
Nyatanya Ryan tak sendirian, ia menyewa sekumpulan preman yang menjaga tempat itu didepan sedangia terus saja memandangi Chaca hingga efek obatnya habis dan ia tersadar. Dari jauh terdengar suara mobil yang melaju sangat kencang, sebuah mobil mewah berhenti didepan gedung dan disambut oleh para preman yang membawa beberapa senjata seperti tongkat kayu dan juga sebuah rantai, seorang wanita turun dari mobil itu sambil menatap tajam semua preman yang berdiri menyambutnya dengan senjata yang mereka pegang.
“Lihatlah siapa yang datang. Seorang gadis kecil”, ledek salah satu preman itu dan mereka semua menertawai Shena dengan sangat kencang. Shena hanya menyeringai mendengar mereka semua menghinanya tanpa tahu siapa dia sebenarnya.
“Sungguh kalian semua sampah tak berguna!!”, balas Shena menghina mereka semua yang terlebih dahulu menantangnya.
“Mari kita lihat apakah kehebatanmu sama seperti ucapanmu yang sangat berani itu”, balas salah satu dari mereka. Tanpa berkata kata lagi Shena mengambil sebuah tongkat kayu yang ia lihat untuk dijadikannya sebagai sebuah senjata untuk melawan mereka semua, Shena maju dan mulai menghajar satu demi satu dari mereka. Kekuatan mereka yang cukup kuat membuat Shena sedikit kewalahan menghadapai mereka, meski begitu Shena bukanlah lawan yang mudah untuk mereka semua kalahkan, satu demi satu pukulan dan hantaman diberikan Shena pada mereka dan satu pun pukulan ari mereka tak ada yang berhasil mengenainya.
“Sial, dia sangat kuat”, geram salah satu preman itu yang melihat kawanannya perlahan dikalahkan dengan sangat mudahnya. Ia bahkan tak melihat satu pun luka pada Shena yang sedang bertarung habis habisan itu, meski mereka semua hampir dikalahkan sepenuhnya oleh Shena namun mereka mampu bangkit kembali dan berdiri melawan Shena dengan kekuatan yang sama. Sungguh tak adil bagi Shena yang melawan mereka seorang diri.
Dari dalah gedung paling atas, Ryan terus saja mendengar sebuah keributan yang tak ada hentinya, membuatnya sedikit menengok ke bawah memastikan apa yang sedang terjadi.
“Ha? Bagaimana bisa dia ada di sini?”, seru Ryan terkejut. Matanya terbelak melihat Shena yang datang dan melawan para preman yang ia sewa untuk menjaga gedung yang ia gunakan.
“Hah!! Apakah dia bisa mengalahkan mereka semua seorang diri? Dasar bodoh !!”, ucap Ryan meremehkan Shena
“Sungguh sangat sulit untuk dapat memilikimu seutuhnya Cha, apa yang harus ku lakukan padamu agar kamu menjadi milikku sepenuhnya? Haruskah aku melakukan hal yang tak pernah ku lakukan padamu?”, tanya Ryan pada Chaca yang masih saja terpengaruh oleh obat tidur, perlahan Ryan mulai ******* bibir Chaca yang tak sadarkan diri itu dengan lembut dan berubah menjadi sebuah ciuman panas hingga akhirnya Chaca tersadar. Ia melihat seorang pria yang berada tepat dihadapannya dan sedang melamut bibirnya dengan sangat rakus.
“Hmmbbb... Hmmbbb”, seru Chaca mencoba untuk melepaskan diri namun kedua tangan dan kakinya terikat hingga ia tak bisa melakukan sebuah perlawanan.
“Sialan, apa yang dilakukannya padaku!!”, batin Chaca yang masih tak bisa bergerak. Sampai Chaca menggigit dengan keras bibir Ryan yang membuatnya melepaskan pautannya atas Chaca karena bibirnya digigit hingga berdarah.
__ADS_1
“Dasar ******!! apa yang kamu lakukan?”, geram Ryan pada Chaca sambil memegangi bibirnya yang berdarah akibat ulah Chaca.
Chaca terus berusaha untuk melepaskan kedua tangannya yang terikat keatas dengan sebuah tali tampar. Namun berapa kalipun ia mencoba tangannya semakin sakit ia rasakan.
“Lepaskan aku sialan!!”, umpatnya pada Ryan dengan membolakan kedua matanya. Amarahnya yang memuncak membuatnya berteriak dengan kencang sambil terus menarik kedua tangannya agar tali yang mengikatnay dapat terlepas, namun segalanya tetap sia sia.
“Apa yang bisa kamu lakukan sekarang? Tidak ada. Jadi serahkan dirimu sepenuhnya padaku dan ku berikan sebuah kebebasan padamu. Mudah bukan?”, seru Ryan menatap pada Chaca dengan tatapan yang menyeramkan, sebuah tatapan yang tak pernah Chaca lihat sebelumnya.
