
Namun dia datang. Dengan segala bentuk amarah yang terpancar di wajahnya ia mencoba masuk ke dalam perusahaan ketika larut malam dan memergoki Chaca sedang bersama seorang pria asing didalam ruangannya. Ryan datang dan mendekat pada Chaca dan Barra yang sedang duduk bersebelahan, ia melihat Chaca tersenyum dengan sangat menawan pada pria yang bukan kekasihnya. Tatapan tajam ia berikan pada Barra seakan ingin menantangnya.
“Apa yang kamu lakukan di kantorku malam malam begini?”, tanya Chaca yang tak senang melihat Ryan yang datang dengan amarahnya.
“Apa yang kamu lakukan malam malam dengan pria yang bukan kekasihmu?”, jawab Ryan sambil menunjuk ke arah Barra yang berdiri disamping Chaca. Seperti tak ingin kalah dari Ryan, Barra pun melemparkan tatapan tajam seolah tak takut dengan Ryan yang saat ini sedang mengamuk. Entah bagaimana ia tahu bahwa Chaca masih berada di kantornya larut malam begini dengan ditemani seorang pria asing baginya.
“Apa hak mu mencampuri urusanku? Sekarang pergilah!!”, geram Chaca mengusir Ryan dari ruangannya.
“Aku kekasihmu sedangkan dia siapa? Kamu selingkuh dengannya?”, tanya Ryan kembali dengan kesal sambil membolakan kedua matanya dan menaikkan nada bicaranya pada Chaca.
“Kekasihmu? Hubungan kita telah berakhir sejak kedua orang tuamu merendahkanku. Bukankah sudah ku katakan bahwa hubungan kita telah berakhir?”, tegas Chaca pada pria yang berdiri dihadapannya. Ucapan Chaca membuat Ryan berhenti berbicara dan menatapnyaa dalam dalam, dengan segera Ryan menarik lengan Chaca dan menyeretnya keluar bersamanya. Chaca mencoba melepaskan diri namun Ryan memiliki tubuh yang lebih besar darinya. Hingga satu hantaman mendarat pada wajah Ryan yang meninggalkan bekas memar dengan segera pada ujung bibirnya.
BUUKGHH!!!
Segera Barra menarik Chaca dan menyembunyikannya dibalik tubuhnya yang tak kalah besar dari Ryan, kini ia bersungguh sungguh dalam menghadapi Ryan, matanya menatap tajam Ryan dan ia menggulung naik kemejanya.
“Jangan ganggu wanitaku!!”, ucap Barra dengan wajahnya yang sangat membenci sikap Ryan pada Chaca dan satu hantaman kembali diterima oleh Ryan. Kini mereka saling beradu kekuatan namun sayangnya Ryan tak bisa menandingi kekuatan Barra.
“Pergi dan jangan ganggu Chaca lagi!!”, hardik Barra dengan sangat marah.
“Ini bukan yang terakhir Cha, aku akan mendapatkanmu kembali bagaimanapun caranya”, seru Ryan sambil memegangi perutnya yang sakit akibat pukulan keras yang diterimanya dari Barra.
__ADS_1
Chaca diam dan mencoba mengatur napasnya. Dirinya tak pernah mengira bahwa Ryan akan datang selarut ini dan menantang Barra. Ia juga mengancam Chaca, meski Chaca tak takut dengan ancaman sederhana dari Ryan, yang ia takutkan adalah Barra turun tangan dan menghajar Ryan seperti saat ini.
“Mengapa kamu menghajarnya sampai seperti itu? Jangan lagi melakukannya Barra”, ucap Chaca sambil mengusap wajahnya. Ucapan Chaca membuat Barra sedikit berpikir dan mengerutkan keningnya.
“Ada apa? Kamu masih mencintainya? Aku menghajarnya karena dia menyakitimu, dan lagi dia juga mengancammu bagaimana aku bisa tenang melihatmu disakiti bahkan diancam oleh bajingan itu?”, jawab Barra mengkhawatirkan Chaca yang terlihat ketakutan.
“Aku tak mencintainya, aku hanya taut kamu terluka karena meladeni tindakan bodohnya itu. Untuk apa membuang waktu dan tenagamu untuknya?”, balas Chaca sambil memegang tangan kanan Barra yang terlihat memar karena menghajar Ryan berkali kali.
