Kesempatan

Kesempatan
BAB 39 | Rasanya Berbeda


__ADS_3

Suasana malam yang cukup sunyi, hanya ada Shena yang setia berada di sisi Chaca yang belum sadarkan diri. Sambil sesekali Shena melirik pada jam jang menempel pada dinding yang menunjukkan pukul enam sore sejak Chaca pingsan tadi, perlahan Chaca menggerakan jemarinya sambil mencoba membuka kedua matanya secara bersamaan, pandangannya yang kabur membuat Chaca tak bisa melihat jelas siap yang sedaang bersamanya saat ini.


“Bu Chaca.. Anda sudah sadar?”, tanya Shena yang melihat Chaca mulai mmebuka kedua matanya, melihat Chaca yang masih belum merespon panggilannya, Shena segera memegang tangan Chaca dan menatapnya.


“Shena. Siapa yang membawaku kemari?”, tanya Chaca dengan kondisi tubuh yang masih lemah tak berdaya, dengan bantuan Shena, Chaca perlahan mulai bangkit dan duduk bersandar.


“Barra yang membawa anda kemari, ia juga meminta saya untuk menghubunginya kembali jika anda sudah tersadar”, jawab Shena sambil memberikan segelas air minum pada Chaca untuk menyegarkan tubuhnya dari dehidrasi..


“Tak perlu, biarkan saja. Besok biar aku yang menemuinya”, balas Chaca lalu meneguk segelas air di tangannya. Baru saja mereka membicarakan soal Barra, sebuah bel berbunyi, Shena beranjak dari tempatnya dan melihat siapa yang datang.


Seorang pria dengan beberapa kantung keresek yang ia bawa ditangannya datang dengan senyum. Barra segera masuk begitu Shena membukakan pintu baginya lalu meletakkan seluruh makanan yang ia bawa ke atas meja makan.


“Apakah Chaca sudah tersadar?”, tanya Barra sambil melepaskan jaket miliknya.


“Bu Chaca baru saja tersadar.” balas Shena melihat ke arah Barra yang tiba tiba saja datang dan meletakkan barang barangnya juga mengambil sesuatu di dapur seperti tempat itu adalah miliknya sendiri. Dengan segera Barra menyiapkan tiga piring makan malam untuknya, Chaca dan Shena.


“Kamu beristirahatlah sejenak dan makanlah. Biar aku yang menemani Chaca sambil makan bersamanya”, ucap Barra dengan membawa dua piring makanan ditangannya dan segera menemui Chaca di kamarnya. Barra melihat Chaca yang masih cukup lemah duduk bersandar sambil memejamkan kedua matanya. Melihat tanda merah yang masih tetap berada di posisinya membuat perasaan kesal Barra kembali menguasai dirinya namun ia berusaha meredamnya mengingat tujuannya kemari adalah untuk Chaca.


“You good?”, tanya Barra sambil meletakkan kedua piring makanan di meja dan duduk di samping Chaca, Barra mengusap lembut surai Chaca sambil tersenyum dengan maksud memberikan sebuah kenyamanan baginya.


“I’m ok. Thank you, you save me”, lirih Chaca dengan suara pelan nan lembut. Barra menghela napas panjang dan memegang tangan Chaca sambil memejamkan kedua matanya lalu mengecup lembut tangannya. Sangat terlihat dari cara Barra memperlakukan Chaca bahwa ia cukup ketakutan dan khawatir tentang pujaan hatinya itu, Chaca seperti bisa merasakan betapa khawatirnya Barra hanya dengan merasakan tiap helaian napasnya.

__ADS_1


“Sangat menakutkan jika hal yang lebih buruk dari ini terjadi padamu Cha. But i promis he will never hurt you again Cha”, lirih Barra dengan lembut sambil memejamkan kedua matanya. Disisi lain Chaca tersenyum dan mengusap lembut wajah pria yang berada dihadapannya itu ketika ia mendengar ucapannya yang mampu menenangkan hatinya.


“Sudahlah. Tak ada yang perlu ditakutkan, aku akan lebih menjaga diri”, balas Chaca singkat. Percakapan singkat mereka tiba tiba membuat perut Chaca berbunyi saat ia mencium aroma sedap sejak Barra masuk kedalam kamarnya dengan membawa dua piring makanan ditangannya.


“Pffttt...”, Barra mencoba menutup mulutnya yang tak bisa menahan tawa mendengar perut Chaca berbunyi dengan kencangnya, segera ia mengambil piring itu dan memberikannya pada Chaca yang sudah kelaparan.


“Astaga, kemu membuatku malu”, gumam Chaca dalam hati sambil terus memegangi perutnya yang terasa sangat lapar sekali. Tak bisa dipungkiri bahwa Barra adalah koki yang sangat hebat, masakan apapun yang dimasaknya selalu sesuai dengan lidah Chaca. Bahkan kini, makanan yang diberikan Barra dengan cepat dihabiskannya entah antara ia kelaparan atau makanan itu memang sangat lezat sekali.


