Kesempatan

Kesempatan
BAB 46 | Otakku Lebih Baik dari Tubuhmu


__ADS_3

“Ini sudah yang kedua kalinya Pak Yohan. Jadi, bagaimana?”


Tanya Gina yang sedang berada dalam kamar hotel bersama Pak Yohan, Pemilik dari PT Cintra Sentosa Abadi, salah satu perusahaan yang menjadi incaran beberapa orang, salah satunya keluarga Gina dan juga Chaca. Kedua kalinya sudah Gina menemani Pak Yohan bermalam di hotel, merelakan tubuhnya hanya untuk mendapatkan hal yang terlihat tak mungkin untuk didapatkan.


“Apa yang terjadi jika ku jual perusahaanku pada keluargamu? Apakah kalian bisa menjamin semuanya?”, tanya Pak Yohan sambil memakai pakaiannya.


“Mengapa anda harus memikirkannya? Jual saja perusahaan anda pada kelaurga saya, tak perlu memikirkan hal itu. Semuanya akan menjadi tanggung jawab papa, percayalah semua akan baik baik saja”, rayu Gina mendekati Pak Yohan dan memeluknya dari belakang dengan sangat mesrah.


“Jika bukan karena menjadi pemimpin perusahaan aku takkan mau melakukannya dengan pria tua seperti ini. Lebih baik aku menghabiskan malamku bersama Ryan”, gumam Gina dalam hatinya. Pak Yohan meregangkan pelukan Gina dan memakai kemjanya yang jatuh di lantai lalu meninggalkan Gina setelah apa yang mereka berdua lakukan.


“Satu minggu lagi, datanglah ke perusahaan. Hanya kamu seorang”, ucap Pak Yohan lalu melangkahkan kakinya keluar dari hotel meninggalkan Gina sendiri, sambil tersenyum Pak Yohan berjalan terus kedepan.


“Dasar gadis bodoh. Untuk apa ku jual perusahaanku pada keluarganya? Namun permainannya sangat bagus sekali hari ini. Aku puas!!”, seru Pak Yohan sambil menyeringai dan merasakan tubuhnya segar.


Hari ini berlalu dengan begitu cepat. Chaca beristirahat di kamarnya sedangkan Shena bersama dengan Jo. Besok genap satu bulan Chaca berada di dimensi yang berbeda, hanya tersisa dua buan lagi baginya untuk menyelesaikan apa yang ia mulai mulanya. Memperkuat perusahaan dan memperlengkapi dirinya sendiri adalah yang terpenting baginya saat ini. Ia sudah tak terlalu memusingkan tentang kelima Dewan Direksi yang sudah tertinggal jauh dibelakangnya, ia juga memastikan bahwa posisi Pak Umar sebagai Direktur Utama takkan terganggu oleh mereka berlima.

__ADS_1


“Tak ada lagi yang harus ku risaukan. Pastilah yang membakar pabrik adalah kelima Dewan Direksi, kini mereka takkan berani berbuat yang macam macam selama aku masih disini” gumamnya dalam hati sambil mengobati luka yang ada di seluruh tubuhnya lalu beristirahat karena esok hari ia akan menemui Pak Yohan untuk bersama sama menandatangani sebuah kontrak.


...****************...


Berjalan menyusuri koridor PT Citra Sentosa Abadi, Chaca ditemani oleh Shena yang berada di sampingnya dengan membawa koper berisikan uang tunai dan juga kontrak yang harus ditandatangai. Tanpa adaa kerguan dalam diri Chaca bahwa mungkin Pak Yohan berubah pikirannya, ia berjalan lurus kedepan tanpa menghiraukuan orang orang di sekelilingnya.


Pintu ruangan Pak Yohan terbuka lebar, salah satu sekertarisnya mengisyaratkan mereka untuk masuk kedalam karena Pak Yohan telah menunggu kedatangan mereka sejak tadi. Chaca dan Shena melangkah masuk ke dalam lalu duduk berhadap hadapan dengan Pak Yohan, pelilik dari PT Citra Sentosa Abadi.


“Jadi bagaimana? Apa anda membawa kontrak yang harus saya tanda tangani?”, tanya Pak Yohan pada Chaca yang terlihat sangat bersemangat dan tampak senang. Chaca mengisyaratkan Shena untuk membuka koper yang berisikan sebuah kontrak dan juga uang tunai yang sangat banyak jumlahnya. Sama seperti Chaca, Pak Yohan menyuruh sekertarisnya untuk membawakan surat kontrak yang akan ditandatangani oleh Chaca saat ini juga.