“Lihatlah, kamu terluka”, sambung Chaca menatap pada luka memar Barra dengan khawatir.
Sungguh menggemaskan di mata Barra disaat Chaha memeriksa tangan kanannya yang memar sambil mengkhawatirkannya, ia berharap bahwa waktu berhenti untuk sekejap saja agar ia bisa menikmati momen ini berdua bersama Chaca.
“Dapatkan dia, bawa dan seret dia dihadapanku. Sungguh bernyali sekali dia berani mencuri apa yang seharusnya tak ia ambil”, perintah Belalang Merah pada seluruh anak buahnya. Dalam markasnya yang berada di sebuah tempat yang terlihat seperti pabrik, Belalang Merah menyembunyikan dirinya bersama seluruh anak buahnya.
“Biarkan saya yang menyeretnya kemari”, sahut Nomer 1 menjawab perintah dari Belalang Merah. Namun Belalang Merah menggelengkan kepalanya dan tak mengijinkan Nomer 1 untuk meinggalkan markas, mengingat beberapa musuhnya telah melihat wajah aslinya.
“Jangan berani kamu meninggalkan markas tanpa seijinku, atau ku patahkan lenganmu!!”, ancam Belalang Merah pada Nomer 1.
Perintah dari Belalang Merah segera dilakukan oleh anak buahnya, dengan sangat berisik dan kampungan merak mendatangi perusahaan Chaca, menghajar seluruh bagian keamanan dan semua orang yang berani menghalangi jalan mereka, sampai akhirnya mereka bisa menerobos masuk kedalam perusahaan Chaca siang itu. Sungguh gila tindakan mereka semua.
“Chaca Subroto!!!”. Teriak salah seorang dari mereka dengan suara yang kencang dan menakutkan, membuat seluruh karyawan menyingkir ketakutan.
__ADS_1
“Keluar atau ku bakar habis perusahaanmu!!”sambung pria itu yang terlihat tak sedang main main dengan ucapannya. Kedatangan mereka sampai pada kantor Chaca yang berada di lantai paling atas.
Disisi lain, Shena yang melihat kegaduhan itu memerintahkan Kimmi untuk segera melaporkannya pada Chaca dan memintanya untuk tenang dan tak menghampiri mereka apapun yang terjadi.
“Pergilah pada Bu Chaca, sampaikan bahwa perusahaan dipenuhi dengan gelandangan. Aku yang akan membereskan mereka semua, katakan jangan khawatir”, perintah Shena pada Kimmi.
“Apa? Lalu dimana para penjaga? Mengapa mereka diam saja?”, tanya Chaca panik dan terkejut mendengar kabar yang menjengkelkan seperti ini.
“Mereka semua tak sadarkan diri karena serangan mereka. Saat ini Shena sedang berada di bawah dan menghadapi mereka semua seorang diri”, jawab Kimmi melakukannya seperti yang diperintahkan seniornya.
“Berapa orang?”, tanya Chaca mencoba untuk tenang
“”Sekitar dua puluh orang”, jawab Kimmi singkat.
BRRAAKK!!!!
Gebrakan meja yang sangat kencang terdengar hingga keluar kantornya. Chaca membolakan kedua matanya mendengar bahwa Shena sedang menghadapi 20 orang sendirian. Segera Chaca melangkah untuk turun ke bawah dan menghabisi mereka yang membuat masalah di parusahaannya dan berani menyakiti orang orang Chaca.
“Bu Chaca. Shena berpesan untuk tak khawatir, ia akan selesaikan segalanya”, ucap Kimmi menghalangi langkah Chaca yang ingin turun dan menampakkan dirinya pada mereka.
“Tidak. Takkan ku biarkan mereka berani menyakiti orang orangku. Kamu tinggal aatu ikut denganku?”, tanya Chaca sambil terus melangkahkan kakinya keluar untuk menghampiri mereka, bersama Kimmi yang ikut dibelakang Chaca. Kini Chaca sangat terlihat menyeramkan ketika ia mengetahui Belalang Merah terang terangan menyerangnya secara langsung.
__ADS_1