria itu berjalan dengan menyeret kakinya yang sakit akibat tusukan yang diberikan Chaca pada pangkal pahanya. Merasakan ponselnya berdering, pria itu merogoh ponsel pada saku celananya dan menjawab panggilan itu sambil terus berjalan.


“Saya sudah lolos. Saya tak mengatakan apapun pada mereka seperti perintah anda”, jawab pria itu dengan sangat bangga pada dirinya sendiri karena ia berhasil memegang teguh janjinya. Namun tak sempat wanita itu berbicara, sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju dengan kencang dan menabrak pria itu hingga ia mengeluarkan banyak darah dan mati di tempat. Dengan ponsel yang masih tetap menyala di sampingnya pria itu meminta pertolongan.


“Too.. tollong”, pintanya dengan darah yang terus mengucur keluar dari kepalanya.

__ADS_1


“Ini hukuman karena kamu tertangkap. Kamu kira saya akan percaya bahwa kamu tak mengatakan apapun pada mereka dasar keparat!!” ucap wanita itu lalu ia mengakhiri panggilannya.


__ADS_2