“Jangan beranai mendekat padaku. Aku bersumpah setelah aku bebas aku akan menguburmu hidup hidup!!”, teriak Chaca meluapkan kekesalannya pada Ryan yang telah berani membohonginya bahkan menjebaknya, ditambah dirinya berani melakukan hal menjijikan ini pada Chaca.
“Sudahlah, meski aku akan melakukannya padamu saat ini, kamu takkan bisa menghindar bukan? Turuti saja aku sayang”, seru Ryan dengan sangat menyeramkan, Ryan perlahan melangkah mendekat pada Chaca dan kembali mencium Chaca dengan sangat rakus, ciuman itu perlahan berpindah ke leher hingga menyisakan beberapa bercak berwarna merah disekitar leher mulus milik Chaca.
Dari arah luar, Shena sudah mulai kehilangan tenaganya karena melawan mereka semua yang seperti tak ada habisnya hingga ia mendengar sebuah mobil yang melaju sangat kencang berhenti dihadapannya. Shena tersenyum menyadairi siapa pemilik mobil itu.
“Jangan hiraukan aku. Bu Chaca disandra oleh bajingan tengik di atas. Cepat selamatkan dia, aku mampu menangani mereka seorang diri”, seru Shena yang melepaskan diri dari Barra ketika sedang membantunya. Tanpa berpikir panjang Barra naik ke atas dan menghajar siapapun yang berani menghalaingi jalannya untuk ke atas.
“Sial!! Lepaskan aku, jangan.. Jangan berani kamu melakukannya padaku!!”, teriak Chaca yang merasakan sakit di tubuhnya,Ryan melepas jas yang dikenakan Chaca dan mulai membuka satu persatu kancing baju milik Chaca.
BUUKKK!!
Tak mampu menyerang, Chaca menggunakan kepalanya dan membenturkannya pada kepala milik Ryan dan membuat kedua kepala mereka terasa sangat sakit.
__ADS_1
“Arrgghhh.. Diamlah!!”, teriak Ryan kesakitan sambil memegangi kepalanya. Ia kembali mendekat dan ******* bahkan menghisap kulit leher Chaca dan kembali mucul bercak merah dibeberapa titik.
“Wahh.. Lihatlah betapa cantiknya dirimu dengan tanda merah yang mengiasi leher indahmu. Seharusnya ku lakukan ini sejak dahulu”, seru Ryan melihat Chaca yang terlihat kelelahan dan sedikit kesakitan akibat ualnya, kini beberapa kancing baju Chaca telah terlepas bahkan hampir seluruhnya terlepas.
BUUKK!!
Sebuah pukulan berhasil mengenai Ryan disaat ia sedang memandangi tuuh indah dengan hiasan bercak merah pada lehernya.
“Arrgghh.. Siapa lagi yang berani menggangguku!!”, teriak Ryan dan membalikkan tubuhnya. Ia melihat sosok Barra yang berdiri di hadapannya dengan raut wajah yang tidak bersahabat. Sambil menggertakkan giginya Barra kembali memukuli Ryan tanpa ampun hingga wajahnya lebam dan darah keluar dari mulut juga hidungnya.
“Sudah ku katakan jangan pernah menyentuh wanitaku dasar keparat!!”, teriak Barra yang penuh dengan emosi. Tak ada yang bisa menghentikan aksinya dalam menghajar Ryan, hasrat ingin membunuh dari dalam diri Barra terasa sangat kuat dari setiap hantaman yang ia berikan pada Ryan.
“Haha.. Lihatlah dia, bukankah dia sangat menarik? Aku berani bertaruh bahwa kamu tak pernah melakukan ini pada Chaca bukan? Lihatlah, aku yang pertama.. Hah.. Hah...” seru Ryan dengan sedikit menghina Barra membuat Barra semakin ingin menghajar bahkan menghabisinya.
“Hah!!.. Hah!!.. Barra!!”, panggil Chaca dengan suara yang cukup pelan namun masih terdengar oleh Barra.
Barra yang berhasil menghajar Ryan hingga tak berdaya menghentikan aksinya ketika ia mendengar suara dari wanita yang sangat dicintainya itu memanggil namanya.
“Tolong.. Aku.. Aku lelah”, ucap Chaca yang terihat sangat tak berdaya. Barra meninggalkan Ryan begitu saja setelah memastikannya tak sadarkan diri dan membebaskan Chaca. Melihat bercak merah yang ada pada leher Chaca membuat Barra sangat marah, ia memeluk Chaca erat erat hingga tangannya bergetar.
“Maafkan aku datang terlambat”, bisik Barra pada Chaca yang semakin melemah.
__ADS_1
Segera Barra mengambil jas milik Chaca dan mmbantu mengenakannya sambil perlahan menuntun Chaca turun kebawah. Perasaan kesal dan amarah masih menguasai dirinya namun disisi lain ia juga sangat takut kalau kalau terjadi sesuatu yang buruk atas Chaca.