Segera mereka berdua menanda tangani kontrak itu secara bergantian dan Chaca resmi menjadi pemegang saham terbesar di PT Citra Sentosa Abadi.


“Namun, karena saya adalah pemegang saham terbesar saat ini, maka saya memiliki hak atas Perusahaan ini”, tambahnya yang membuat Pak Yohan menunjukkan ekspresi wajah yang berbeda dari sebelumnya.


“Maksud anda? Saya harus tunduk pada seluruh perintah anda?”, tanya Pak Yohan segera setelah ia mendengar pernyataan Chaca yang tak mengenakkan.

__ADS_1


“Ah, tidak. Bukan begitu. Saya memiliki hak atas perusahaan ini dalam pengambilan keputusan, tentu anda megerti apa yang saya katakan. Sebagai pemegang saham terbesar saya tak ingin perusahaan turun, mungkin saya bisa usulkan beberapa program untuk stasiun televisi ini agar peminatnya kembali seperti dahulu. Saya memiliki hak unuk itu, tolong jangan salah paham”, seru Chaca menjelaskan maksudnya agar tak terjadi kesalah pahaman antara dirinya dan Pak Yohan selama mereka berdua bekerja sama. Penjelasan Chaca mendapat sebuah anggukkan dari Pak Yohan yang mengartikan dirinya mengerti dengan maksud baik Chaca pada Perusahaannya.


“Saya mengerti. Anda yang masih muda tentu memiliki segudang ide kreatif yang pasti dapat diterima di semua kalangan. Sepertinya keputusan saya untuk menjualnya pada anda bukanlah sebuah kesalahan”, sahut Pak Yohan dengan senyumannya.


Kini ia menang dari Gina, persaingan antara dirinya dan Gina bukanlah sebuah masalah besar yang harus ia takuti.


“Tak terbayangkan bagaimana kesalnya Gina ketika ia mengetahui bahwa anda yang pada akhirnya memiliki kendali atas Perusahaan ini”, ucap Shena yang berjalan di samping Chaca.


“Dia menyerahkan tubuhnya namun tak mendapati apapun, sungguh malang nasibnya”, balas Chaca sambil mempercepat jalannya karena waktu sangat berharga baginya. Dimulai dari sini Chaca menghubungi beberapa koleganya yang berada di Amerika dan juga Korea yang juga memiliki stasiun televisi untuk bekerja sama dengannya dalam menyiarkan progam progam acara untuk ditayangkan di stasiun televisinya secepat mungkin. Pergerakan Chaca yang begitu cepat membuatnya mampu melangkah lebih jauh dari yang lainnya. Hanya dalam waktu satu minggu, semua acara itu sudah tayang di stasiun televisinya, yang membuat rating meningkat tajam.


“Apa? Tak mungkin. Pria tua itu telah berjanji padaku untuk menjual sahamnya pada papa. Minggu lalu dia mengatakan hak itu pada Gina, paman!!”, ucap Gina dengan kesal pada pamannya yang sedang duduk dihadapannya sambil menyeruput secangkir teh hangat di ruang kerjanya.


Pak Karto hanya diam saja melihat keponakannya itu mengamuk di ruangannya. Sedikit kecewa karena Gina tak bisa membuat Pak Yohan menjual perusahaannya pada ayah Gina, namun yang membuatnya terkejut adalah Chaca saat ini menjadi pemegang saham terbesar di PT Citra Sentosa Abadi.


“Sekali lagi kamu dikalahkan oleh Chaca”, ucap Pak Karto yang berhasil membuat Gina semakin kesal dibuatnya.

__ADS_1


“Gina tak pernah menyangka jika Chaca juga mengincar perusahaan yang hampir bangkrut itu, paman!!”, geramnya karena Pak Karto seperti merendahkannya.


“Perjanjian adalah perjanjian, kamu tak bisa membawakan ayahmu PT Citra Sentosa Abadi maka Paman pun tak bisa memberikan apa yang kamu mau. Sebelum kamu berhasil mengalahkan Chaca, kamu akan selalu berada dipaling bawah Gina, camkan itu!!”, seru Pak Karto yang membuat Gina semakin marah dan benci pada Chaca.


__ADS_2