Kesempatan

Kesempatan
Chapter 11 : Bertemu Kembali


__ADS_3

Saat aku dan Putra sedang asyik berbincang tiba-tiba lonceng di atas pintu kedai berbunyi, membuat kepalaku dan kepala Putra spontan menoleh ke arah pintu tersebut. Betapa terkejutnya aku saat melihat sesosok pria yang berdiri di balik pintu kaca itu. Siapa lagi kalau bukan Reza.


Bagai disambar petir di siang bolong, seketika itu pula desiran darahku mengalir lebih cepat dari sebelumnya, dengan jantung yang memompa begitu kuat. Untuk beberapa saat napasku sempat terhenti dengan kedua mataku yang menatapnya lekat. Begitu pula sebaliknya, lelaki berdada bidang itu terlihat tidak kalah terkejutnya denganku, bahkan dia sempat mematung untuk beberapa detik hingga akhirnya pandangan mata kami saling bertemu.


Sialan! Rutukku dalam hati.


Setelah sekian lama aku menghindari, mengapa malah saat ini bisa bertemu lagi? Dan mengapa harus di tempat ini? Tempat di mana lelaki itu menyakiti hatiku dengan keputusan bodohnya. Akhirnya apa yang aku khawatirkan sedari awal terjadi. Apa begini cara kerja Tuhan? Selalu cepat mengabulkan perihal yang membuat kepala ini pusing tak tertahankan?


Perlahan pria itu berjalan mendekati meja bar di mana aku dan Putra berada, membuat Putra dengan cepat berdiri dari kursinya dan menyapa pria itu begitu ramah. “Hai, Za! Apa kabar?” sapa Putra pertama kali begitu jarak kami dengannya hanya kurang dari semeter saja.


Aku langsung mengalihkan pandangan mataku, meraih gelas kopiku lalu menggoyangkan isinya. Pura-pura mengaduk minuman itu lalu menelan beberapa teguk. Dalam sekejap aku memang langsung merasakan tenggorokanku yang kembali kering kerontang. Sudah seperti padang gurun pasir yang tandus.


“Baik. Baik, kok!” sahutnya lalu menarik kursi bekas tempat duduk Putra tadi, sedangkan Putra kini sudah berdiri di balik meja bar, bersiap untuk kembali melayani. “Maaf ... boleh aku duduk di sini?” ucap Reza lagi, kali ini lelaki itu berbicara padaku, meminta izin dariku.


Aku menoleh dan mengangguk, lalu kembali meletakkan gelas dalam genggamanku. Sial! Kenapa juga Putra harus menyajikan kopi sebanyak ini padaku? Bukankah tidak mungkin jika tiba-tiba saja aku menyudahi waktuku di tempat ini? Apalagi dengan kondisi isi gelas kopi yang masih ada lebih dari setengahnya. Lantas, apa aku harus berlama-lama di sini? Bisa gila aku jika terlalu lama!


“Mau minum apa?” tanya Putra. Mata ini sempat melirik ke samping dan melihat lelaki itu juga sedang memandangiku, membuat aku semakin risih.

__ADS_1


“Kayak biasa,” sahutnya.


“Salted coffee ice?” tanya Putra lagi untuk memastikan.


Kali ini tidak ada jawaban dari mulutnya yang terdengar dan dengan spontan aku menoleh kepadanya. Lagi-lagi pandangan mata ini saling bertabrakan lalu sekian detik kemudian sama-sama membuang arah. Sungguh terasa canggung bagiku. Tenggorokan ini selalu terasa kering-kerontang hingga aku kembali meraih gelas dan menyesap minuman dingin itu.


“Iya, aku pesan itu aja,” jawab Reza.


Dengan cekatan, Putra langsung bergerak untuk membuatkan minuman yang diinginkan oleh Reza. Meninggalkan kami dalam situasi yang tidak nyaman. Mungkin aku saja yang merasakan tidak nyaman, sedangkan lelaki itu biasa saja, entahlah. Perasaan ini sangat kacau, benar-benar di luar prediksiku.


“Baik,” ucapku pelan.


Detak jantungku semakin cepat, aku sungguh ingin cepat pergi dari hadapannya. Aku ingin pulang. Tidak tahan rasanya jika aku harus berlama-lama di sini, kondisi hatiku bagaikan luka yang hampir mengering, tetapi kini malah kembali terkoyak. Perih. Dan aku tidak ingin luluh begitu saja, seperti saat di awal perkenalan kami. Sebab aku tahu bagaimana harus menjaga jarak dengannya, membunuh perasaan dalam hati ini agar benar-benar mati.


Aku menengak habis long black orange dalam gelas di depanku, berniat segera pergi. Jujur, aku trauma untuk datang lagi ke kedai ini untuk beberapa bulan ke depan. Aku trauma untuk kembali bertemu dengannya di sini. Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi.


“Berapa, Put?” tanyaku saat Putra menyajikan minuman milik Reza. Mereka berdua dengan spontan menatapku secara bersamaan.

__ADS_1


“Mau ke mana?” tanya Reza.


“Pulang.”


“Aku baru datang.”


“Aku sudah lama di sini. Berapa, Put?” Aku tergesa-gesa menyahuti perkataan lelaki itu.


Namun, Putra sepertinya paham dengan kondisi yang aku alami, sebab sedari tadi ia terus memerhatikan aku dan Reza yang terlihat canggung, tidak seakrab dahulu. Dan dengan gesit pula, Putra langsung mencetak nota yang aku pinta. Tanpa berbelit, aku langsung membayar minumanku lalu berpamitan untuk pulang.


“Makasih ya, Put!” ucapku pada Putra. “Duluan ya!” Aku menoleh dan mengatakan itu untuk Reza, kemudian melangkah pergi.


Tidak ada yang lain yang aku pikirkan saat ini selain sesegera mungkin untuk melangkah pergi. Dan untungnya Reza tidak menahanku ataupun berkata apa-apa lagi yang dapat membuat aku hilang kendali. Dengan langkah mantap aku keluar dari kedai itu, berharap agar setelah ini aku dapat berdiri tegap jika bertemu dengannya. Berdo’a semoga cukup hari ini saja aku kembali merasakan perihnya kalimat perpisahan yang ia ucapkan dulu.


Kalimat yang sanggup membuatku meneteskan air mata, hingga detik ini.


***

__ADS_1


__ADS_2