Kesempatan

Kesempatan
Chapter 7 : Usaha Sandra


__ADS_3

Aku terkekeh pelan saat semua kejadian itu kembali muncul di ingatanku. Hingga membuat Sandra menjentikkan jarinya untuk membuatku kembali sadar. Kedua sudut bibirku tertarik sempurna sambil menatapnya yang dengan wajah bingung memandangiku. Baru sedikit kalimat aku baca dari novel yang terbuka di tangan ini, malah membuat ingatanku jauh melayang, terus terbayang kisah masa lalu.


“Dih! Kamu freak banget loh, sumpah!” tegur Sandra heran sambil mengernyitkan alisnya. “Kenapa sih?”


“Enggak apa-apa. Ini novelnya lucu.” Aku beralasan.


Sandra mencebik kesal sambil menggerutu. Sepertinya pekerjaannya telah selesai, sebab dia sudah menutup laptopnya sedari tadi. Dia juga mulai menikmati sepotong cake yang dia pesan sebelumnya, red velvet. “Pekerjaan kamu udah kelar?” Aku bertanya padanya yang sedang menatapi isi piringnya. Dia mengangguk.


“Adell!” Tiba-tiba ada seseorang yang menyerukan namaku, layaknya memanggilku seakan terkejut. Aku menoleh ke arah sumber suara itu dan mendapati seorang lelaki bernama Bobby. Dia ternyata, pemilik suara yang begitu terdengar khas di telingaku.


Bobby adalah seorang temanku. Ah bukan, lebih tepatnya teman Reza yang akhirnya juga menjadi temanku karena kejadian di masa lalu.


Sebuah senyuman aku kembangkan untuknya yang berjalan menghampiri lalu menyapanya. “Hei! Apa kabar?”

__ADS_1


“Baik.” Dia menyodorkan tangannya yang dengan refleks jemariku menyambutnya. “Kamu gimana kabarnya? Berdua aja? Reza mana?” cercanya bertanya.


Sial! Aku merutuk dalam hati. Mengapa pertanyaan itu harus muncul di saat seperti ini? Aku kembali tersenyum, kali ini senyuman terpaksa sambil melirik Sandra sesekali yang juga ikut tertawa pelan. Entah menertawakan apa. “Aku baik. Iya kami cuman berdua aja.”


“Istirahat jam kantor, ya? Sudah lama aku enggak ada lihat Reza, dia akhir-akhir ini jadi jarang ikutan ngumpul kek dulu.” Bobby bercerita sedikit.


“Oh, ya? Aku juga sudah lama enggak ketemu dia. Jadi kurang tahu juga sih,” jawabku berusaha sopan.


“Loh, bukannya kalian selalu bareng, ya?”


“Iya sih, tapi kalian baik-baik aja, ‘kan?”


Aku hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Kemudian Bobby sengaja berpamitan karena istrinya sudah memanggil. Ya, Bobby memang sudah memiliki istri. Dahulu, Reza pernah membawaku ke rumahnya beberapa kali, hanya sekedar untuk bersantai saat istrinya keluar kota.

__ADS_1


Selepas menghilangnya Bobby dari balik penyekat ruangan, bayang-bayang Reza kembali membelenggu pikiranku. Tidak hanya gambaran wajahnya, melainkan seluruh sikap yang pernah ia tunjukkan padaku dulu, seketika memenuhi isi otak ini. Membuatku langsung termenung hingga akhirnya kembali mengingat di mana saat Reza meminta untuk mengakhiri kedekatan kami.


“Del! Adella!” panggil Sandra menyadarkanku dari lamunan tragedi kesedihan beberapa waktu yang lalu.


“Apa?” Aku menatapnya.


“Masih nggak bisa lupain Reza?” tanya Sandra polos.


Aku menghela napas dengan kasar, menundukkan kepala menatap gelas minumku yang berisikan coffee latte.


“Kamu belum pernah cerita lagi tentang Reza. Terakhir, beberapa bulan yang lalu, kamu bilangnya mau ketemuan sama dia. Trus setelah itu, kamu nggak pernah mau bahas tentang dia lagi. Padahal sebelumnya selalu nama dia yang kamu sebut.” Sandra mulai mencercaku dengan pertanyaan menusuknya.


“Aku sudah nggak mau bahas itu lagi.” Aku menundukan wajah, menatap kosong ke arah gelas minumku.

__ADS_1


“Kamu berubah sejak itu, Del! Lebih banyak pendiam dan selalu pulang lebih cepat. Setelah berbulan-bulan, baru kali ini kamu mau aku ajak untuk keluar lagi dari kantor dan apartemen.” Sandra berusaha sekuat tenaganya, agar aku mau menceritakan bagian yang hilang dari hidupku itu.


__ADS_2