Hari sudah semakin malam ketika Chaca melihat pada jam yang berada di meja sampingnya, segera ia menyuruh Barra untuk lekas pulang.


“Pulanglah, ini sudah malam”, ucap Chaca pada Barra yang sudah sejak tadi mereka bersama dan berbincang bincang.


“Tak perlu, ada Shena yang menjagaku disini. Kamu pulanglah Barra, besok aku akan menemuimu di kafe”, rayu Chaca sambil melemparkan senyumannya pada Barra. Melihat Chaca yang mulai membalas Barra seperti biasanya membuat hatinya sedikit tenang karena Chaca sudah lebih baik dari sebelumnya namun tetap saja, Barra masih terlalu khawatir dengan Chaca meski ia tahu bahwa Shena mampu menjaganya dengan sangat baik.


“Aku sudah menyelamatkanmu, bahkan aku memasak untukmu. Apakah aku menginap saja tak diperbolehkan? Mengapa?”, tanya Barra mencoba berdebat dengan Chaca.


“Kamu gila? Untuk apa kamu menginap? Apa yang akan kamu lakukan?”, tanya Chaca tanpa berpikir apa yang ditanyakannya akan sangat membahayakannya. Barra segera menatap Chaca dengan tatapan seribu makna.


“Menurutmu, ketika seorang pria menginap ditempat wanita yang dicintainya, apa yang akan terjadi? Maka itulah yang akan ku lakukan”, ucap Barra mencoba menggoda Chaca , melihat wajah Chaca yang terlihat sedikit terkejut dengan ucapannya, membuat Chaca menyilangkan kedua tangannya lalu memalingkan pandangannya dari Barra.


“Hahahah...”, Barra terkekeh melihat tingkah lucu Chaca yang menyilangkan kedua tangan seperti menutupi bagian dadanya. Perutnya sampai sakit melihat Chaca yang berpikir bahwa dirinya akan berbuat yang macam macam pada Chaca.

__ADS_1


“Aku takkan melakukannya, tenang saja. Tak mungkin aku melakukannya Cha. Kecuali, jika kamu mengijinkannya”, sambung Barra sambil mendekat pada Chaca dan kali ini tatapannya cukup serius. Chaca mendorong Barra menjauh darinya karena jantungnya telah berdetak sangat kencang dari sebelumnya.


“Hah.. Sangat disayangkan. Baiklah aku akan pulang, namun sebelumnya kamu harus membayarku atas apa yang telah ku lakukan padamu”, tambah Barra sambil berdiri dan melirik pada Chaca.


“Jadi? Aku harus membayar? Baiklah, berapa yang harus ku bayyy...” belum sempat Chaca meneruskan ucapannya, bibir Barra telah mendarat pada bibir lembut milik Chaca dan perlahan melumt bibir Chaca dengan lembut.


Jantung Chaca seakan berhenti berdetak untuk sekejap merasakan sesuatu yang aneh menempel di bibirnya. Rasanya sangat berbeda dibandingkan saat Ryan yang melakukannya, perlahan Chaca menutup kedua matanya membiarkan Barra bermain dengan bibirnya.


“Sangat berbeda. Aku merasakan cinta disetiap sentuhan Barra”, gumamnya dalam hati. Barra menghentikan aksinya dan mengecup kening Chaca dengan sangat lembut.


“Ini bayaranku”, bisik Barra pada Chaca.


Mata mereka berdua saling bertemu, rasanya Chaca tak ingin membiarkan Barra pergi meninggalkannya dan Barra pun tak ingi beranjak dari sisi Chaca namun, Chaca takut jika terjadi hal yang tak diinginkan jika ia membiarkan Barra tetap berada di sini.


“Aku pulang. Ku tunggu besok sesuai janjimu”, ucap Barra melambaikan tangan pada Chaca yang sedang bersandar.


Barra melangkah keluar dari kamar Chaca dan melihat Shena duduk ditemani dengan beberapa minuman keras bersamanya. Melihat nikmatnya Shena meminum minuman itu membuat Barra meninginkannya juga, ia mengambil sebuah gela dihadapan Shena dan meneguk segelas wine untuk merasakan kenikmatannya.


“Pulanglah, bukankah Bu Chaca menyuruhmu pulang?”, ucap Shena yang melihat Barra dihadapannya.


“Jaga dia baik baik, jika terjadi sesuatu cepat hubungi aku”, ucap Barra pada Shena lalu mengambil jaket dan kunci mobilnya dan ia pergi keluar dari apartemen milik Chaca.

__ADS_1


__ADS_2