Kesempatan

Kesempatan
BAB 47 | Kebenaran yang Salah


__ADS_3

Sebuah pelukan hangat Chaca berikan pada ibunya yang saat ini sedang duduk bersantai sambil memainkan ponselnya menunggu kepulangan suami dan juga anak semata wayangnya.


“Sudah pulang? Bersihkan dirimu, sebentar lagi papa pulang. Mari kita makan malam bersama”, ucap Bu Sinta lembut pada Chaca yang sedang memeluknya dari samping. Chaca membenamkan wajahnya pada pelukan sang ibu yang berhasil membuatnya nyaman untuk sesaat.


“Biarkan Chaca seperti ini sebentar saja mama. Chaca sangat merindukan mama”, balas Chaca yang mengganti posisinya, kini ia bak anak kecil yang tak ingin berpisah dari pelukan ibunya, Chaca memejamkan kedua matanya dan menikmati hangat dan nyamannya pelukan ini.


“Hari yang Chaca lewati akhir akhir ini sangat sulit dan penuh tantangan mama. Chaca bahkan tak pernah berpikir bahwa Chaca mampu melewatinya hingga detik ini. Rasanya, Chaca sungguh lelah mencari sebuah jawaban dari seluruh pertanyaan yang ada di benak Chaca. Rasanya Chaca sungguh tak sanggup lagi mama, Chaca ingin menyerah”, lirihnya mengadu pada ibu yang saat ini ia peluk.


Chaca bukanlah gadis manja ataupun gadis lemah. Namun, dirinya benar benar dalam titik yang berat. Sebuah jawaban yang ia dapatkan saat ini rasanya bukan apa yang ia cari, kebenaran yang ia lihat tepat didepan matanya terasa seperti bukan kebenaran yang sebenarnya. Satu butir air matanya berhasil lolos ketika ia berusaha mencegahnya untuk keluar, namun pelukan hangat ibunya berhasil merobohkan tembok kokoh yang Chaca bangun.


“Mama tahu hidup yang kamu jalani sungguh berat. Tanggung jawab besar berada di pundakmu menanti untuk kamu selesaikan. Selama ini kamu sudah menunjukkan betapa hebatnya seorang Chaca Subroto, disaat kamu ingin menyerah ingatlah saat pertama kali kamu memulainya, ingatlah apa yang membawamu sampai ke titik ini, maka rasa menyerah itu akan hilang dan kamu akan kembali bangkit dan menyelesaikannya Cha”, ucap ibunya sambil membelai lembut surai Chaca yang berada dipelukan ibunya. Bu Sinta membiarkan Chaca seperti ini sampai ia merasa tenang dan lebih baik lalu membiarkannya masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.

__ADS_1


Pertarungannya seakan belum berakhir, Chaca mulai merenungi segalanya, rasanya segalanya tak mungkin selesai dalam waktu satu bulan saja. Sejak ia masuk ke dalam dimensi waktu yang berbeda masalah tiada henti datang dan menyerangnya, bak petarung yang terus dihajar ketika dirinya telah diambang batas dan terus saja dipaksa untuk melawan juga bertahan.


“Ah.. Aku lelah, aku sungguh lelah”, ucapnya seraya merebahkan dirinya di ranjang tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Rasa lelahnya berhasil membuat Chaca terlelap dan tertidur, seperti kembali memasuki dimensi waktu Chaca melihat kembali dirinya yang jatuh tersungkur dan menangis ketika ia melihat pabrik miliknya yang ia bangun dengan hasil keringatnya sendiri rata dengan tanah. Tak ada satupun bukti yang dapat ia gunakan sebagai sebuah petunjuk saat itu.


Air matanya kembali menetes mengingat betapa sakit dan hancurnya ia ketika dirinya melihat kerja kerasnya telah rata dengan tanah.


“Aku takkan pernah melupakan rasa sakit ini sampai kapanpun”, lirih Chaca sambil menangis melihat dirinya yang sedang menjerit dan menangis di pabrik itu. Hingga tiba seorang pria tua datang lalu berdiri tepat di sampingnya, sang sopir taksi yang saat itu mengantarkannya masuk kedalam dimensi lain kini berdiri di sampingnya.


“Semua telah selesai, aku telah mengetahui siapa yang berani mengusik hidupku dan meruntuhkan seluruh mimpi dan harapanku saat itu”, balas Chaca dengan mengepalkan kedua tangannya menyatukannya dengan rasa sakit dihatinya. Namun pria tua di sampingnya menggelengkan kepalanya, membuat Chaca sedikit bingung.


“Tidak Chaca, bukan mereka yang bermain main dengan hidupmu, bukan mereka yang menghancurkan impian yang susah payah kamu bangun”, jawab pria tua itu pada Chaca dengan nada yang lembut.

__ADS_1


“Waktumu masih tersisa dua bulan lagi untuk mencari tahu kebenarannya, gunakan dengan sebaik baiknya. Kini tenanglah dan susun rencanamu sebaik mungkin, aku akan memberikan sebuah petunjuk untukmu. Semua yang terjadi tak jauh dari orang terdekatmu”, ucap pria tua itu dan menghilang begitu saja.


“AAAHHH!!!!” Teriak Chaca yang terbangun dari tidurnya, keringat yang membasahi wajah dan juga tubuhnya, jantungnya berpacu dengan sangat cepat kala itu ketika ia bangun dari tidurnya. Ia melihat jam yang menempel di dinding, menunjukkan pukul dua pagi.


“Haahh.... Haahh... Haahh....”, napasnya terengah engah, Chaca mencoba menenangkan dirinya dan dari mimpi yang baru saja ia dapatkan.


“Apa maksud pria tua itu? Semua yang terjadi tak jauh dari orang terdekatku? Sial, apa maksudnya itu?”, seru Chaca dengan sedikit mengumpat karena ia masih tak paham dengan sebuah petunjuk yang baru saja ia dapatkan.


Waktu berlalu dengan begitu cepat, begitu juga dengan matahari yang tiba tiba mulai menampakkan sinarnya dan masuk menempus jendela Chaca yang tak tertutup tirai dengan sempurnya, Chaca duduk dan melihat pada satu titik memikirkan semua hal yang telah terjadi selama satu bulan ini dari suuh hingga pagi.


“Haruskah aku kembali ke rencana awal? Ku kira segalanya telah selesai namun nyatanya tidak. Jika dugaanku salah, lalu siapa dalang dibalik kebakara pabrikku? Siapa yang berani bermain main dengan ku?”, geramnya dengan tatapan mata yang cukup menyeramkan dan tidak bersahabat.

__ADS_1


__ADS_2